(Sumber : www.radarhijau.com)

Gerakan Zero Waste untuk Bumi Lebih Sehat

Horizon

Oleh: Nadya Khennis Rozana

Mahasiswa PPS UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Permasalahan sampah plastik menjadi isu yang tengah ramai diperbincangkan. Masalah ini menyangkut kehidupan seluruh makhluk hidup saat ini dan nasib generasi yang akan datang. Dampak buruk yang ditimbulkan sampah plastik menjadi salah satu masalah utama bagi kerusakan lingkungan bumi. Masyarakat terkadang lupa bahwa baik lautan mapun sungai sudah tercemar karena miliaran ton tumpukan sampah yang mereka hasilkan tidak mudah terurai. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) telah meluap dan tidak dapat menampung sampah lebih banyak lagi. 

  

Pada tahun 2017, ada113 orang yang menjadi korban akibat longsor tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di pinggiran Addis Ababa, Ethiopia. Longsor sampah juga pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2005 tepatnya berada di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Sebanyak 143 orang terkubur dalam longsor sampah dan tidak kurang dari 86 rumah lenyap ditelan sampah. Studi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa hanya 7 % sampah di Indonesia yang dapat dikompos dan didaur ulang, 69 % sampah hanya ditimbun di TPA dan produksi sampah harian bisa sampai ratusan ribu ton.

  

Menyadari sistem pengolahan sampah di Indonesia yang belum maksimal dan gaya hidup modern dan konsumtif yang destruktif terhadap alam, maka sudah saatnya masyarakat segera hijrah ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan yang dikenal dengan istilah Zero Waste Lifestyle. Zero Waste atau bebas sampah merupakan filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus sumber daya sehingga produk-produk dapat digunakan kembali. Zero Waste juga soal menjauhi single use plastic atau plastik sekali pakai. Gaya hidup ini menantang masyarakat untuk mengevaluasi dan melihat bagaimana sesuatu yang mereka konsumsi bisa berdampak negatif terhadap lingkungan. Kenyamanan dalam bentuk produk murah, material yang tidak dapat didaur ulang semakin merusak kesehatan bumi dan kehidupan manusia serta spesies hewan di seluruh dunia.

  

Bea Johnson dari Zero Waste Home mencetuskan prinsip 6R yakni “Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle. Rot” atau di dalam bahasa Indonesia “Menolak, Mengurangi, Menggunakan Kembali, Daur Ulang, Membusukkan”. Hal ini dapat menjadi pegangan utuk mengarah pada gaya hidup tanpa limbah serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana. Terdapat 5 alasan mengapa masyarakat perlu menerapkan gaya hidup nol sampah ini:

  

Pertama, gaya hidup Zero Waste membuat masyarakat lebih sehat. Dengan ini masyarakat dapat melihat bagaimana sesuatu yang mereka konsumsi dapat berdampak terhadap bumi. Misalnya mengurangi makanan siap saji dengan memasak sendiri. Kedua, Zero Waste membuat masyarakat lebih hemat dan bijak dalam berbelanja. Masyarakat bisa membeli barang yang berkualitas baik dalam keadaan bekas dengan harga yang lebih murah, dibandingkan harus membeli barang baru dengan kualitas yang sama dan harga yang lebih mahal. Ketiga, gaya hidup ini juga mendorong masyarakat lebih kreatif dan belajar hal baru. Masyarakat bisa menggunakan barang yang ada dengan mendaur ulangnya menjadi barang yang fungsional. Misalnya baju bekas yang tidak terpakai lalu diubah menjadi tas belanja atau barang bermanfaat lainnya. Keempat, Zero Waste juga masyarakat lebih peduli dengan lingkungan. Dari data Plastic Solutions Fund dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara kedua terbanyak yang membuang plastik ke laut. Padahal plastik membutuhkan waktu 400 tahun untuk terurai. Selama belum terurai, plastik akan hancur menjadi partikel kecil (mikroplastik) dan mencemari air dan berbagai biota laut. Kelima, gaya hidup Zero Waste menjadikan masyarakat lebih peduli dengan diri sendiri dengan belajar melakukan apa yang baik untuk planet bumi.

  

Dengan menerapkan Zero Waste, masyarakat telah berpartisipasi dalam upaya mengurangi dampak pemanasan global karena tidak banyak membeli makanan cepat saji. Menurut EPA, Badan Perlindungan Lingkungan dari Amerika Serikat, makanan cepat saji berkontribusi terhadap 42 persen total emisi gas rumah kaca di dunia. Swedia adalah salah satu contoh negara yang masyarakatnya telah sukses menerapkan Zero Wate Lifestyle. Sejak dekade 90-an, budaya mendaur ulang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Swedia. Berkat hal ini, tahun 2014 hanya 1 persen dari seluruh sampah dan limbah di Swedia yang sampai pada Tempat Pembuangan Akhir. Sedangkan sisanya telah masuk dalam proses 3R yakni reduce, reuse dan recycle.

  

Menerapkan Zero Waste secara langsung memberikan dukungan terhadap Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Nasional pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga. Berdasrkan Jakstranas, pemerintah menetapkan target sebesar 30 persen dalam mengurangi sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga, lalu 70 persen dalam penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga pada tahun 2025. Dengan mempraktikan gaya hidup Zero Waste, masyarakat telah mendukung dan mengapresiasi alam semesta yang sudah memberikan banyak kebaikan. Mulai dari individu, gerakan komunal hingga mendorong perubahan kebijakan, masyarakat harus yakin dengan masa depan generasi muda mendatang yang ramah lingkungan, bebas limbah dan tidak adanya eksploitasi alam dengan cara destruktif.