(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Halal Bihalal dan Reunian: Menjadi Tua Bahagia

Horizon

Persahabatan tidak mengenal usia tua. Artinya bahwa persahabatan yang baik dan bermanfaat adalah persahabatan yang terus berlangsung sampai diujung akhir kehidupan dan dirasakan oleh masing-masing individu memiliki manfaat. Dan di antara manfaat itu adalah munculnya kebahagiaan. Ada senyuman merekah dan tawa menyenangkan.  Itulah yang dirasakan oleh sahabat-sahabat saya, Alumni PGA tahun 1977. Usianya nyaris sama. Yang  jelas sudah di atas 60 tahun. Yang PNS tentu sudah pensiun dan yang usahawan juga sudah sebagian diteruskan oleh anak-anaknya. 

  

Acara reunian dan halal bihalal ini diselenggarakan di rumah sahabat saya, Suhardi, di Desa Siwalan, Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban. Sebenarnya acara ini diselenggarakan beberapa waktu yang lalu, tetapi karena ada udzur, maka dilaksanakan sekarang. Kita semua bersyukur sebab banyak di antara sahabat kita yang datang di acara ini. Meskipun usianya sudah tidak bisa lagi disebut muda, tetapi wajah kegembiraan itu masih terhampar pada  masing-masing individu. Rona kegembiraan itu terlihat saat kita masing-masing saling menyapa. Di antara kita memang terjalin persahabatan melalui WAG dan juga pertemuan-pertemuan yang memang dilakukan secara bersama-sama. Mereka sering ngopi bareng. 

  

Di Indonesia, halal bi halal memiliki sejarah panjang. Menurut penelusuran Muhammad Zuanda Zara, bahwa halal bi halal ternyata jauh berakar di zaman kolonial. Ada bukti pada  Koran Soeara Moehammadiyah,  1 Syawal 1344, atau tahun 1920 sudah disebut adanya acara “alal bihalal”.  Artinya,  halal bihalal sudah dilakukan pada zaman KH. Ahmad Dahlan. Di Soeara Mohammadiyah ini disebut sebagai “Alal Bihalal”. (Historia, 23 Mei 2020). Halal bi halal memang khas Indonesia. Tidak ada acara halal bil halal yang dikemas dalam acara temu muka dan saling bersalam-salaman dari rumah ke rumah kecuali di Indonesia. Di Arab Saudi tidak dikenal acara halal bihalal dalam nuansa kekeluaragaan, kekerabatan dan persahabatan. Islam di Indonesia memang memiliki kekhasan yang sungguh berbeda dalam ekspressi keberagamaannya. Memang di Indonesia banyak tradisi Islam yang khas, dan menjadi kebanggan umat Islam Indonesia. Salah satu di antaranya adalah acara halal bi halal ini.

  

Acara yang dihelat oleh sahabat-sahabat saya ini memang dimaksudkan sebagai halal bi halal dan sekaligus reunian. Acara yang  biasa dilakukan oleh para alumni lembaga pendidikan. Kita yang berkumpul itu adalah alumni PGA Tuban tahun 1977. Di antara yang hadir adalah: Suhardi, Sami’an, Kasturi, Mukahar, Mukhid, Sofwan, Imam Suyuthi, Poniran, Sholahuddin, Samsul Hadi, Waras Maghfur, Makmun, Nur Ali, Muttaqin, Kasniti, Lathifah, Siti Aisyah, Infatini, Marhamah, Alfiyah. Di antara sahabat-sahabat ini juga ada yang datang dengan suami atau isterinya. Sayangnya beberapa orang yang aktif di WAG tidak hadir karena udzur, misalnya Ismail, Muslih, Nashir, Suryati dan lain-lain. Dari sahabat PGA ini, sejumlah 12 orang  sudah menghadap ke hadirat ilahi Rabb, Di antaranya adalah: Warpin, Zulaikhah, Sriyono, Nikmah, Marfuatun, Murtadlo, Mas’ud, Turmudzi, Umi Fathimah, dan  Abdul Salam.

  

Saya ditunjuk oleh Mas Imam untuk  memberikan ceramah. Saya memang sudah menduga bahwa pasti saya akan ditunjuk untuk berceramah di hadapan sahabat-sahabat saya, sekedar ucapan selamat bertemu dan mengingat masa lalu. Maklumlah orang yang sudah usia di atas 60 tahun sudah tidak punya masa depan, yang ada hanyalah masa lalu. Itu juga yang saya sampaikan kepada sahabat-sahabat saya di saat bertemu di acara reunian. Di dalam acara ini saya sampaikan empat hal, yaitu: Pertama, reunian ini tentu adalah media untuk saling mengingat masa lalu sewaktu kita sama-sama sekolah di PGA. Kita masih ingat dan bisa menertawakan tentang kelakuan kita di masa lalu. Kita nonton film bareng-bareng yang ujungnya dipanggil Wali Kelas. Memang ada kawan kita yang ahli demo, ahli pacaran, ada yang ahli trek-trekan sepeda motor, ada yang trendi gaya pakaiannya,  yang disebut mbois, dan ada yang alim seperti kyai. Pokoknya komplit. Saya tidak sebutkan Namanya, khawatir mengganggu privasi dan ujung-ujungnya dimarahi isterinya. Sungguh masa sekolah adalah masa yang membahagiakan dan tanpa beban. Masa itu kita tidak memikirkan masa depan mau seperti apa. Pagi berangkat, belajar dan pulang atau klayapan. 

  

Kedua, kita bersyukur bisa menjadi siswa PGA, sekolah calon guru agama. Saya yakin orang tua kita pasti Bahagia di alam kubur sana, sebab kita termasuk orang yang suka kirim fatihah kepada orang tua kita. Untunglah kita menjadi siswa PGA sehingga kita diajari hadits, Al Qur’an, Fiqih, akhlak dan lain-lain. Melalui pengajaran itu maka kita insyaallah bisa mengamalkannya. Saya dulu pernah masuk SMEA selama sebulan, tetapi oleh Mbah Saya disuruh pindah ke PGA. Untunglah dan ini garis takdir Allah Swt untuk saya. Akhirnya saya bertemu kawan-kawan yang alim-alim dan guru yang juga sangat alim-alim. 

  

Ketiga, kita juga tetap menjadi orang yang bermanfaat. Saya kira menjadi guru atau menjadi pengelola organisasi adalah jabatan yang sangat mulia. Meskipun sudah pensiun dari PNS atau sudah menjadi orang dewasa senior, tetapi kita tetap mengabdikan yang kita miliki untuk umat, seperti Cak Imam Suyuthi yang masih mengabdi menjadi pengurus DMI Kabupaten Tuban. Ada juga yang mengabdi untuk lembaga Pendidikan, dan sebagainya. Ini menandakan bahwa kita masih menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah ilmu yang bermanfaat itu tidak akan habis pahalanya. Lagi pula kita juga bisa mengantarkan anak-anak kita untuk berpendidikan yang baik, banyak yang berpendidikan Strata I atau bahkan strata II. Suatu kebahagiaan melihat anak-anak kita pada sukses di dalam kehidupan. 

  

Keempat, kita juga dicukupkan rezeki oleh Allah SWT. Ada banyak mobil di sini. Ada banyak sepeda motor yang bagus. Apapan mobilnya dan apapun sepeda motornya kita harus bersyukur. Saya dikirimi pesan melalui WAG bahwa: “ada seorang yang sukses karena mobilnya bermerek Lamborghini, tetapi dia mengeluh karena kawannya memiliki pesawat pribadi. Lalu datang orang lain membawa mobil jelek, orang ini juga mengeluh karena ada orang yang memiliki Lamborghini, datang lagi seorang yang mengejar bus karena tidak punya mobil. Orang itu berkata: “kenapa marah dengan mobilmu, seharusnya bersyukur dari pada saya yang lari-lari tiap hari agar tidak ketinggalan naik bus”. Datang lagi orang yang naik sepeda pancal dan dia harus bekerja dengan naik sepeda sejauh  20 mil. Dia juga mengeluh karena harus naik sepeda, lalu datang seorang perempuan paroh baya dengan kursi roda, lalu menyatakan: “kamu beruntung bisa naik sepeda, saya ini harus naik kursi roda”. Akhir cerita bahwa kebahagiaan itu ada pada  diri kita dengan bersyukur atas pemberian Tuhan apa adanya kepada kita. 

  

Saya melihat kawan-kawan ini bahagia. Jika saya membaca pesan di WAG, maka saya baca kawan-kawan ini ngopi sana-sini. Bisa ngopi sampai di Grabagan,  Soko, dan sebagainya. Ternyata intinya adalah bisa melepaskan segala keruwetan dan bisa tertawa bersama kawan-kawan. Inilah inti kebahagiaan. Jadi meskipun tua,  tetapi tetap merasakan kebahagiaan. Menjadi tua tetapi bahagia jauh lebih nikmat dari pada usia muda tetapi bermasalah.

  

Kebahagiaan itu ternyata tidak harus makan dan minum di restoran mahal, tetapi dengan ngopi dan makan seharga di bawah Rp10.000,- ternyata nikmatnya luar biasa. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.