(Sumber : Indoprogress.com)

Kelas Menengah, Kesadaran Intelektual dan Kualitas Masyarakat Indonesia

Horizon

Oleh: Nur Ainy*

  

Viva Budi Kusnandar dalam katadata.com 14 September 2022 menuliskan data dari Bank Dunia tentang laporannya bertajuk “Aspiring Indonesia – Expanding the Middle Class” menyebutkan hampir separuh masyarakat Indonesia pada tahun 2020 menuju kelas menengah. Kelas yang memiliki kategori jumlah pengeluaran Rp 532.000 1,2 juta per bulan ini jumlahnya mencapai 114,7 juta orang.  

  

Seiring dengan meningkatnya kondisi ekonomi maka EMC ini akan naik tingkat menjadi masyarakat kelas menengah yang  diperkirakan pada tahun 2023 jumlahnya mencapai 145 juta jiwa.  Mereka yang masuk dalam kategori ini adalah yang memiliki pengeluaran Rp 1,2 juta-6 juta per bulan.

  

Pada kelas menengah yang sudah berada pada tingkat rumah tangga mapan tidak lagi membutuhkan pengeluaran yang besar untuk biaya sekolah anak serta angsuran rumah dan kendaraan. Sehingga mereka  mempunyai potensi memiliki  anggaran yang belum teralokasikan. Hal ini bisa dilihat dengan berkembang  bisnis pleasure yaitu traveling dan kuliner serta bermunculan komunitas sosialita yang melakukan kegiatan yang bersifat hobbies.

  

Dengan kemapanan finansial yang dimiliki semestinya kelas menengah bisa berperan dalam peningkatan kualitas manusia Indonesia yang salah satu indikatornya  adalah naiknya tingkat pendidikan. Karena salah satu alasan utama orang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah faktor biaya.

  


Baca Juga : Grey/Apri dalam Olimpiade Tokyo: Gelora Nasionalisme dan Persahabatan

Namun saat ini standar pendidikan tertinggi masyarakat di Indonesia masih pada  jenjang S1. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ada hubungan yang significant antara naiknya kelas ekonomi menengah dengan naiknya tingkat pendidikan di Indonesia. Mereka belum memiliki kesadaran intelektual untuk peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan formal.

  

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat, hanya 822,47 ribu jiwa atau 0,3% penduduk Indonesia yang berpendidikan hingga jenjang S2 pada Juni 2021. Sebagian besar  orang yang  melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 didominasi oleh motif ekonomi yaitu  memperbesar  peluang dalam peningkatan karier.

  

Melihat dari status pekerjaan pada kelas menengah salah satu kelompok yang mempunyai peluang untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi adalah yang perempuan yang berstatus ibu rumah tangga. Mereka mempunyai banyak waktu luang karena anak sudah tumbuh besar dan pekerjaan tehnis domestic disupport oleh tehnologi maupun tenaga asisten rumah tangga,

  

Namun culture pathriakhi di Indonesia belum mendukung terciptanya athmosphere ini. Padahal pembagian peran dalam rumah tangga tugas pendidikan pada umumnya diamanahkan kepada ibu (perempuan). Seyogyanya apabila perempuan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan  ikut berkontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia.  Masyarakat cerdas di era digital yang tidak mudah termakan hoax dan memiliki kemampuan literasi media.

  

Menjadi PR bersama untuk menciptakan  ekosistem kesadaran peningkatan standar pendidikan tertinggi dari S1 menuju jenjang S2. Terutama untuk kaum perempuan supaya berani memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan,  keluarga yang memiliki kesadaran untuk memberi dukungan, dan komunitas yang mengkampanyekan pentingnya peran perempuan dalam peningkatan kualitas sdm Indonesia. Sehingga tidak menjadi alasan yang utopis melanjutkan pendidikan S2 ‘hanya’ karena ingin peningkatan  kapasitas diri dan bukan karena motif ekonomi. Karena sejatinya pendidikan akan menjaga akal sehat sebagai salah satu ekspresi beragama sebagai maqasid syariah .

  

*Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya