Ketika Wajah Keseharian Itu Tumbang di Jalanan
HorizonEva Putriya Hasanah
Setiap hari kita bersinggungan dengan mereka. Wajah-wajah yang mungkin tak pernah kita kenal namanya, namun begitu familiar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka ada di gawai kita, muncul sebagai ikon motor kecil yang bergerak menuju titik penjemputan. Mereka datang menembus hujan deras hanya untuk memastikan kita bisa pulang dengan selamat. Mereka hadir di tengah malam, ketika transportasi lain belum tersedia, sekadar untuk mengantarkan kita sampai ke rumah. Mereka juga mengetuk pintu rumah, menyerahkan bungkusan makanan, atau bahkan membawa obat-obatan yang diperlukan dalam keadaan darurat.
Mereka adalah para driver ojek online. Orang-orang yang menjadi Saksi hidup denyut nadi kota, dari jalan protokol hingga gang sempit yang jarang menyentuh kendaraan umum. Tanpa mereka, ritme kota akan tersendat. Mereka yang membuat perut lapar bisa terisi, orang sakit bisa segera ditolong, dan mobilitas masyarakat bisa tetap berjalan meski kemacetan semakin parah.
Namun, dibalik semua itu, sering kali mereka hanya dipandang sebagai bagian dari layanan digital. Mereka terlihat sebagai ikon kecil dalam peta aplikasi, hanya kurir yang dapat dihubungi dalam sekali klik. Jarang kita benar-benar memandang mereka sebagai manusia yang penuh cerita: ayah yang harus pulang membawa nafkah, anak yang membantu orang tua, atau suami yang harus menyiapkan biaya sekolah untuk anaknya. Dan jangan lupakan para ibu—mereka yang mengemudi dengan penuh keberanian, membawa harapan di balik setiap pesanan yang diantarkan. Mereka dekat sekali dengan kita, namun perlindungan atas hidup mereka terasa jauh dari jangkauan.
Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan Kamis (28/8/2025) malam menjadi pengingat paling getir dari kenyataan itu. Seorang driver ojek online, yang hari itu mungkin hanya ingin mencari rezeki untuk keluarganya, justru kehilangan nyawanya di tengah-tengah kematian. Bukan karena ia berorasi, bukan karena ia memimpin massa, melainkan karena sebuah kendaraan taktis (Rantis) Brimob melindasnya di kawasan Jakarta Pusat hingga meninggal dunia.
Kabar itu menyayat hati banyak orang. Sebab kita tahu, di rumahnya ada yang menunggu. Ada keluarga yang berharap ia kembali membawakan cerita atau sekadar senyum lelah. Namun yang pulang bukanlah dirinya, melainkan kabar duka yang akan mengubah hidup keluarganya selamanya. Affan bukan sekedar korban kecelakaan. Ia adalah simbol betapa rapuhnya perlindungan terhadap rakyat kecil di negeri ini.
Tragedi ini menampilkan kontras yang begitu nyata. Negara sering tetap berjanji bahwa rakyat adalah pemilik sah dari republik ini, bahwa aparat bertugas menjaga keamanan rakyat. Namun, mengapa justru rakyat kecil yang paling sering menjadi korban? Affan, dan ribuan driver ojol lainnya, sejatinya adalah bagian vital dari kehidupan kota. Tanpa mereka, keseharian kita akan jauh lebih sulit. Tetapi ketika keselamatan mereka terenggut, kita seolah melihat bahwa keberadaan mereka tidak benar-benar terhitung.
Kritik mungkin terdengar keras, tapi sejatinya bisa lahir dari empati. Kehilangan seorang driver ojol bukan hanya sekedar statistik, melainkan kehilangan manusia yang berarti banyak bagi keluarganya dan bagi kita yang pernah ditolong oleh keberadaannya. Negara seharusnya hadir untuk memastikan bahwa tidak ada rakyat kecil yang nyawanya melayang-layang di jalanan.
Pertanyaan pun menggantung, dan tak perlu disampaikan dengan amarah berapi-api. Cukup dengan kejujuran yang menyesakkan: “Jika mereka setiap hari membantu kita bertahan di kota ini saja tak aman di jalan, lalu siapa sebenarnya yang sedang dilindung di negara?”

