KH. Abdul Jabbar Adlan: Ahli Ilmu Keislaman yang Wara’i
HorizonPak Jabbar begitulah di masa lalu saya memanggilnya. Beliau adalah salah seorang guru saya yang memiliki kelebihan sangat mendalam terkait penguasaan ilmu-ilmu keislaman. Beliau sangat menguasai teks-teks Arab atau Kitab Kuning. Makanya beliau mengajar Ilmu Hadis, atau Ilmu Fikih bahkan juga mengajar ilmu tafsir. Bagi saya, beliau adalah tipe seorang sarjana yang komplit, karena menguasai rumpun ilmu agama dengan sangat mendalam dan mengajarkannya kepada para mahasiswanya dengan sangat baik.
Alumni Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel ini pernah mengambil program doktor ilmu sosial di Universitas Airlangga. Beliau seangkatan dengan Dekan FKIP Universitas jember, Prof. Dr. Bambang Soepeno. Pada waktu itu, Pak Jabbar sudah menggagas tentang fikih sosial. Bahkan berencana untuk menulis disertasi tentang fikih sosial, tetapi karena kesibukan beliau sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel, akhirnya harus mengikhlaskan berhenti kuliah. Jabatan beliau sebagai rektor IAIN yang diyakininya sebagai amanat negara dan umat harus diutamakan dari pada capaian prestasi diri sendiri.
Beliau memang bertugas pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Itulah sebabnya saya menjadi akrab dengan beliau semenjak masih mahasiswa. Saya sering menghadap beliau, di rumahnya di Wonokromo Surabaya. Ada banyak hal yang kami bicarakan mulai dari kegiatan perkuliahan sampai aktivitas organisasi. Maklumlah saya pada waktu mahasiswa menjadi aktivis PMII, sebagaimana beliau yang pernah menjadi aktivis PMII. Jika sudah di rumah beliau, kami bisa berjam-jam. Bahkan tidak jarang juga makan di rumahnya.
Selain sebagai akademisi yang hebat, beliau juga birokrat yang tuntas. Dimulai sebagai dosen Fakultas Dakwah, kemudian menjadi Wakil Dekan I Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, berlanjut sebagai Dekan Fakultas Dakwah, lalu menjadi Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel, dan akhirnya menjadi rektor IAIN Sunan Ampel. Sebuah jenjang karier birokrasi kampus yang merangkak dari bawah. Saya merasakan bahwa beliau adalah seorang birokrat yang tuntas dan berhasil mengembangkan IAIN Sunan Ampel ke dalam jenjang Lembaga Pendidikan yang disegani.
Beliau ini benar-benar seorang guru sejati. Beliau tidak hanya mengajar saya ketika kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, tetapi juga mengajari saya ketika saya menjadi dosen di Fakultas Dakwah. Mengajari saya tentang bagaimana menjadi dosen yang baik dan pembelajar yang baik. Pada saat beliau sudah bertugas di IAIN Sunan Ampel, baik sebagai Pembantu Rektor I maupun sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel, beliau tidak melupakan Fakultas Dakwah. Di sela-sela pekerjaan, beliau hadir di Fakultas untuk sekadar berbincang-bincang dengan kami. Beliau juga tidak melupakan untuk tetap mengajar di fakultas ini.
Beliau tidak hanya mengajar sewaktu masih hidup, tetapi lebih jauh dari itu. Saya masih merasa diajari, bahkan ketika beliau sudah wafat. Sebuah pengalaman spiritual yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya. Saya tidak mampu bercerita pengalaman spiritual ini biar menjadi milik saya sendiri saja. Saya merasakan bagaimana bimbingan beliau tidak hanya sebagai muridnya, akan tetapi dalam kehidupan saya. Saya sungguh merasakan beliau adalah guru spiritual saya yang tidak tergantikan.
Pada saat saya belum bisa melanjutkan studi ke jenjang strata dua, beliaulah yang mendorong saya untuk terus belajar. Saya teringat betul pada pagi hari ketika beliau datang ke kantor dan bertemu saya di parkiran, maka saya ditanya: “bagaimana sudah melanjutkan sekolah?”. Saya jawab dengan lugas: “ekonomi saya belum bagus Pak”. Kemudian beliau melanjutkan: “apa kalau sekolah lalu ekonominya akan juga jelek?” Pernyataan ini begitu membekas. Pada waktu itu saya memang telah pamit akan melanjutkan studi di Yogyakarta. Saya tes program pascasarjana di UIN Yogyakarta bersama Pak Halim Subahar IAIN Jember dan Pak Muhaimin (alm) IAIN Malang. Mereka berdua diterima dengan beasiswa, sedangkan saya diterima dengan biaya sendiri. Boleh memilih di Yogyakarta atau Jakarta. Saya putuskan tidak berangkat. Saya mau cari yang ada beasiswanya saja. Begitu pikiran saya. Pada saat itulah Beliau menasihati bahwa soal ekonomi itu urusan Allah SWT yang pasti tidak akan menyulitkan orang yang belajar.
Sebagai dosen ilmu fikih, beliau ahli dalam madzahib al arba’ah. Beliau sangat menguasai mazhab-mazhab dalam Islam. Saya juga teringat sewaktu beliau mengajar ilmu fikih dengan kitab gundul karya Imam Nawawi, “Riyadhus Shalihin” selalu saya yang dimintanya untuk membaca. Ada dua orang yang dimintanya membaca, yaitu saya dan Misbahul Arif. Saya sungguh keteteran untuk membaca kitab gundul ini. Akhirnya saya tersadar bahwa beliau mengajarkan untuk belajar lebih keras dalam pemahaman tentang ilmu fikih. Bahkan ketika beliau sudah wafat.
Beliau pula yang menginisiasi lahirnya Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Surabaya. Pada waktu itu, kebijakan Departemen Agama (Depag), bahwa ada lima fakultas induk, yaitu Fakultas Adab, Fakultas Dakwah, Fakultas Syariah dan Fakultas Ushuluddin menjadi Fakultas Induk yang berkedudukan di Surabaya, sedangkan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel yang berkedudukan di Malang menjadi fakultas induk. Fakultas-fakultas di berbagai daerah menjadi cabang IAIN Sunan Ampel. Di Surabaya tidak didirikan Fakultas Tarbiyah. Sampai suatu saat Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Bojonegoro akan ditutup, sebab Pemda tidak dapat menyediakan tanah untuk pembangunan kampus. Pada saat itulah Pak Jabbar bersama Pak Anwar Rosyid, Pak Masrani dan beberapa yang lain mendirikan Fakutas Tarbiyah di Surabaya. Tentu ada protes sebab Fakultas Tarbiyah itu Induknya tetap di Malang. Sampai kemudian terdapat kebijakan untuk menjadikan Fakultas-Fakultas di luar IAIN Sunan Ampel sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Mislanya STAIN Tulungagung, STAIN Ponorogo, STAIN Kediri, STAIN Jember dan STAIN Pamekasan.
Setelah tidak menjabat Rektor, beliau mengembangkan Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA) dan menjadi pengajar pada Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Cukir. Setiap hari Selasa, beliau memberikan pengajian kepada kaum tarekat. Dengan demikian, beliau tidak hanya piawai dalam dunia akademik yang teruji, tetapi juga piawai dalam memberikan wejangan kepada para murid tarekat. Suatu hal yang wajar, sebab beliau adalah putra KH. Adlan Ali, Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki jalur kepada KH. Muslih Mranggen. KH. Adlan dibaiat oleh Kiai Muslih bersama Kiai Muhdlor, Kiai Makki, dan beberapa yang lain.
Pak Jabbar lahir di Jombang pada 31 Desember 1939 dan wafat pada 12 November 2002 atau tepatnya tanggal 7 Ramadlan 1423 H. Saya teringat beliau meninggal di pagi hari. Sebelum subuh di Rumah Sakit Islam Surabaya. Saya mendapatkan cerita sebelum beliau meninggal terlebih dahulu bertanya kepada keluarganya: “apakah saya sudah membahagiakan kalian semua?” Maka kompak keluarganya menjawab: “sudah membahagiakan keluarga.” Sungguh satu tindakan yang sangat luar biasa, bahwa yang dilakukannya untuk keluarga selama ini merupakan bagian dari keinginan beliau untuk membahagiakan keluarganya.
Pak Jabbar menjadi Rektor dalam dua periode, pada tahun 1992-2000. Menjadi Pembantu Rektor IAIN Sunan Ampel pada 1987-1992 pada masa rector IAIN Sunan Ampel adalah Prof. Dr. Bisri Affandi, MA. Sebelumnya menjadi Dekan pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, tahun 1983-1987. Pada waktu itu, untuk menjadi rektor PTKIN mutlak kewenangan Menteri Agama. Tidak ada peran Senat Institut atau lainnya kecuali pengajuan usulan. Ketika beliau bisa menjadi rektor IAIN Sunan Ampel dalam dua periode tentu merupakan pengakuan Depag akan prestasi beliau dalam menjalankan amanah negara atau dalam memimpin IAIN Sunan Ampel.
Terima kasih Pak Jabbar atas segala bimbingan panjenengan. Saya meyakini bahwa kemajuan IAIN (kini UIN) Sunan Ampel tentu berkat upaya panjenengan kala memimpin IAIN Sunan Ampel di masa lalu. Lahu al fatihah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

