KOPI 2
HorizonOleh Zubairi alumni prodi Sosiologi UINSA
Dalam kesendirian, malam ini saya sangat menikmatinya, walaupun ini sudah terlalu larut malam. Dengan rasa kopi murni yang masih panas, ingatan saya mulai kembali ke petuah tadi siang bersama dengan beliau guru saya Prof. Nur Syam. M.Si, guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Siang itu, beliau menyampaikan rasa prihatin dengan isu yang menimpa organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang akhir-akhir ini menjadi "sajian hangat" diberbagai media.
Saya tidak mau menanggapi, apa yang terjadi dengan NU dan PKB yang sedikit "menghangat" saat ini! Begitulah kira-kira beliau memulai obrolan. Saya sangat yakin, beliau menyampaikan kalimat ini, karena beliau tahu kualitas saya yang sangat tidak mumpuni disegala bidang apalagi membahas isu politik yang terlalu jauh.
Sependek yang saya ketahui dari beliau, kepedulian terhadap anak-anak muda terutama kaum Nahdliyyin sangatlah besar, beliau mempunyai harapan dan mimpi untuk pemuda saat ini sebagai calon pemikir di masa depan, terutama kepeduliannya terhadap perkembangan pendidikan.
"Anak-anak muda NU yang kritis, pasti membaca situasi yang terjadi antara NU dan PKB yang sedang terjadi seperti sekarang ini. Kalau isu ini menjadi "konsumsi" negatif dikalangan mereka, dan pada akhirnya menyimpulkan yang harusnya bukanlah kesimpulan dan tindakan yang benar, lantas siapa yang akan merawat dan meneruskan perjuangan NU di masa yang akan datang?"
"Saya mendambakan orang-orang NU yang berkualitas, kualitas bersaing dengan orang-orang di luar NU, mumpuni dibidang keilmuannya masing-masing, memiliki keahlian memimpin, merawat dan membesarkan organisasi, dan semestinya ini yang harus dipikirkan oleh "orang tua" untuk "anak-anaknya" sebagai bekal "besok" yang akan menjadi penerus demi besarnya nama Nahdlatul Ulama."
" Kasihan dan malu sama beliau-beliau yang masih menjaga NU sampai detik ini. Kita jangan "disuguhi" dengan konflik yang justru pada akhirnya lahir penilaian negatif dari orang diluar kita."
Tanpa terasa, seketika saya mengambil air mineral yang ada didekat saya, sembari mengikuti nasehat yang keluar dari beliu, yang pada siang itu membuat saya terkasima dan seketika berpikir "sekelas beliau masih peduli dan perhatian agar NU tetap besar."
Ditengah isu yang terus berkembang, kini pemangku kebijakan ditubuh NU harus mengambil sikap tegas. Bagi orang yang tidak (mau) tahu politik dan perkembangan yang terjadi sebenarnya, akan muncul anggapan, bahwa apa yang dilakukan mereka adalah kepentingan pribadi yang tidak akan ada ujung dan manfaatnya, penilaian semacam ini justru akan mengkerdilkan organisasi besar ini secara umum.
Pada siang itu saya sangat merasakan getaran kalimat demi kalimat yang beliau lontarkan. Beliau adalah orang yang sangat tidak "bermimpi" kalau NU tidak memiliki dan mencetak orang-orang yang berkualitas lebih dibandingkan dengan orang-orang di luar NU.
Saya yang waktu itu hanya bisa mendengarkan seolah mendapat "tamparan halus" dari beliau. Semangat saya terlalu jauh, semangat muda yang harusnya tumbuh dan berkembang setidaknya bisa ditunjukkan sejak dini lebih-lebih bermanfaat bagi NU, agar tetap harum selamanya.

