(Sumber : Wikepedia)

Paus Fransiscus dan Pesan Perdamaian

Opini

Masyarakat Indonesia, yang beragama Katolik khususnya, tentu sangat bergembira karena kedatangan Paus Fransiscus yang hadir di Indonesia tepat pada waktunya. Saya kira tepat pada waktunya, sebab di Indonesia baru saja selesai melaksanakan perhelatan besar dalam Pilpres 2024 dan menjelang Pilkada serentak di Indonesia. Kedatangannya tentu merupakan tolok ukur dan kepastian bahwa di Indonesia memang negeri yang aman dan damai, rukun dan harmonis terutama dalam relasi antar umat beragama.

  

Paus Fransiscus adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia dan Negara Vatican. Paus Fransiscus  dinobatkan sebagai Paus ke 266 dalam perjalanan sejarah kepausan di dunia Katolik dan juga Vatican. Sebagaimana diketahui selain menjadi pemimpin tertinggi gereja se dunia, maka Paus juga pemimpin Negara Vatican sebuah negara di Italia yang memiliki otoritas khusus dalam kepemimpinan umat Katolik di dunia. Paus Fransiscus diangkat sebagai pemimpin tertinggi gereja pada 13 Maret  2013 menggantikan Paus Benedictus XVI. Ada yang menarik dari Paus Fransiscus adalah ahli kimia yang juga ahli teologi. Beliau berkebangsaan Argentina, lahir 17 Desember 1936 di Buenos Aires. Namanya adalah Jorge Mario Bergoglio yang semula adalah Uskup Agung di Buinos Aires Argentina.

   

Saya pernah hadir di Vatican dan bertemu dengan Wakil Paus, Kardinal Parolin, pada saat kunjungan di Vatican tahun 2018. Saya dan Perwakilan Majelis-Majelis Agama di Indonesia sempat bertemu dengan Kardinal Parolin di Kantornya. Pada waktu itu terdapat pertemuan para ekspatriat Indonesia di Eropa yang digagas oleh Duta Besar Indonesia di Italia untuk mengumpulkan para duta besar se Eropa dan juga para ekspatriat di sana. Pertemuan ini untuk mendiskusikan tentang bagaimana menjaga dan mengembangkan harmoni beragama dalam wadah NKRI. (Nur Syam, Perjalanan Etnografi Spiritual, 2020).

  

Paus Fransiscus berada di Indonesia sejak tanggal 3-6 September 2024. Berdasarkan agendanya adalah bertemu dengan tokoh-tokoh atau Uskup Agama Katolik di Indonesia dan juga bertemu lintas iman dan juga bertemu secara khusus dengan Presiden Jokowi. Beliau bertemu dengan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, di Masjid Istiqlal dan bahkan saling memberikan penghormatan, misalnya  Prof. Nasaruddin mencium kepala Paus, yang sebagaimana biasa tentu ada pro-kontra. Namun semua akhirnya memahami bahwa tindakan seperti itu tidak dianggap bermasalah secara teologis dan syariah karena basisnya adalah rasa dan tindakan saling menghormati. Bukan tindakan teologis yang membatalkan keimanan seseorang. Kunjungan Paus ke Masjid Istiqlal adalah peristiwa historic yang monumental dan memberikan pesan kepada dunia tentang bagaimana seharusnya membangun kerukunan antar umat beragama. Masjid Istiqlal yang dirancang oleh Friedriech Silaban yang Kristiani  juga merupakan peristiwa menarik dalam praktek beragama di Indonesia. 

  

Tekanan pernyataan misi Paus Fransiscus yang menarik tentu terkait dengan pentingnya menjaga kerukunan dan menghindari konflik social. Di dalam pidato singkatnya di depan Presiden Jokowi dinyatakan bahwa sekarang banyak konflik yang terjadi di dunia ini, hal ini dilakukan karena para pemimpin bangsa mengabaikan kerukunan dan harmoni. Yang juga menjadi penekanan di dalam pidatonya adalah mengenai keadilan social. Di dunia ini ada banyak pemimpin yang mengabaikan keadilan bagi semua. Padahal keadilan social adalah amanat kepemimpinan yang sangat mendasar. Diperlukan komitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip keadilan. Sebagai akibatnya, maka banyak umat manusia yang terpinggirkan. Jika suatu negara tidak terdapat sarana untuk menjalani kehidupan yang bermartabat berdasar atas perlindungan social dan keadilan sosial, maka di kehidupan masyarakat akan terjadi ketimpangan social yang akan dapat memicu konflik social yang parah”. 

  

Sementara itu Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa kehadiran Paus Fransiscus di Indonesia akan semakin memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara yang plural dan multicultural.  Perbedaan  bukan menjadi halangan untuk membangun harmoni dan kerukunan social. Kehadiran Paus Franciscus ke Indonesia untuk menunjukkan bahwa Indonesia dengan 17.000 pulau, yang memiliki budaya dan Bahasa yang sangat banyak ternyata bisa merajut kerukunan dan keharmonisan.

  

Sudah sangat banyak kunjungan para pemimpin dunia dari berbagai macam agama. Kunjungan Grand Syekh Al Azhar, Prof. Ahmad Thayib, dan bahkan juga pertemuan tokoh agama di Bali beberapa saat yang lalu yang digagas oleh NU, ternyata semua memberikan kesan bahwa Indonesia adalah contoh negara yang plural dan multicultural tetapi dapat menjaga dan mengembangkan harmoni dan kerukunan beragama yang sangat baik. Indonesia adalah contoh laboratorium kerukunan umat beragama. 

  

Meskipun relasi internal  umat beragama dan juga eksternal  umat beragama masih terdapat riak-riak kecil tetapi semuanya tidak mengoyak secara general atas kerukunan dan harmoni umat beragama. Jika kita perhatikan mengenai media social, seakan-akan Indonesia berada di ruang konfliktual yang hebat, namun ternyata hal tersebut sekedar bumbu penyedap relasi social yang telah terbina selama ini. Berbagai macam unggahan di media social tidak akan dapat mengoyak harmoni social yang telah menjadi fundamen dasar di dalam kehidupan umat beragama.

  

Sebagai bangsa Indonesia tentu kita merasa bangga, sebab negeri ini tetap terjaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapan kita tentu saja adalah masyarakat Indonesia tetap menjadi contoh keharmonisan dan kerukunan beragama. Inilah Indonesia kita.  Ke  depan bangsa Indonesia akan  tetap mengembangkan Keindonesiaan, keberagamaan dan kemoderenan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.