(Sumber : Universitas Raharja)

What is Science?

Kelas Metode Penelitian

Sesungguhnya mengkaji ilmu harus berangkat dari pertanyaan dasar apakah ilmu itu atau di dalam Bahasa Inggris dinyatakan sebagai What is science atau di dalam Bahasa Arab disebut ma huwa ilm? Pertanyaan ini penting bagi para mahasiswa program studi lanjut baik program magister maupun doctor. Dengan memahami tentang apakah ilmu itu, maka para mahasiswa akan memahami apa saja yang menjadi propertais atau ciri khas yang melekat pada konsep ilmu tersebut.

  

Sebagaimana diketahui bahwa setiap konsep pastilah mengandung ciri khas yang membedakannya dengan konsep lain. Makanya, ciri khas tersebut harus melazimi seluruh bangunan konsep, tentu saja termasuk konsep ilmu atau bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan. Kalau kita menyebut konsep ilmu atau science, maka jelaslah berbeda apa yang melazimi atau ciri khas apa saja yang ada di dalam ilmu atau science.

  

Saya mencoba untuk memberikan pencirian atas ilmu pengetahuan atau disebut ilmu saja sekurang-kurangnya dalam tiga hal, yaitu: pertama,  ilmu adalah seperangkat system pengetahuan. Disebut system sebab di dalam ilmu pasti didapatkan sub system yang saling terkait. Misalnya ilmu itu harus empiris, harus kumulatif, harus sistematis dan sebagainya. Jadi setiap ilmu harus merupakan akumulasi dari pengetahuan yang bercorak empiris yang tersistematisasikan dan merupakan akumulasi dari sejumlah pengetahuan yang teruji. 

  

Kedua, ilmu pengetahuan yang berciri khas riset atau penelitian. Ilmu harus berbasis riset. Di dalam hal ini dinyatakan bahwa “The only permanent of science is research atau “al asas al ilm huwa al bahst”. Tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak didasari oleh riset. Makanya riset menjadi persyaratan jika kita akan mengembangkan ilmu pengetahuan. Riset tekstual atau kontekstual, riset teks atau riset empiris menjadi hal mendasar di dalam ilmu pengetahuan. Riset teks misalnya tidak kalah penting dan menarik dibandingkan dengan riset empiris. Di Mc-Gill University Canada, misalnya banyak studi di dalam Islamic studies yang dilakukan dengan penelitian teks. Sama halnya di Al Azhar University, di King Abdul Azis University,  dan lainnya. Di Indonesia sebaliknya banyak kajian Islamic studies yang menggunakan metode penelitian empiris atau kontekstual. Itulah sebabnya di Indonesia, seorang doctor atau doctor of philosophy harus memahami metodologi penelitian. Wajib. Di Indonesia seorang doctor harus dan wajib memahami, misalnya metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif atau mixed methods. Jika tidak memahaminya maka dianggap doctor minus. Tetapi yang penting jangan menjadi doctor gedebog, yaitu doctor yang sekali menulis disertasi lalu mati secara akademis. Atau menjadi doctor copas. Copy paste tulisan orang. Di WAG banyak kita jumpai tulisan copas dari para doctor bahkan professor. Usahakan kita terus menulis sebagai bukti bahwa kita adalah doctor atau professor yang memiliki sejumlah pengetahuan mendasar, yang patut untuk dibaca dan direnungkan kaum akademisi.

  

Ketiga, propertais berikutnya adalah untuk menemukan kebenaran ilmiah yang bisa disebut sebagai teori. Jadi setiap pengembangan ilmu pengetahuan berarti pengembangan teori baru. Makanya sebuah disertasi akan dianggap sebagai out standing jika menghasilkan temuan baru atau novelty, baik tipologi maupun proposisi atau keduanya. Proposisi adalah hubungan antar dua atau lebih konsep yang memiliki rujukan empiris sedangkan teori adalah hubungan antara dua konsep atau lebih yang berhasil diuji secara empiris. Dengan demikian ilmu adalah seperangkat system pengetahuan berbasis  riset untuk mendapatkan kebenaran teoretik atau kebenaran ilmiah. 

  

Di dalam menemukan kebenaran ilmiah, maka dikenal ada empat madzab, yaitu pertama: kebenaran berbasis empiris sensual atau kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan, pengindraan  atau observasi. Jika sebuah fenomena dapat dibuktikan secara observasional, maka kebenaran itu berbasis pada empiris sensual. Begitu fanatiknya orang di dalam madzab ini, maka ada sebuah pernyatan “jika tidak bisa diukur atau diamati maka bukanlah ilmu pengetahuan”. Syarat ilmu dianggap absah jika bisa dukur dan diamati. Misalnya jika ada gagak di Surabaya berwarna hitam dan di Makasar juga berwarna hitam, maka dipastikan bahwa burung gagak berwarna hitam. Ini contoh yang sangat sederhana. Mereka ini bisa dikategorikan sebagai penganut paham materialisme. Mengadaptasi pemikiran Epikurisme atau Marxisme dengan pernyataan bahwa “akua ada, maka aku berpikir” ada dulu atau materi dan baru berpikir atau ide.

  

Kedua,  kebenaran berbasis empiris rasional. Akal kita membenarkannya. 2+2=4, 4+4=8, 9-0=9 itu disebut rasional karena berbasis pada dalil rasional. Mereka ini disebut bagian dari Cogito Cartesian, orang yang berpendapat  “saya berpikir maka saya ada”. Berpikir dulu lalu ada. Kebenaran ilmu akan dikenali melalui kebenaran rasio. Akal yang menentukan kebenaran rasio. Jika diketahui banyak orang yang berpandangan  bahwa Jokowi berhasil dalam memimpin Indonesia, maka dapat dinyatakan bahwa benar Jokowi membawa kemajuan Indonesia. jika banyak orang yang menyatakan bahwa Pendidikan dapat mengarahkan kepada kemampuan seseorang menjadi meningkat, maka dibenarkan bahwa Pendidikan memang membawa peningkatan kapasitas seseorang.

  

Ketiga,  kebenaran berbasis pada empiric etis. Di dalam kehidupan ini banyak orang yang menjadikan etika sebagai  pedoman untuk mengarungi kehidupan. jika kita hidup berpedoman pada etika maka kehidupan akan menjadi rukun dan damai. Etika yang disebut sebagai pedoman dalam membangun relasi social antar manusia dengan manusia atau masyarakat, maka kehidupan itu dipandu oleh etika dimaksud. Di Nagroe Darus Salam atau Provinsi Aceh, maka etika menjadi ukuran perilaku seseorang dalam relasi social. Etikanya menyatakan dilarang berkhalwat lelaki dan perempuan yang bukan muhrim, maka etika tersebut harus dipenuhi, jika kita tidak ingin bermasalah.

  

Keempat,  kebenaran berbasis empiris transcendental. Kebenaran yang didasari oleh dunia keyakinan. Kebenaran dapat dipahami dengan adanya keyakinan. Iman kepada Tuhan atau Allah SWT menjadi benar karena ada orang yang meyakininya. Di sinilah ilmu keislaman memperoleh justifikasi. Keberadaan hal-hal yang sangat gaib atau gaib dapat dibenarkan karena ada yang meyakininya. Kita bersyukur karena hidup di Indonesia, yang masyarakatnya sangat religious. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh World Statistics, maka Indonesia adalah negara paling religious dengan keyakinan atas Tuhan sebesar 97%, melebihi Turki yang sebesar 91%. Di Italia tinggal 50% dan negara lain di Eropa seperti Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Swedia dan lain-lain bahkan berada di bawah 30%. (periksa nursyamcentre.com tentang Kala Masyarakat Eropa semakin Atheis dan Kala Masyarakat Indonesia semakin religious). Jika melalui dzikir orang bisa menjadi tenang, maka secara transendental kita akan membenarkan bahwa dzikir membawa kepada ketenangan. Jika orang bersedekah kemudian membawa kepada kebahagiaan, maka hal tersebut merupakan kebenaran.

  

Ujung akhir atau produk ilmu adalah teori. Di dalam setiap cabang atau bahkan sub cabang ilmu pengetahuan, maka akan terdapat teori. Di dalam cabang atau sub cabang ilmu juga ada banyak teori, sesuai dengan hasil riset yang dilakukan oleh individu ilmuwan. Di dalam ilmu alam misalnya ada teori gravitasi dan teori-teori lainnya. Di dalam ilmu social terdapat teori Tindakan social atau social action dengan variannya, misalnya teori dramaturgi, teori rasional choice, teori fenomenologi, ada juga teori konflik berbasis klas social, teori konflik fungsional dan sebagainya. 

  

Di dalam ilmu social keislaman didapatkan misalnya  teori sinkretisme, akulturasi dengan berbagai variannya misalnya Islam kolaboratif (Nur Syam, Islam Pesisir, 2005), teori Islam popular, teori Islam kosmolitan, Teori Pribumisasi Islam, Teori Islam spiritual dan sebagainya. Semua ini menggambarkan bahwa ada perbincangan dan dinamika yang luar biasa di dalam riset dan produk riset atau perkembangan teori atau konsep di dalam dunia ilmu yang tentu patut dicermati. Dan ini tugas akademisi atau ilmuwan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.