(Sumber : Dok. Pribadi)

Kyai Agus Said Tentang Makna Sedekah Bumi

Horizon

Oleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

  

Dakwah secara lisan adalah kekhasan NU yang sudah menyejarah. NU sebagai lembaga atau institusi sosial memang memiliki kekhasan dalam dakwah yang diselenggarakannya, yaitu ceramah agama bil lisan. Di masa lalu ada seorang kyai yang sangat kesohor dakwahnya, yaitu Kyai Yasin dari Blitar. Kyai Haji Yasin dikenal sebagai pendakwah di seluruh Indonesia karena dakwahnya yang menarik. Kemudian juga muncul KH. Qasim Nurseha, seorang penceramah agama dari Jakarta yang berhasil menaklukkan Indonesia dengan ceramahnya. Kemudian juga muncul KH. Zainuddin MZ, da’i sejuta umat, yang berdakwah secara lisan dan juga melalui pita cassete yang bisa didengarkan kapan saja. Kekuatan dakwahnya terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan Islam yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Maka, hingga hari ini ceramah lisan masih sangat disukai oleh masyarakat khususnya masyarakat pedesaan. Ada banyak acara yang didesain dengan mendatangkan para penceramah yang baik. 

  

Acara sedekah bumi dan khaul Syekh Al Baqi ini menjadi menarik karena yang memberikan taushiyah adalah KH. Agus Said, seorang pendakwah yang berasal dari Bangilan, Tuban. KH. Agus Said ini kelihatan masih sangat muda, meskipun usianya sudah mencapai angka 51 tahun. Kyai Agus Said lahir tanggal 16 Agustus 1971, tepatnya di Dusun Dopyak, Desa Bangilan Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban. Kelihatannya,  wajah dan posturnya tampak lebih muda dibandingkan dengan usianya. Bahkan kala pertama saya melihat wajahnya, saya kira masih berusia 40-an. Maklum saya baru pertama berjumpa dengannya.

  

Agus Said semula belajar pada  KH. Abdullah Bangilan dan kemudian pada  Kyai Misbah Musthofa Senori. Kemudian lanjut menjadi santri KH. Ghofur di Pondok Pesantren Sunan Drajad.   Agus Said  memang mendalami ilmu keislaman. Selama 11 tahun  Agus Said mondok di Pesantren Drajat, waktu yang cukup lama untuk menyerap ilmu keislaman dengan bimbingan KH. Abdul Ghafur. Jika ada banyak santri yang hanya belajar secara dhahiriyah, maka Agus Said justru mendalami ilmu keislaman dalam konteks batin atau yang biasa dinyatakan Islam esoteris. Belajar Islam dengan kekuatan mata batin, sehingga menghasilkan seperangkat pengetahuan keislaman yang mendalam. Berbasis pada pendalaman ilmu agama seperti ini, maka Agus Said disayang oleh KH. Abdul Ghafur.

  

Sebagai bentuk perhatian KH. Ghafur, maka Agus Said diamanahi untuk menjadi Kepala Madrasah Al Jihad Astana Brondong Lamongan.  Tetapi karena panggilan Ibundanya, maka dia pulang ke desanya di Bangilan. Agus Said pamit kepada Kyai Ghafur, bahwa dirinya dipanggil kembali ibunya, maka Kyai Ghafur menyatakan: “jika dipanggil Ibu harus dituruti. Silahkan pulang”. Berbekal pada keridlaan gurunya ini, maka KH. Agus Said mendirikan pesantren khusus ilmu keislaman. Pesantren An Najah.


Baca Juga : Bulutangkis, Nasionalisme dan Agama (Catatan Atas Medali Emas Greysia Poli/Apriyani Rahayu Pada Olim

  

NU sungguh beruntung karena memiliki talenta-talenta hebat di dalam berdakwah. Salah satunya adalah KH. Agus Said. Suaranya yang merdu, pembawaannya yang tenang, pilihan diksinya yang relevan dengan masyarakat pedesaan, kemampuan menyanyikan lagu-lagu shalawatan dengan iringan music terbangan, maka mantaplah dakwah KH. Agus Said. Paduan antara guyonan atau cecandaan, nyanyi dan konten dakwah yang pas dengan bahasa masyarakat menjadikan dakwah KH. Agus Said menarik untuk didengarkan.  

  

Ada tiga hal yang disampaikannya di dalam ceramah dimaksud. Pertama, memaknai sedekah bumi. Saya sungguh senang mendengarkan paparan Kyai Agus Said tentang makna sedekah bumi. Makna sedekah bumi itu bukan bumi disedekahi, tetapi suatu perbuatan untuk mengingat makna bumi atau tanah atas kehidupan manusia. Bukankah manusia diciptakan dari saripati tanah. Makanya, seharusnya manusia itu harus memiliki sikap dan tindakan seperti tanah. Tanah itu diinjak-injak, dijadikan tempat membuang kotoran, dijadikan sebagai lembaga pendidikan, pesantren, dan tempat maksiat juga tidak apa-apa. Bumi itu tipe penyabar dan menerima apa yang dihadapinya. Bumi tidak mentang-mentang dan sombong.

Makanya kalau ada orang yang sombong berarti lupa dari mana dia diciptakan. Dia belum sadar bahwa dia dibuat dari tanah yang selalu bersabar menghadapi apapun. Jadi kalau ada orang yang sombong berarti dia tidak pernah bersedekah kepada Bumi dalam arti menyadari bahwa fisiknya itu terbuat dari tanah. Kita diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sambil gurau dia menyatakan: “coba kalau orang sudah menjadi mayat, apa masih ada kesombongan. Pasti tidak ada. Jika kita sombong di saat hidup, maka sambil dimandikan si mayat bisa dijadikan sebagai bahan tertawaan. Bisa dipukul, bisa dicubit dan pasti tidak akan melakukan perlawanan. Si mayat pasti diam saja. Oleh  karena itu tirulah sifat bumi yang menerima kehidupan apa adanya, dan tanpa kesombongan sedikitpun”. Jadi janganlah dinyatakan bahwa sedekah bumi itu bidh’ah. Sedekah bumi merupakan media untuk memahami asal usul kita dari mana dan setelah itu mau kemana. Di  dalam konsepsi orang Jawa disebut sebagai sangkan paraning dumadi.

  

Kedua, peringatan satu Muharram. Kyai Agus Said menyatakan: “panitia ini pintar, sebab tiga acara sekaligus. Ngirit. Apalagi tadi sudah disampaikan kepada Pak Kades, bahwa panitia kekurangan dana Rp11 juta rupiah dan agar dipenuhi oleh Pak Kades. Makanya pantas kalau badannya Pak Kades  itu kurus. Sudah kecil kurus lagi. Sudah gak usah dipikir Pak Kades, nanti kalau ada uang dibayar kalau gak ada ya hutang”. Disambut tertawa lebar oleh jamaah pengajian. Peringatan satu Muharram itu harus dilakukan dengan banyak sedekah. Kyai lebih lanjut menyatakan: “saya pernah diundang untuk pengajian, dan Kadesnya loman atau suka bersedekah. Setelah acara selesai, kemudian saya diberi uang, dan saya nyatakan saya sudah diberi uang oleh panitia Pak Kades, tetapi Pak Kades tetap memberikan uangnya. Gak tahu apakah Pak Kades di sini sama seperti itu. Kalau gak bawa uang bisa juga pinjam ke Pak Kamituwa”. Sontak seluruh jamaah ceramah tertawa lebar.

  

Ada lagi cerita tentang orang yang kikir. “Ada orang kaya tetapi kikir. Dia sudah sekarat dan dibacakan Surat Yasin.  Saya berpikir surat Yasin kok dibaca agar seseorang segera mati. Saya dipanggil di situ, lalu saya doakan sesuai dengan kemampuan saya. Saya elus wajahnya dan kemudian siuman. Setelah itu saya mohon dengan kesadarannya tentang amalan yang belum dilakukannya, yaitu bersedekah. Karena dia tahu kalau saya ingin membangun pesantren, maka dengan keikhlasannya dia mewakafkan tanahnya 1 Ha. Dia tanda tangan surat wakafnya. Kemudian dia tidak sadar lagi. Saya bacakan doa-doa lagi tetapi akhirnya wafat. Pada waktu pidato pemberangkatan mayat, penceramahnya bertanya, apakah Pak Fulan orang baik? Maka para petakziyah bisik-bisik menyatakan kalau Pak Fulan kikir. Maka kemudian saya tunjukkan surat wakaf 1 ha, dan kemudian para petakziyah menyatakan, Pak Fulan orang yang baik. Saya serahkan tanah wakaf itu kepada Kyai Ghafur dan akhirnya tanah tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi pesantren. Saya tidak mengambil serupiahpun”.

  

Ketiga, acara khoul waliyullah itu juga acara yang memiliki manfaat untuk mengenang jasa para ulama, para kyai dan para wali yang memiliki karomah di dalam kehidupan. Mereka adalah orang yang berjasa di dalam islamisasi di tanah Jawa. Kita semua menjadi orang Islam karena jasa para waliyullah. Oleh karena itu, acara ini merupakan acara untuk memperingati jasa-jasanya dan upayanya di dalam mengislamkan kita semua. Kita pantas bersyukur atas semua karunia Allah yang luar biasa ini. Nikmat menjadi orang Islam yang wasathiyah, sebagaimana yang diamalkan oleh para waliyullah. Coba pelajari bagaimana dakwahnya para waliyullah. Dakwahnya menggunakan cara ramah dan bukan dakwah yang menyalahkan dan mengkafir-kafirkan.

  

Bagi saya, selain ceramahnya yang relevan dengan bahasa masyarakat, juga kemampuan kyai untuk menyanyikan lagu-lagu dengan syair yang berisi shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sangat relevan dengan tema dakwahnya.  Beliau tidak hanya bercerita tentang masa sekarang tetapi juga kehidupan para sahabat Nabi, dan proses pengislaman para sehabat Nabi Muhammad SAW. Dengan kelengkapan bahan, humor dan nyanyian yang dilantunkan, maka dapat dinyatakan bahwa KH. Agus Said merupakan seorang penceramah agama yang komplit khususnya pada masyarakat pedesaan. Saya sungguh merasa senang bahwa di era media sosial seperti sekarang, ternyata masih terdapat seorang kyai yang mengabdikan diri untuk dakwah dari satu panggung ke panggung lain. Dan inilah sebenarnya kekuatan NU sekarang dan untuk masa depan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.