Dialektika Agama dan Identitas Nasional Umat Yahudi
Riset AgamaArtikel berjudul “Dialectic of Religion and National Identity in North Sulawesi Jewish Communities from the Perspective of Cross-Cultural and Religious Psychology” merupakan karya Sekar Ayu Aryani. Tulisan ini terbit di Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies tahun 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana teologi dan budaya mempengaruhi sikap dan perilaku nasionalisme orang Yahudi di Sulawedi Utara. Penelitian tersebut merupakan kualitatif dengan pendekatan psikologi lintas budaya dan agama. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, sejarah Yahudi di Sulawesi Utara. Ketiga, dialektika tanah perjanjian dan loyalitas nasional. Keempat, pandangan psikologis dialektika Yahudi Indonesia.
Pendahuluan
Antisemitisme baik secara agama maupun politik merupakan hal yang lumrah di Indonesia. Pada kaitannya dengan Yudaisme, muslim Indonesia sulit membedakan antara Yahudi sebagai agama dan Israel sebagai kekuatan politik. Hal ini disebabkan keduanya saling terkait, sehingga dianggap tidak perlu ada pembeda di antara keduanya. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, secara terbuka Indonesia menyatakan dukungannya terhadap Palestina. Indonesia menolak untuk mengakui Israel sebagai negara hingga kesepakatan damai di antara keduanya tercapai. Selain itu, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Fakta ini menjadi salah satu alasan kuat bagi warga Yahudi yang tinggal di Indonesia untuk tetap bungkam. Namun, saat ini ada sekelompok kecil Yahudi di Indonesia yang berusaha untuk mengungkapkan identitas mereka kepada masyarakat, yakni komunitas Yahudi di Sulawesi Utara.
Secara terbuka, komunitas Yahudi di Sulawesi Utara mengungkapkan identitas agama mereka dengan membangun rumah ibadat bernama Shaar Hashamayim (Sinagoge) di kota Tondano. Bangunan tersebut merupakan satu-satunya rumah ibadah Yahudi di Indonesia saat ini. sinagoge Tondano berfungsi sebagai dialog keagamaan dan tempat ibadah bagi orang Yahudi. Selain itu, sebagai bentuk keterbukaan orang Yahudi di Indonesia, Sinagoge mempersilahkan orang dengan berbagai latar belakang agama untuk datang.
Meskipun orang Yahudi tampak diterima di Sulawesi Utara dan bersedia beribadah secara terbuka, namun permasalahan yang muncul adalah terkait dengan identitas nasional. Yudaisme sering kali disamakan dengan Zionisme oleh orang Indonesia, dan Ziosnisme terkait erat dengan Israel. Selain itu, Zionisme juga dipandang sebagai “undangan” bagi semua orang Yahudi untuk kembali ke “Tanah Perjanjian”. Situasi ini memunculkan pertanyaan, apakah orang Yahudi di Indonesia ingin kembali ke Israel dan mempengaruhi kesetiaan mereka pada NKRI?
Sejarah Yahudi di Sulawesi Utara
Agama Yahudi dibawa ke Sulawesi Utara pada masa penjajahan oleh para pengusaha Yahudi dari Belanda di tahun 1900-an. Mereka memiliki pemukiman yang stabil dan memungkinkan untuk membangun sekaligus mengatur “komunitas”. Kemudian, selama kependudukan Jepang dan kemerdekaan Indonesia, banyak Orang Yahudi Belanda yang kehilangan pekerjaan dan harus pergi. Jumlah keturunan Yahudi turun drastis akibat penangkapan dan penyiksaan pihak Jepang yang didahului oleh permintaan Partai Nazi Jerman.
Pada tahun 1930-an jumlah penduduk Yahudi meningkat dari 1.095 orang menjadi 2.500 orang dan tersebar di seluruh pulau Jawa, Sumatera dan bagian Hindia Belanda yang lain. Namun, jumlah tersebut terus menurun akibat kebijakan politik di Indonesia. Presiden Soekarno yang saat itu menjabat memicu imigrasi besar-besaran keturunan Yahudi di Indonesia di awal 1950-an. Pada tahun 1958, kebanyakan mereka meninggalkan Indonesia dan menyebar di berbagai negara di dunia.
Baca Juga : Media Komunikasi dengan Tuhan
Pada masa Presiden Soekarno, penolakan terhadap Yahudi di Indonesia sering kali dipandang sistemik karena Yudaisme secara hukum tidak dianggap sebagai agama ‘resmi’ di Indonesia. Selain itu, agama Ibrani tidak bisa dicantumkan pada KTP. Pada masa Orde Baru, agama Yahudi juga tidak disahkan secara resmi melalui UU No. 1 PNPS/1965. Alhasil, banyak orang Yahudi yang memilih berasimilasi atau tidak secara terbuka mempraktikkan Yudaisme.
Pasca runtuhnya Orde Baru, orang-orang Yahudi mulai muncul kembali dan mulai mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Yahudi secara terbuka. Tidak banyak daerah Indonesia yang mau menerima umat Yahudi. Sumatera Utara dianggap sebagai daerah paling ramah kepada orang Yahudi. Pemerintah daerah bahkan telah membangun simbol kekristenan yang diambil dari akar Yahudinya yaitu Simbol Kaki Dian, dibangin di Bukit Air Madidi di Gunung Klabat Minahasa Utara.
Dialektika Tanah Perjanjian dan Loyalitas Nasional
Tema terkait tanah perjanjian memainkan peran penting dalam konteks antara Israel dan Palestina. Di dalam Taurat, Genesis 12:1-7, dijelaskan bahwa Allah menjanjikan tanah bagi Abraham dan keturunannya. Adanya kisah mengenai tanah perjanjian dalam Taurat digunakan untuk melegitimasi negara Israel oleh Zionis. Meskipun tidak semua orang Yahudi setuju dengan Zionisme, namun banyak yang setuju jika Yerusalem adalah tanah yang dijanjikan. Berdasarkan sudut pandang Yahudi, negara lain tidak diperbolehkan untuk mengeksploitasi tanah tersebut.
Loyalitas warga negara terhadap bangsanya semakin kuat jika nasionalismenya dilandasi oleh rasa cinta terhadap tanah air. Setiap orang yang lahir di Indonesia seharusnya memiliki perasaan yang sama terhadap NKRI. Namun, tidak dapat disangkal bahwa identitas agama terkadang mengalahkan identitas nasional yang dapat terjadi pada agama apa pun, termasuk Yudaisme. Seruan untuk kembali kepada tanah yang dijanjikan adalah gerakan politik di abad 20 yang memanggil setiap orang berdarah Yahudi untuk kembali ke asal mereka.
Secara teologis, kesetiaan Yahudi Indonesia kepada NKRI didasarkan pada pemahaman “tikkun olam” yang menyatakan bahwa orang Yahudi dapat berbuat baik di mana pun meskipun tidak berada di tanah suci. Akibatnya, mengingatkan diri di luar tanah perjanjian dianggap sebagai kebajikan yang dihargai. Berdasarkan identitas nasional, kaum Yahudi di Sulawesi utara cukup optimis dengan kebebasan beragama sejak era kepemimpinan Gus Dur. Begitu pula pada kaitannya dengan budaya, umat Yahudi sudah mengidentifikasi diri mereka sebagai “orang Indonesia sejati” karena bahasa, budaya, selera bahkan gaya hidup mereka yang lebih nyaman dengan gaya Indonesia daripada Israel. Alhasil, mereka mengunjungi Israel hanya untuk berziarah ke tempat suci, bukan untuk tinggal.
Pandangan Psikologis Dialektika Yahudi Indonesia
Orang Yahudi Sulawesi Utara umumnya menampilkan identitas ganda karena dialektika antara identitas agama dan identitas nasional. Jika ditinjau berdasarkan teori Afiliasi Kelompok Minoritas bahwa kelompok yang memiliki banyak identitas akan condong menganggap status minoritas yang mempengaruhi sikap dan perilaku keagamaan mereka. Secara psikologis, pengalaman dialektika antara kewarganegaraan dan identifikasi agama berpotensi menimbulkan kepribadian ganda atau konflik antar identitas.
Menurut Barna dalam tulisannya yang berjudul “Stumbling Blocks in Intercultural Communication” menyatakan bahwa seseorang dengan identitas ganda rentan terhadap hambatan komunikasi dengan anggota masyarakat lain yang berbeda identitas. Artinya, secara psikologis, umat Yahudi mengalami hambatan yang disebut “batu sandungan” dan terdiri dari asumsi persamaan, perbedaan bahasa, miskomunikasi nonverbal, prasangka, stereotip, kecenderungan untuk mengevaluasi dan kecemasan yang tinggi.
Kesimpulan
Jika ditinjau darii pendekatan lintas budaya dan psikologis agama yang dipilih, maka penelitian ini memungkinkan untuk eksplorasi pengalaman keagamaan dalam konteks lintas agama dan realitas lintas budaya. Misalnya, hidup sebagai minoritas dan berdampingan dengan umat Kristen serta hidup di negara mayoritas muslim. Pengalaman beragama tersebut diwujudkan untuk menumbuhkan kerukunan dengan memodifikasi doktrin agama menjadi interpretasi identitas nasional. Inti temuan penelitian tersebut adalah orang Yahudi di Sulawesi Utara menyimpan kerinduan terhadap “tanah yang dijanjikan”, namun tidak menahan semangat pertumbuhan nasionalisme dan kesetiaan terhadap NKRI. Lebih jauh lagi, nasionalisme mereka yang kuat terhadap Indonesia dan pendekatan objektif terhadap tanah yang dijanjikan membuktikan kesetiaan mereka terhadap Taurat. Selain itu, dibalik kesan eksklusif orang Yahudi, ajaran mereka memiliki visi yang pluralis dan inklusif. Orang Yahudi di Sulawesi Utara setia terhadap NKRI dan itu terbukti, sebab mereka menanggapi permasalahan secara fleksibel dan rasional.

