Media Komunikasi dengan Tuhan
Riset BudayaArtikel berjudul “The Sasak Pepaosan Tradition as a Medium of Communication with God” merupakan karya St. Roudlih, Fahrurrozi, Muhammad Shubhi, Syaiful Bahri, dan Lalu Erwan Husnan. Tulisan ini terbit di Ulumuna: Journal of Islamic Studies tahun 2024. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mengkaji makna simbol dan nilai budaya dalam tradisi pepaosan di kalangan masyarakat Sasak di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Indonesia bagian timur. Metode etnografi digunakan dengan pendekatan fenomenologi. Seluruh data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data tersebut selanjutnya dianalisis secara kualitatif melalui empat tahap, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan penentuan tema. Terdapat enam sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, makna simbol hiasan dalam tradisi perpaosan. Ketiga, makna simbol tumbuhan dalam tradisi perpaosan. Keempat, makna simbol bunga dalam tradisi perpaosan. Kelima, makna simbol makanan dalam tradisi perpaosan. Keenam, simbol komunikasi dengan Tuhan.
Pendahuluan
Pepaosan adalah tradisi membaca naskah lontar yang ditulis dengan aksara Jawa (hanacaraka) dan bahasa Kawi, ditulis pada daun lontar. Pepaosan, juga dikenal sebagai Tembang Sasak, berasal dari Jawa sejak saat itu sumber teks membenarkannya. Selain itu, nama-nama tembangnya sama, hanya saja perbedaannya terletak pada gaya (irama) yang telah disesuaikan dengan pengaruh daerah setempat. Jenis-jenis tembang pesasakan yang banyak digunakan di Lombok adalah sinom, kumambang, asmarandane, dang-dang , durme , dan pangkur.
Berdasarkan tradisi masyarakat Sasak, pepaosan merupakan media transmisi dan transformasi nilai-nilai budaya dan sekaligus sebagai wadah pembelajaran masyarakat tentang berbagai aspek kehidupan. Tradisi tembang pepaosan biasanya dibarengi dengan ritual atau adat istiadat tertentu, seperti begawe atau pesta perkawinan, khitanan, ritual kematian, menurunkan benih padi, dan lain sebagainya. Naskah dalam tradisi pepaosan disesuaikan dengan kebutuhan atau keinginan tuan rumah (hajat). Dahulu, para pemaos atau pembaca pepaosan mewariskan keterampilan literasi mereka kepada masyarakat, dan sebagian orang menggunakan tradisi tulis Hanacaraka untuk mencatat berbagai kegiatan selain menulis. Hal ini banyak ditemukan pada masyarakat kropakan (catatan pada daun lontar yang tidak digabung menjadi satu loyang kue atau takepan), yang berisi ramuan obat, mantra, dan peristiwa penting.
Pada pembacaan tembang, pada umumnya terdapat alat musik atau andang-andang/hadap-hadap tertentu seperti sirih , pinang , beras , dan jaje. Selain itu, beberapa mantra dapat dilafalkan. Masyarakat Sasak menggunakan alat-alat musik tersebut tidak hanya sebagai hiasan pepaosan tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan atau makna tradisi ini sebagai makhluk homo simbolik, yakni makhluk yang ingin menggunakan simbol. Kehadiran simbol merupakan sesuatu yang wajar, karena simbol muncul dari kebutuhan manusia untuk menyampaikan konsep, gagasan, pesan, norma, aturan, dan harapan kepada orang lain. Simbol adalah kata, benda, atau tindakan yang mewakili atau menggambarkan sesuatu yang lebih besar atau makna, suatu cita-cita, nilai, prestasi, kepercayaan, masyarakat, konsep, atau realitas. Benda, kata, atau tindakan merupakan simbol. Sedangkan makna, realitas, cita-cita, nilai, kepercayaan, masyarakat, dan konsep merupakan acuan.
Makna Simbol Hiasan dalam Tradisi Pepaosan
Simbol alat hias dalam tradisi pepaosan suku Sasak yang umum digunakan adalah lelangit atau langit-langit , telage ngembeng (danau), bukal ngelampung (kelelawar gantung), anak iwoq durus pesisi (anak yatim sepanjang pantai), teken emas (tiang emas), teken selake/teken besi (tiang besi), bintang kesauh (bintang), awun-awun perang gunung (kabut perang gunung), kebun odeq (taman kecil), sekar mayang (sayang), daun beringin, dan kepeng bolong (uang berlubang). Setiap hiasan digunakan sebagai simbol dan mempunyai arti yang berbeda-beda.
Lelangit atau langit-langit terbuat dari kain putih yang dibentangkan menutupi atap berugak untuk menambah kesan sakral dan berfungsi sebagai penutup dan pelindung. Langit-langit melambangkan kesucian dan ketulusan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hiasannya yang disebut telage ngembeng adalah telaga berbentuk persegi panjang yang dihiasi kain atau songket warna-warni mengelilingi bentuk persegi panjang, menyerupai bentuk danau. Telage yang di dalamnya terdapat air melambangkan sumber kehidupan bagi semua makhluk.
Baca Juga : Dinamika Perselisihan di Antara Muslim Indonesia Perihal Covid-19
Hiasan bukal ngelampung merupakan hiasan berbentuk kerucut dari daun pisang yang diisi dengan bunga. Hiasan tersebut digantung di tengah telage ngembeng, menyerupai kelelawar yang digantung. Hal ini sesuai dengan makna bukal ngelampung yang berarti kelelawar yang bergantung. Di balik bentuknya yang tidak biasa ditambah gaya hidupnya yang nokturnal, yaitu tidur pada siang hari dan mencari makan pada malam hari, kelelawar memiliki manfaat dan fungsi bagi pelestarian alam, yaitu (1) mengendalikan jumlah serangga dan predator serangga merugikan, (2) agen penyerbukan terbaik, (3) agen penghijauan, dan (4) penyubur tanah.
Hiasan anaq iwoq durus pesisi merupakan hiasan yang terbuat dari kain atau kain tenun warna-warni yang ditaruh mengelilingi atap berugaq atau tempat menaruhnya. Hiasan ini berupa tiang berugak yang dilapisi kain kuning keemasan dan dihiasi dengan uang logam, sekar mayang, dan daun beringin. Teken atau tiang dilambangkan dengan huruf alif wahdaniyyah. Artinya, manusia harus mampu berpegang teguh pada wahdaniyatullah, atau keesaan Allah SWT. Sementara itu, kain kuning, lambang logam emas yang berharga, bermakna bahwa manusia adalah makhluk paling mulia yang dibekali akal. Oleh karena itu, manusia harus memiliki sifat-sifat dan perbuatan yang mulia dalam kehidupan.
Hiasan berikutnya adalah awun-awun perang gunung, yaitu hiasan berupa kain yang dibentangkan di belakang pemaos sebagai pembatas antara tempat di mana pemaos berada dengan taman odeq. Secara harfiah berarti kabut perang gunung. Kabut melambangkan rintangan hidup, sedangkan perang gunung melambangkan situasi dan tempat yang terlalu sulit dan tidak mudah dijangkau. Selanjutnya, kepeng bolong merupakan uang logam yang dilubangi di tengahnya yang digunakan untuk menghiasi tiang emas, tiang selake, dan tiang besi dengan cara diikat dengan benang. Makna yang terkandung dalam lambang uang kuno tersebut adalah nilai sejarahnya yang sangat tinggi sebagai alat tukar pada masa lampau.
Makna Simbol Tumbuhan dalam Tradisi Pepaosan
Di antara tanaman yang sering dijadikan hiasan dalam tradisi pepaosan adalah pohon beringin atau bunut (beringin). Secara konotasi, penggunaan daun beringin adalah simbol menjaga dan perlindungan. Tumbuhan lain yang digunakan disebut kebun odeq (kebun kecil). Makna dari keberadaan kebun odeq adalah harapan dan doa agar Tuhan senantiasa memberkati masyarakat Sasak sebagai negara yang subur dan makmur. Selain itu, masyarakat Sasak diharapkan menjadi pribadi yang menciptakan kesuburan bagi alam sekitar dan keharmonisan antar makhluk hidup. Berikutnya adalah daun sirih yang merupakan doa agar masyarakat Sasak senantiasa bersatu dalam daya cipta, rasa, karsa, dan karya.
Makna Simbol Bunga dalam Tradisi Pepaosan
Secara umum, bunga bermakna agar manusia senantiasa mendapatkan keharuman berkah yang melimpah dari para leluhur sekaligus simbol antara pencipta, makhluk, dan alam semesta. Bunga yang biasa digunakan dalam tradisi pepaosan adalah sekar mayang , mawar , melati , kantil , dan kamboja. Pada sekar mayang melambangkan kekuatan, harapan, dan keindahan. Jenis bunga selanjutnya adalah mawar. Bunga ini memiliki bunga yang berduri namun indah. Warnanya bervariasi dan harumnya harum. Secara umum, mawar merupakan lambang cinta. Selanjutnya adalah melati yang memberikan kesan lembut, nyaman, dan tenang. Bunga ini sering melambangkan kesucian, kemurnian, dan keindahan pikiran. Sementara itu, bunga kantil berarti nasihat dan harapan agar masyarakat Sasak senantiasa bersatu dalam suka dan duka, hidup rukun, dan saling membantu dalam mengarungi kehidupan.
Baca Juga : Kisah Fat Cat Gamer Asal China yang Kematiannya Curi Perhatian
Makna Simbol Makanan dalam Tradisi Pepaosan
Pada adat pepaosan suku Sasak, ada beberapa makanan yang biasa dijadikan sebagai instrumen ritual. Instrumen berupa makanan oleh masyarakat Sasak disebut penamat. Penamat berupa jaje (makanan ringan) khas Sasak, misalnya jaje ore atau jaje mako (makanan ringan mako/ ore ), jaje opak (makanan ringan opak-opak ), jaje renggi ( makanan ringan renggi), jaje banget atau jaje tujaq (makanan ringan tujak ), jaje pangan (pangan snack), jaje abuk (abuk snack), dan jaje cerorot (cerorot snack).
Jaje ore atau jaje mako terbuat dari adonan tepung ketan dan gula merah, yang digoreng menggunakan cetakan batok kelapa hingga membentuk serat seperti mako. Jaje ore atau jaje mako, selain digunakan pada acara adat pepaosan , juga biasa digunakan oleh anggota suku Sasak untuk begawe atau acara perayaan, baik begawe merariq (pernikahan), begawe nyunatan (sunat) maupun begawe mate (kematian). Berbeda dengan jaje ore, jaje opak-opak terbuat dari beras ketan yang dikukus dalam boiler (panci) lalu ditumbuk (dihaluskan), dan dibentuk persegi panjang di atas daun pisang. Selain digunakan pada acara adat pepaosan , jaje opak-opak juga digunakan oleh masyarakat Sasak untuk acara begawe, khitanan, atau mulud (resepsi, sunatan, atau ulang tahun nabi Muhammad). Berikutnya adalah jaje renggi, penganan yang terbuat dari beras ketan yang dikukus; ada yang manis dengan gula merah atau asin dengan garam. Masyarakat Sasak menggunakan jaje renggi untuk acara begawe, nyunatan, mulud (penerimaan, khitanan, maulid) , dan adat pepaosan.
Makanan lainnya adalah jaje tujaq atau jaje banget. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan, yang dikukus dan dihaluskan. Masyarakat Sasak membuat jaje tujaq atau jaje banget yang digunakan untuk acara adat pepaosan dan begawe beselam, begawe mate nyiwaq dan nyatus (penerimaan sunat, sembilan hari acara, dan seratus hari kematian) dan Idul Fitri. Jaje pangan, adalah jaje berbentuk persegi panjang yang terbuat dari tepung ketan, tepung beras, santan, dan gula merah. Masyarakat Sasak membuat jaje pangan tidak hanya untuk acara adat pepaosan, tetapi juga untuk acara begawe beselam dan begawe mate nyiwaq dan nyatus (penerimaan sunatan, acara sembilan hari dan seratus hari).
Jaje abuk merupakan jaje berbentuk persegi panjang yang terbuat dari beras ketan, gula merah, dan kelapa parut. Masyarakat Sasak membuat jaje abuk tidak hanya untuk acara adat pepaosan saja, tetapi juga untuk acara begawe beselam dan begawe mate nyiwaq dan nyatus (penerimaan sunat, sembilan hari dan seratus hari). Terakhir, jaje cerorot. Jaje ini terbuat dari tepung beras, gula pasir, gula merah, santan, dan daun kelapa berbentuk terompet sebagai wadah adonan.
Simbol Komunikasi dengan Tuhan
Simbol instrumen dalam tradisi pepaosan suku Sasak dapat dibedakan menjadi simbol hiasan, tanaman, bunga, makanan, dan benda. Simbol-simbol tersebut mengungkapkan rasa syukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa. Simbol-simbol tersebut juga merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keinginan yang dilakukan dikabulkan. Selain itu, simbol-simbol yang digunakan juga memiliki nilai harapan dan nasihat agar seluruh masyarakat Sasak dapat menjalani kehidupan dengan baik. Nilai-nilai yang terkandung dalam instrumen merupakan simbol-simbol dalam tradisi pepaosan , yaitu rasa syukur, permohonan, harapan, dan nasihat.
Masyarakat Sasak meyakini bahwa pepaosan merupakan tradisi yang berdimensi spiritual, sehingga ada aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar ketika membacanya. Aturan-aturan tersebut antara lain adalah tentang penyediaan sesaji dan perkakas. Setiap sesaji dan perkakas pepaosan memiliki maknanya masing-masing, yang dimaksudkan sebagai doa kepada sang pencipta. Fenomena sesaji dan perkakas dalam pepaosan ini menimbulkan banyak penafsiran di kalangan tertentu. Pandangan intinya adalah bahwa sesaji dan perkakas yang dipersembahkan untuk memohon sesuatu selain Allah adalah haram atau dilarang. Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat Sasak meyakini hal ini dilakukan sebagai tradisi belaka dan maksud permohonan yang terus-menerus kepada Tuhan. Lebih jauh, pepaosan ini mirip dengan pengajian yang dilakukan oleh umat Islam. Bedanya, pepaosan ini menggunakan kitab lontar berbahasa Jawa Kuno, ditulis dengan huruf Jejawan, dan menggunakan irama dan tembang. Selain itu, isi teks lontar dalam pepaosan seluruhnya mengandung nilai-nilai dakwah Islam , biasanya mengisahkan cerita-cerita yang memadukan adat istiadat, seni, dan agama.
Kesimpulan
Simbol-simbol nonverbal dalam tradisi pepaosan suku Sasak dapat digolongkan menjadi lima bagian, yaitu: alat-alat hias, aksesoris tanaman, aksesoris bunga, makanan, dan benda-benda. Simbol-simbol tersebut memiliki empat nilai budaya suku Sasak yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan, yaitu (1) ungkapan rasa syukur atas segala anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, (2) permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keinginan yang dicita-citakan dikabulkan, (3) harapan, dan (4) nasihat. Simbolisme tradisi pepaosan berdasarkan makna alat-alatnya menunjukkan nilai-nilai moral dan spiritual yang merupakan falsafah hidup masyarakat Sasak. Tradisi bukan hanya sekadar hiasan atau makanan untuk diberikan kepada orang lain. Tradisi juga mengandung simbol dan nilai luhur, acuan perilaku, dan wawasan yang menjelaskan cara orang Sasak menjalani hidup. Selain itu, pepaosan merupakan upaya untuk membangun keharmonisan dan komunikasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, serta manusia dengan alam.

