(Sumber : m.news24.co.id)

Peran Pendakwah dalam Mempertahankan Eksistensi Tradisi Islam Lokal

Opini

Salah satu di antara tradisi Islam lokal yang masih eksis dan akan terus berlangsung adalah tradisi Islam yang bersesuaian dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Di antara tradisi tersebut adalah yang dikenal sebaga tradisi yang dilakukan oleh komunitas NU di pedesaan. Tradisi tersebut  yang selama ini menjadi pilar bagi kekuatan Islam di Indonesia. Tradisi yang mengembangkan Islam yang ramah dan memberikan rahmah bagi umat manusia. 

  

Di dalam realitasnya, bahwa tradisi Islam lokal  terus dipupuk dan dihidupkan oleh komunitas NU sehingga tetap akan menjadi penyangga bagi ketahanan NU dan komunitasnya dalam mempertahankan tradisi Islam lokal.  Ada   berbagai manuver yang dilakukan oleh komunitas Salafi Wahabi dengan  melakukan serangan demi serangan atas keabsahan tradisi dimaksud. Melalui kekuatan media sosial, maka gerakan untuk meminggirkan tradisi Islam local tersebut terus dilakukan secara massif dan terstruktur. 

  

Keuntungan yang dimiliki NU adalah dengan terus tumbuhnya dakwah yang dilakukan oleh kyai atau ulama NU yang bersearah dengan tujuan untuk mengembangkan Islam ramah sebagaimana tafsir agama yang diyakini kebenarannya. Memang tidak mudah untuk mempertahankan paham keagamaan yang ramah tersebut. Ada banyak tantangan yang dihadapi, misalnya di masa lalu terjadi rivalitas NU dan Muhammadiyah yang tajam dalam kaitan dengan upacara ritual keagamaan yang dilakukan oleh NU. Sampai tahun 1970-an perseteruan tersebut masih dirasakan. 

  

Akan tetapi seirama dengan kedewasaan pemahaman tentang Islam, maka rivalitas dan perseteruan NU dan Muhammadiyah nyaris tidak didapatkan. Rupanya, Muhammadiyah berkonsentrasi dengan pendidikan, dan NU tetap bertahan dengan pesantren. Bahkan yang kita dapati NU belajar dari Muhammadiyah dalam pendidikan umum dan Muhammadiyah belajar dari NU tentang pendidikan pesantren. Ada proses take and give dengan terus melakukan adaptasi dan inovasi di antara dua organisasi besar Islam yang mengusung tema Islam moderat.

  

Dewasa ini kemudian juga tumbuh dengan subur Gerakan Salafi Wahabi yang terus menyerang jantung pengamalan agama atas tafsir Islam ahlu sunnah wal jamaah dengan serangan yang bertubu-tubi melalui jaringan media sosial yang massif. Untunglah bahwa para ulama NU juga tidak tinggal diam dan secara perlahan juga terus menguasai dakwah melalui media sosial. Sejumlah nama dengan gaya dan kontennya mengunggah berbagai ceramah yang ternyata juga memiliki sejumlah viewer dan follower meskipun secara kuantitatif masih belum bisa mengalahkan para pendakwah Islam Salafi Wahabi. Hal ini tentu terkait dengan kesadaran pendakwah Salafi  yang hadir terlebih dahulu.

  

NU tidak pernah kehabisan talenta-talenta hebat dalam dakwah atau ceramah agama. Setelah wafatnya KH. Zainuddin MZ yang disebut sebagai da’i sejuta umat, maka muncullah penceramah-penceramah NU yang hebat. KH. Zainuddin MZ bisa disebut sebagai pendakwah modern, karena pada tahun 1980-1990 sudah menggunakan media pita cassete  di dalam dakwahnya. Kaset-kaset dakwahnya terjual  laris manis seperti  kacang goreng, dan banyak radio yang menyiarkan dakwah-dakwahnya. Kemudian di era media sosial juga muncul para pendakwah yang berdakwah melalui media sosial dengan talentanya masing-masing.

  

Tetapi yang tidak bisa dilupakan adalah para pendakwah yang tetap berjuang dalam jalur dakwah bil lisan dari panggung ke panggung. Mereka ini adalah para kiai yang terus berjuang dalam dakwah melalui jalur berceramah dari satu desa ke desa lain, dari satu panggung ke panggung lainnya. Banyak pendakwah yang berada di jalur itu, misalnya Kiai Agus Said. Seorang pendakwah yang nyaris setiap malam berceramah keliling dari satu panggung ke panggung lainnya. Sehari bisa manggung tiga kali, pagi, sore dan malam hari. Malam ini di Kecamatan Merakurak dan besuk malam sudah harus memberi ceramah agama di Nganjuk, tepatnya di Kecamatan Gondang. Ceramah malam hari itu sekurang-kurangnya jam 23.30 baru selesai. Lalu dilanjutkan dengan makan dan silaturahmi, sehingga jam 24.00 baru pulang balik ke rumahnya. Tetapi faktor waktu ini tidak menjadi kendala. Bisa saja di dalam perjalanan ke rumah bisa istirahat, sehingga tetap fresh di pagi hari untuk melanjutkan aktivitasnya berdakwah dari satu tempat ke tempat lainnya.

  

Tetapi bagi saya yang menarik adalah kemampuannya untuk menjelaskan tradisi-tradisi Islam lokal, seperti sedekah bumi dan khaul dengan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami apalagi diselingi dengan humor segar dan nyanyian shalawatan yang merdu. Saya menjadi teringat dengan Gus A’ad yang juga bertalenta dalam dakwah melalui lagu-lagunya. Ceramahnya enak dan nyanyiannya juga enak didengar. Ceramah ini memang tidak sebagaimana ceramah ilmiah yang penuh dengan logika dan data, tetapi ceramah ini lebih menggunakan pendekatan rasa atau mengedepankan Islam yang berbasis pada dimensi esoteris. Jika para pendakwah NU seperti ini masih terus eksis di Indonesia, maka kekhawatiran bahwa telah terjadi peminggiran Islam ala ahli sunnah wal jamaah di Indonesia tidak perlu dikhawatirkan. Islam sebagaimana yang dipahami dengan  menghargai tradisi Islam lokal akan terus bertahan meskipun digempur habis-habisan oleh komunitas lain.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.