(Sumber : wartapilihan)

Nepotisme Sebagai Kodrat Duniawi

Horizon

Risma Azzah Fatin

Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Nepotisme merupakan sebuah tindakan kepentingan yang menguntungkan keluarga atau sanak saudara serta teman-teman dalam hal pekerjaan ataupun yang lainnya. Pelaku nepotisme banyak dilakukan oleh beberapa kalangan yang memiliki mandat atau jabatan di dalamnya. Tindakan nepotisme merupakan sebuah konflik kepentingan tersendiri, dikarenakan hanya orang-orang terdekat yang dapat masuk ke dalam lingkungan tersebut.

  

Jika melihat hukum di Indonesia nepotisme sering dikaitkan dengan politik. Akhir-akhir ini negara Indonesia baru saja merayakan pesta demokrasi dengan melakukan pemilihan presiden. Dalam proses pencalonan presiden tahun ini, banyak sekali hal yang bertentangan dengan undang-undang  serta pelanggaran akan hukum konstitusi di Indonesia. Mulai dari batas usia calon presiden hingga politik dinasti. Sosok Gibran Rakabuming Raka banyak menjadi sorotan. Gibran yang merupakan anak sulung dari presiden Joko Widodo ikut berkompetisi dalam pencalonan sebagai wakil presiden Indonesia mendampingi Prabowo Subianto pada periode 2024-2029 walau usianya masih 36 tahun. Hal ini banyak memunculkan pertentangan dari berbagai pakar politik hingga guru besar di Indonesia. Berdasarkan Pasal 169 huruf q Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang berisi “Persyaratan menjadi calon presiden dan calon wakil presiden adalah berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun”. Hal tersebut banyak menimbulkan polemik dalam sistem politik di Indonesia mengingat usia Gibran masih belum genap 40 tahun.

  

Namun, ketua Mahkamah Konstitusi yakni Anwar Usman yang merupakan paman  Gibran atau adik ipar  Presiden Joko Widodo memberikan pengecualian terkait batas pencalonan presiden dan wakil presiden. Dalam putusannya MK menyatakan “Batas usia calon presiden dan wakil presiden ialah 40 tahun. Namun, seseorang berusia di bawah 40 tahun bisa mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden, asalkan sedang atau pernah menduduki jabatan negara yang dipilih melalui pemilu, termasuk pemilihan kepala daerah.” Dari sini menjadi bukti bahwa tindakan nepotisme hingga politik dinasti sedang dibangun di Indonesia. Hal tersebut menimbulkan banyak kekhawatiran bagi rakyat Indonesia sendiri, karena Indonesia tidak menganut sistem kerajaan melainkan sistem yang dianut ialah republik, bukan hanya itu Indonesia juga berada dalam suatu ancaman. Sebab negara Indonesia telah dikendalikan oleh salah seorang tokoh individu.

  

Jika di Indonesia kasus nepotisme banyak terjadi pada kalangan politik beda dengan di India. Di India kasus nepotisme banyak terjadi pada kalangan entertaint atau pasar hiburan Bollywood. Seorang aktor pendatang baru jika ingin melebarkan sayap di kancah yang lebih tinggi akan mengikuti audisi atau pemilihan casting secara bertahap. Hal tersebut tidak akan ditemukan di dalam bollywood. Pasalnya hanya orang-orang yang memiliki privilege yang diberikan hak tersebut. Sosok Karan Johar yang merupakan produser serta sutradara ternama di Bollywood menjadi sorotan. Karan Johar telah menghasilkan banyak film di antaranya Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhie Gham hingga My Name is Khan. Film-film tersebut sukses besar baik secara komersial hingga mendapat respon positif dari berbagai khalayak dan para kritikus film. Dibalik kesuksesannya tak sedikit pula Karan Johar banyak menerima komentar negatif. Pasalnya Karan Johar sering kali menerbitkan anak-anak aktor senior India dalam produksi film barunya tanpa melakukan audisi atau pemilihan cast. Seperti contoh dalam filmnya yang berjudul Student of the Year yang dirilis pada tahun 2012. Pada film tersebut banyak menampilkan aktor-aktor muda pendatang baru seperti Alia Bhatt, Varun Dhawan dan Sidharth Malhotra. Dua di antaranya merupakan anak dari orang ternama di Bollywood. Alia Bhatt yang merupakan anak dari sutradara terkenal bernama Muhesh Bhatt serta Varun Dhawan yang merupakan anak dari produsen film yang bernama David Dhawan. Dari sini muncul berbagai macam polemik dalam industri pasar bollywood di India. 

  

Priyanka Chopra yang merupakan aktris India sekaligus pemenang Miss World tahun 2000 pernah mengungkapkan dalam sebuah wawancara di Women in The World Summit pada tahun 2019 betapa sulitnya masuk dalam lingkungan Bollywood. Priyanka menyebutkan bahwa selama dirinya menjadi aktris di India dia jarang sekali diundang dalam acara-acara intimate hingga dikucilkan dalam kelompok sosialita yang beranggotakan aktris-aktris yang mempunyai privilage di dalamnya  Merasa begitu kerasnya kehidupan Bollywood pada akhirnya dia mencoba langkah yang lebih jauh yakni masuk dalam industri pasar Hollywood. Perjuangannya mendapatkan hasil yang cukup baik. Pasalnya Priyanka telah menghasilkan beberapa karya seperti Web Series di antaranya Quantico dan Citadel. Tidak sampai disitu Priyanka juga beradu akting dengan aktor ternama Hollywood seperti Dwyne Johnson dalam film Baywatch, Keanu Reeves dalam film The Matrix Ressurections dan mendapatkan peran utamanya dalam film yang bertajuk Love Again.

  

Tindakan nepotisme telah banyak terjadi dari berbagai macam kalangan, bukan hanya dari kalangan atas seperti politik dan pasar industri hiburan. Bahkan dari kalangan menengah ke bawah banyak kita jumpai, seperti contoh dalam hal mencari lowongan pekerjaan.. Banyak sekali para anak muda terutama fresh graduate merasakan hal pahit dalam hidupnya. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan karena merasa tersingkir dengan orang yang memiliki “ordal” singkatan dari orang dalam. Ini mengakibatkan munculnya konflik kepentingan dan makin maraknya suatu ketimpangan. Karena orang yang benar-benar memiliki passion (potensi), skill (kemampuan) atau talent (bakat) akan kalah dengan orang yang memiliki koneksi.