(Sumber : Medcom.id)

Publikasi Kita Di-bully, Apa Yang Harus Diperbaiki?

Kelas Sosiologi

Oleh: Dr. Gigih Saputra

  

 Ada berita yang menarik pada akhir Februari tahun ini sebagai tahun kabisat. Liputan Medcom.id memberitakan tentang riset Indonesia yang tak hanya dikritik, bahkan di-bully. Plt Diktiristek, Nizam, menyatakan bahwa Publikasi Indonesia adalah salah satu yang terbanyak di Asia, namun sayangnya hal itu kurang mencerminkan kualitas bahkan abal-abal. Masalah-masalah klasik riset Indonesia masih saja terjadi. Perjokian karya ilmiah dan standar serta budaya riset yang masih menekankan pada kuantitas menjadi inti persoalan riset. Tidak mengherankan jika riset kita begitu banyak, namun tidak sejalan dengan kualitas bahkan abal-abal.

  

Pemberitaan ini menjadi kritik membangun dan pelecut bagi kita semua untuk senantiasa mengevaluasi dan meningkatkan kualitas riset. Riset Indonesia tentu tak bisa lepas dari kompetisi internasional. Oleh karena itu, untuk dapat bersaing di level internasional, tidak cukup hanya mengandalkan jumlah publikasi. Aspek kualitas objetifitas, kebaruan, kontribusi, dan integritas akademik adalah hal-hal yang lebih fundamental.

  

Kuantitas yang kurang diimbangi dengan kualitas dan integritas justru menunjukkan permasalahan riset yang kompleks. Riset kita terjebak pada pencapaian indah, namun sangat semu. Pencitraan yang semu ini, jika tidak diberikan solusi, maka akan terus menggerus kualitas dan integritas akademik.

  

Evaluasi berupa kuantitas yang menumpuk, namun kualitas dan integritas yang perlu ditingkatkan, maka solusinya bukan semakin menambah jumlah publikasi. Perbaikannya harus menyasar pada perbaikan kualitas dan integritas. Dua hal itu sebagai landasan untuk peningkatan kuantitas. Artinya, kuantitas harus tetap linier dengan kualitas dan integritas akademik.

  

Adanya fenomena riset abal-abal yang ditunjang oleh perjokian yang menjamur menunjukkan perilaku pragmatisme, kapitalisme, dan segala cara. Paradigma dan budaya riset sebagai pendidik dan peneliti perlu dikembalikan pada fitrahnya. Ketulusan dalam memberikan kontribusi terbaik dalam pembangunan peradaban sebagai ladang amal jariyah tidak boleh asing dalam tiap benak para peneliti dan ilmuwan Indonesia.  Seluruh civitas academica perlu komitmen bersama untuk berkolaborasi melahirkan riset yang berkualitas dan menjauhi modus-modus perjokian dalam publikasi. Pemberantasan terhadap perjokian perlu digiatkan secara masif. Di sisi yang lain, ketegasan pemerintah dalam memberantas plagiasi dan perjokian sangat diperlukan, terlebih perjokian yang berbadan hukum atau dengan modus yang tersembunyi.

  

Kritik bahkan dekonstruksi atas pragmatisme, segala cara, kebekuan berpikir, bahkan positivsime perlu menjadi prioritas untuk mengatasi praktek negatif publikasi. Peran filsafat pendidikan begitu fundamental karena praktek-praktek negatif publikasi begitu mengakar. Pembenahan paradigmatik menekankan aspek kesadaran rasional dan peneguhan afeksional agar tidak terjerat pada praktek-praktek negatif publikasi. Filsafat pendidikan juga berperan untuk memperkuat etika akademik sehingga dapat menguatkan integritas akademik. Solusi paradigmatik juga perlu ditunjang dengan regulasi dan budaya akademik yang kondusif untuk terus meningkatkan kualitas riset dan mengatasi penyelewengan-penyelewengan publikasi.Saya akan membahasnya pada bagian dua tulisan ini.