(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Orang Tua Cerdas, Generasi Emas

Horizon

Oleh:  Andina Firmandari Imani, S.Keb.,Bd.

  

Orang tua memiliki tanggung jawab besar. Ketika suami dan istri memutuskan untuk naik level menjadi orang tua, maka harus menyiapkan diri untuk menjadi panutan bagi generasi baru mereka. Persiapan menjelang pernikahan seharusnya juga diiringi dengan persiapan menjadi orang tua, apabila suami dan istiri berniat untuk segera memiliki buah hati. Sebagian pasangan yang memutuskan untuk menikah terkadang kurang persiapan menjadi orang tua, sehingga kebingungan saat memasuki periode kehamilan, proses persalinan, dan pengasuhan anak. 

  

Dalam menyiapkan diri sebagai orang tua, para pasangan harus menyadari bahwa akan ada perubahan hidup sehingga dibutuhkan kecerdasan beradaptasi dengan peran baru tersebut. Perubahan tidur, kehidupan seks dan sosial serta keseimbangan pekerjaan dan emosional (id.theasianparent.com).

  

Persiapan Mental, Kondisi Monumental

  

Peran sebagai orang tua yang kita inginkan harus didiskusikan bersama pasangan terlebih dahulu. Sean Brotherson dalam Preparing for Parenthood, menegaskan bahwa persiapan harus kita lakukan untuk menjadi orang tua yang hebat. Pertama, kecemasan kita menjadi orang tua mencerminkan bagaimana kita akan memperlakukan anak di masa mendatang. Orang tua harus bersikap sabar dan penyayang agar anak merasa aman. Maka mulailah dengan membayangkan diri kita sebagai orang tua serta meningkatkan keterampilan (skill) tersebut. Kedua, mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan anak akan membantu kita menjadi orang tua yang berilmu, sehingga akan memiliki rasa percaya diri dan realistis dalam merawat anak.

  

Ketiga, membiasakan aktivitas yang dapat kita lakukan bersama dengan anak kita kelak, misalnya mengaji dan menghafal Alquran, melantunkan salawat, berlatih untuk berbicara yang menyenangkan dengan anak kecil dan kebiasaan bermanfaat yang lain. Keempat, mulailah melatih kerjasama dengan pasangan kita. Sebab hamil, melahirkan dan pengasuhan anak tidak hanya tugas seorang ibu, melainkan tugas bersama pasangan. Maka bapak juga harus ikut berkontribusi bahkan sebagai garda terdepan. Berbicara tentang tugas ibu dan bapak dalam merawat anak juga dapat dilakukan. Kelima, meningkatkan interaksi dengan keluarga atau lingkungan sosial yang dapat membantu kita dalam merawat anak. Carilah orang yang dapat memberi kita nasihat yang baik dan siapa saja yang dapat membantu kita kelak.

  

Keenam, apabila kita memiliki trauma dengan pola asuh orang tua kita dahulu, segera konsultasikan dengan psikolog untuk menyelesaikan kecemasan kita. Anak yang sehat berasal dari orang tua yang bahagia. Ketujuh, bacalah buku tentang pengasuhan anak (parenting), tonton video persiapan menjadi orang tua atau cara merawat bayi dan anak. Kedelapan, carilah fasilitas kesehatan atau komunitas yang dapat membantu kita untuk memahami persiapan menjadi orang tua. Kelas-kelas online biasanya sering diadakan dengan materi yang mudah dipahami oleh calon orang tua.

  

Rangkaian proses kehamilan, persalinan, dan pengasuhan anak saat menjadi orang tua adalah masa yang akan selalu kita kenang. Pengalaman baik pada saat pertama kali memiliki anak dapat berpengaruh besar pada proses kehamilan kedua, ketiga dan seterusnya. 


Baca Juga : Merumuskan Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Bagian Dua)

  

Persiapan Fisik dengan Cerdik

  

Persiapan menjadi orang tua sama dengan menyiapkan diri untuk menjalani kehamilan selama 9 bulan, proses persalinan, dan pengasuhan anak. Banyak hal yang dapat dilakukan sebelum menjadi orang tua, yaitu menyambut kehamilan sehat, nyaman, dan menyenangkan sehingga anak yang dilahirkan akan menjadi generasi emas dan unggul.

  

Adi Gunawan (dalam Conny dan Agus, 2015: 10) menyebutkan bahwa kondisi emosi, pikiran, dan ucapan yang pertama kali keluar saat wanita mengetahui bahwa dirinya hamil mempengaruhi kondisi bayi baik secara fisik maupun emosi. Ketika seorang wanita mengungkapkan rasa syukur serta senang dengan emosi positif, maka bayi yang dikandungnya akan merasa diinginkan, dicintai, dan berharga bagi orang tuanya. Bayi tersebut akan tumbuh menjadi dewasa yang memiliki kepribadian baik. 

  

Sebaliknya, apabila seorang wanita tidak menginginkan kehamilannya, emosi dan kata-kata yang diucapkan mengandung hal negatif, maka bayi akan merasakan penolakan. Bayi tersebut saat dewasa akan menjadi pribadi yang rendah diri dan merasa diri tidak diterima. Maka sangat penting bagi pasangan untuk menyiapkan diri sebelum hamil.

  

Conny dan Agus (2015: 38) menjelaskan beberapa hal yang perlu disiapkan bila memutuskan untuk merencanakan kehamilan, antara lain: tidur cukup, kurang lebih 8 jam per hari; olahraga rutin dan secukupnya; makan makanan bergizi seimbang; hindari rokok, baik aktif maupun pasif; tidak berlebihan dalam konsumsi kafein, karena dapat mempengaruhi metabolisme dan pembentukan sperma serta hindari stress berlebihan. Berhubungan seks pada waktu masa subur (masa ovulasi) yaitu pada saat sel telur matang dan siap dibuahi. Pada wanita dengan siklus menstruasi normal, masa subur terjadi pada hari ke 14 sebelum haid berikutnya.

  

Persiapan khusus bagi pria, yaitu: hindari paparan panas langsung pada area pangkal paha, karena akan merusak kulitas sperma. Contohnya mandi atau berendam air panas; hindari penggunaan celana dalam yang terlalu ketat; serta menjaga berat badan tetap ideal.

  

Persiapan khusus bagi wanita, yaitu: konsumsi asam folat minimal 1 bulan sebelum perencanaan kehamilan (dosis 400 mcg per hari); pastikan anda tidak dalam kondisi anemia (kadar hemoglobin kurang dari 12,0 gr/dl). Ibu hamil yang anemia akan menyebabkan beberapa komplikasi, misalnya bayi lahir dengan berat lahir rendah, perdarahan pascasalin, dan sebagainya.

  

Periksa status gizi, pastikan calon ibu tidak dalam kondisi KEK (Kurang Energi Kronis) yaitu saat LiLA (lingkar lengan atas) < 23,5 cm. Sebalikanya apabila anda dalam kondisi obesitas atau terlalu gemuk juga tidak baik. Olivia dan Ayuningtyas (2017: 3-4) menjelaskan bahwa dalam masa prakonsepsi atau masa persiapan sebelum kehamilan, kecukupan kebutuhan energi dan zat gizinya memerlukan perhatian khusus. Ibu yang hendak hamil harus memperbaiki status gizi dengan cara makan makanan bergizi seimbang dan menerapkan pola hidup sehat. Keseimbangan makanan dalam bentuk energi dan zat gizi (makro dan mikro) selama persiapan kehamilan juga berkontribusi dalam mewujudkan generasi emas.

  

Setiap pasangan pasti menginginkan generasi penerus yang unggul. Anak kita merupakan gambaran nyata dari pendidikan yang kita berikan baik sebelum hingga saat menjadi orang tua. Maka apabila kita menginginkan generasi emas maka terlebih dahulu kita harus mempersiapkan diri kita menjadi orang tua yang cerdas dan berkualitas bagi anak kita.

  

Daftar Pustaka

  

Anggraeny, Olivia dan Ayuningtyas Dian Ariestiningsih, Gizi Prakonsepsi, Kehamilan, dan Menyusui, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2017).

  

Artikel Orangtua bertumbuh seiring perkembangan anaknya, Parents sudah di tahap mana? dalam id.theasianparent.com.

  

Hermina, Conny Widya dan Agus Wirajaya, The Conny Method: Menjalani Kehamilan dan Persalinan dengan Tenang, Nyaman, Bahagia, serta Penuh Percaya Diri, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015).

  

Sean Brotherson, Preparing for Parenthood, NDSU Extention Service, March, 2016.