Our Father : Sebuah Realitas Sosial yang Pahit
HorizonAda yang belum nonton film "our father"? Sebuah film dokumenter yang rilis di Netflix pada 11 Mei 2022 lalu. Film ini diangkat dari kasus skandal besar yang dilakukan oleh Dokter Donald Cline di Indiana, Amerika Serikat. Seorang dokter kesuburan tahun 1970-1980an yang secara diam-diam menanamkan benih spermanya kepada banyak pasien melalui inseminasi buatan sehingga lahir anak keturunannya yang tersebar di berbagai kota dengan jumlah mencapai 94 anak dan diperkirakan lebih. Di dalamnya, film ini menggabungkan kesaksian, rekontruksi ulang dan berbagai bukti yang mendukung narasi selama satu setengah jam.
Berawal dari tahun 2014, perempuan bernama Jacoba Ballard mempertanyakan mengapa dirinya memiliki rambut pirang di tengah keluarga berambut dan bermata hitam. Ia pun mendapat jawaban bahwa ia adalah anak yang diperoleh dari donor sperma. Mengetahui hal itu Jacoba lantas melakukan tes DNA demi menemukan saudara tirinya. Dengan bantuan situs 23andme, ia memperoleh sebuah fakta mengejutkan bahwa ia mempunyai banyak saudara yang sedarah dan mulai melakukan investigasi secara mandiri. Ia pun akhirnya berhasil membongkar skandal besar dokter Cline yang tersimpan berpuluh tahun lamanya.
Trauma Psikis hingga Penderitaan Fisik Bagi Korban
Ketika perempuan yang kesulitan memiliki keturunan datang, ada diantara mereka berpikir bahwa yang disuntikkan oleh dokter Cline adalah sperma milik suaminya sendiri. Sebagian lagi memang menggunakan donor sperma namun mereka dijanjikan oleh Cline bahwa sperma yang akan digunakan masing-masing tidak lebih dari tiga kali. Hal tersebut dilakukan untuk membatasi masalah kekerabatan dan penyakit genetik. Tentu saja ini sangat mengejutkan bahwa faktanya adalah Cline telah menyuntikkan sperma nya hingga mencapai puluhan kali bahkan diperkirakan lebih dan tanpa sepengetahuan pasiennya.
Imbasnya, hal ini menimbulkan kerugian psikis hingga fisik bagi korban khususnya anak dari donor sperma Cline. Mulai dari penyakit keturunan dari Cline sendiri sampai dengan kemungkinan terjadinya perkawinan sedarah yang menyebabkan lahirnya anak dengan presentase kecacatan yang tinggi. Seperti halnya yang dapat diperoleh dari pengakuan beberapa anak Cline dalam film tersebut mereka mewarisi penyakit autoimun dan pembekuan darah.
Namun sayang, meski telah terbukti bersalah melakukan penipuan dan kejahatan telah menghamili banyak perempuan meski tanpa adanya penetrasi organ intim, Cline hanya diberi percobaan satu tahun penjara, membayar denda dan kehilangan lisensi dokternya di tahun 2018. Itupun atas dasar Cline dianggap telah memberikan keterangan palsu pada perangkat negara dan mengancam korban. Mengetahui tak ada aturan hukum yang mendefinisikan perbuatan Cline kepada para pasiennya.
Ketika Pemahaman terhadap Agama Menjadi Alasan Kekerasan
Saat Jacobba berusaha untuk mencari tahu apa motif dari Cline melalukan hal kejih itu, ia diarahkan pada suatu fakta bahwa Cline memiliki relasi dengan pemahaman kepercayaan sekte yang menyimpang yakni bernama \"Quiverfull\", dimana komunitas tersebut mempunyai dogma beranak-pinak sebanyak-banyaknya agar bisa masuk surga. Komunitas ini menganjurkan pengikutnya untuk bereproduksi sebanyak mungkin demi memenuhi mandat Tuhan. Dengan banyaknya keturunan yang dimiliki seseorang, maka ada jaminan akan menduduki banyak posisi kekuasaan dan mampu membimbing umat manusia.
Baca Juga : Ceramah Jadi Komedi Lewat Fenomena Dubbing
Didampingi itu, film ini juga memperlihatkan bagaimanana Cline memiliki ketertarikan pada ayat-ayat agama Kristen yang berusaha untuk dijustifikasi untuk membenarkan tindakannya. Diantaranya adalah Yeremia 1:5 yang berbunyi:
“Sebelum aku membentukmu di dalam rahim ibumu, aku mengenalmu.”
Ayat ini menekankan bagaimana setiap bayi yang lahir ke dunia bukanlah kesalahan yangmana digambarkan sebagai ayat yang disukai dan menggambarkan tujuan hidup daripada Cline.
Sebuah Realitas Sosial yang Pahit
Cline selain berprofesi sebagai dokter yang sangat terkenal juga aktif di sebuah geraja di lingkungannya yangmana ia adalah seorang penatua (sebuah jabatan gereja). Ke-religius-annya juga tercermin dari isi ruangannya yang dihiasi oleh tulisan ayat-ayat Al-kitab. Dari sini sudah terbayang bukan betapa besar kekuatan dan pengaruh Cline di masyarakat? Maka pantas saja bahkan ketika Cline terbukti bersalah pun tetap memperoleh banyak dukungan. Orang-orang yang memberikan dukungan kepada Cline ini bisa jadi disebabkan karena dua faktor : pertama, takut karena besarnya kekuatan yang dimiliki Cline. Kedua, orang-orang ini sepenuhnya percaya kepada Cline. Sehingga tidak percaya bahwa Cline dapat melakukan hal tersebut atau percaya Cline benar melakukannya tapi membenarkan atas nama pemahaman terhadap agama.
Our father menunjukkan bahwa realitas kekerasan bisa terjadi dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Tidak ada perempuan atau keluarga yang menyangka akan menjadi korban kejahatan dari seorang dokter yang seharusnya menolongnya. Tidak ada orang yang akan menyangka memperoleh perbuatan buruk di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman untuk mereka. Namun sebagian besar masyarakat tetap memberikan dukungan kepada pelaku. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi korban.
Faktanya, realitas ini tidak hanya dialami oleh Jacoba dan korban dokter Cline lainnya tapi juga terjadi pada sebagian besar korban dalam kasus kekerasan lainnya di luar sana. Contohnya dalam kasus pelecehan yang dialami oleh perempuan. Masyarakat lebih penting mempertanyakan tentang pakaian apa yang dikenakan dari pada berempati pada apa yang dialami korban. Alih-alih memberi perlindungan, masyarakat lebih banyak meminta korban kekerasan untuk diam dan tidak menceritakan pengalaman pahitnya. Perilaku seperti ini justru akan merugikan korban dan memberikan angin segar bagi pelaku kekerasan.
Refleksi Kebenaran dan Keadilan
Banyak dari kita tak menyadari sering mengukur kebenaran dan keadilan hanya dari sudut pandang pribadi masing-masing, bukan dari kebenaran dan keadilan itu sendiri. Penentuan pihak yang benar dan yang salah lebih kepada melihat seberapa dekat orang tersebut dengan kita. Misalnya kita akan lebih membela keluarga, teman, saudara, orang yang kita kagumi, panutan masyarakat, idola hingga orang yang kita kenal baik tanpa adanya proses mencari tahu terlebih dahulu. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan esensi keadilan dan kebenaran yang sejati.
Pada salah satu bagian isi dari buku berjudul “KH. Ahmad Dahlan Si Penyantun” tulisan Imron Mustofa membahas tentang sosok Ahmad Dahlan dalam belajar dan mencari kebenaran. Digambarkan dalam buku, sang tokoh Islam ini tidak segan untuk belajar dan duduk bersama dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan atau pemikiran yang bersebrangan dengannya untuk berdiskusi bersama. Ia menganjurkan untuk selalu membuka pikiran dan menyerap informasi dari segala penjuru. Menurutnya manusia perlu mendengarkan pendapat siapapun yang kemudian pendapat-pendapat tadi di pikir sedalam-dalamnya, ditimbang, disaring, dan dipilih yang benar.
Teladan tersebut semestinya bisa diterapkan oleh manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam konteks tulisan ini, maka dalam memandang kasus kekerasan harusnya kita dapat lebih terbuka untuk melihat dan fokus pada kasus yang sedang terjadi. Jacoba merupakan contoh korban yang memiliki keberanian bersuara untuk mendapatkan keadilan bagi dirinya. Tapi dia adalah satu dari sekian banyak korban yang hanya tetap diam. Maka kita perlu memberikan ruang bagi Jacoba-jacoba yang lain untuk menemukan keadilan yang sebenarnya.

