(Sumber : Dokumentasi Pribadi )

Pemberdayaan Masyarakat Pinggir Rel berbasis Eco Green

Horizon

Regita Putri Nabila

  

Hidup di kota Surabaya dengan kemajuan teknologi, sektor industri, serta sektor ekonomi membuat banyak masyarakat melakukan urbanisasi. Kondisi perkotaan yang semakin pesat dan tingginya laju urbanisasi telah menimbulkan ragam masalah seperti kemacetan, kemiskinan, kriminalitas, kerusakan lingkungan, hingga timbulnya permukiman kumuh. Kampung Dupak Magersari merupakan salah satu permukiman kumuh yang letaknya di pinggir rel kereta api, meski mendapat sebutan kampung kumuh dari masyarakat luar, hal ini tidak menyurutkan semangat warga Dupak Magersari untuk terus mempertahankan eksistensi kampung yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka.

  

Ketika saya mendatangi kampung ini, alangkah terkejutnya saat melihat para warga yang telah sadar terhadap lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan keaktifan warga dalam pemilahan sampah sejak tahun 2018. Sampah yang terdiri dari botol plastik, kresek, kardus, dan kaleng, kemudian dikelompokkan dan dijual ke pengepul. Hasil penjualan tersebut kemudian masuk ke dalam kas kelompok dan dialokasikan untuk kegiatan kampung. Hasil yang dirasakan dan dinikmati oleh warga Dupak Magersari dari kegiatan pengolahan sampah menjadikan mereka lebih sadar terhadap kebersihan lingkungan. 

  

Membangun kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan tidaklah mudah diciptakan. Semua memerlukan kepekaan, pengertian, dan kebiasaan agar dapat terbangun. Masyarakat Dupak Magersari dianugerahi Allah SWT keistimewaan berupa semangat juang yang tinggi dalam memperbaiki kualitas hidup menjadi lebih baik, meski dengan keterbatasan hidup di pemukiman pinggir rel kereta api dan stigma negatif dari masyarakat luar, namun mereka membuktikan dengan tindakan kecil dalam menjaga lingkungan dan menguatkan solidaritas antar masyarakat. 

  

Keunikan masyarakat Dupak Magersari dalam mengolah sampah yang ada di kampung menjadikan saya tertarik untuk belajar lebih banyak dan mengembangkan aset yang ada bersama masyarakat. Saya menggunakan metode ABCD (Asset Based Community Development) untuk mengenali lebih dalam tentang masyarakat Dupak Magersari. Tahapan ini dimulai dari menemukali aset (discovery), menyusun harapan bersama (dream), merancang strategi aksi (design), melakukan aksi (define), dan monitoring evaluasi (destiny)

  

Dalam proses pengembangan masyarakat, saya melaksanakan pendekatan bottom up yang memposisikan warga Dupak Magersari sebagai pelaku utama yang menjalankan aksi perubahan untuk diri mereka. Warga dilibatkan dalam setiap proses, mulai dari perencanaan, aksi, hingga evaluasi. Saat bersama masyarakat, saya lebih banyak mendengar berbagai cerita yang mereka alami, berusaha untuk tidak menggurui, dan tidak mendominasi, karena dengan begitu masyarakat akan menjadi lebih terbuka. Masyarakat Dupak Magersari memiliki tiga aset penting yang dapat dikembangkan dan bermanfaat secara berkelanjutan, yaitu pengetahuan (head), keterampilan (hand), serta empati (heart), dalam pendekatan ABCD aset ini disebut dengan individual skill inventory

  

Aset pengetahuan terlihat pada saat warga Dupak Magersari bercerita atas keberhasilan nya dalam melakukan pengolahan sampah plastik. Semangat belajar yang tinggi membuat mereka menginginkan adanya inovasi baru dalam pengolahan sampah jenis lain. Saya dan kelompok Ibu rumah tangga Dupak Magersari saling berdiskusi untuk menentukan keinginan tersebut, setelah melakukan pemetaan aset, dapat diketahui bahwa sebagian besar warga Dupak Magersari bekerja sebagai pedagang, dan banyak minyak jelantah yang dihasilkan para pedagang dari sisa penggorengan. 

  

Ada salah satu warga, yaitu Ibu Wiwik (40) yang memberikan usulan untuk mengolah limbah minyak jelantah, karena selama ini warga Dupak telah mengolah sampah jenis padat dan belum pernah ada kegiatan pengolahan sampah jenis cair. Mengetahui usulan dari Bu Wiwik, kemudian Ibu-Ibu lainnya juga menyetujui usulan tersebut. Berdasarkan data dari publikasi Indonesia Oilseeds and Product Annual 2019 diketahui bahwa konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia mencapai 13 juta ton. 

  

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang mengonsumsi minyak goreng paling banyak. Kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya minyak jelantah juga membuat banyak masyarakat yang membuang minyak jelantah sembarangan. Adanya usulan warga Dupak Magersari dalam pengolahan minyak jelantah ini diharapkan dapat meminimalisir pembuangan limbah minyak jelantah. Limbah minyak jelantah dapat diolah menjadi biodiesel, dalam skala rumah tangga, limbah minyak jelantah dapat dijadikan sebagai lilin maupun sabun. 

  

Hasil olahan itulah yang membuat warga Dupak Magersari mengembangkan aset keterampilan mereka. Sebelumnya, warga Dupak Magersari pernah membuat kerajinan dari sampah plastik seperti tas hampers yang bernilai jual tinggi. Berbekal keterampilan yang ada, warga mencoba untuk membuat kerajinan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Kegiatan yang bergerak dari keikhlasan hati merupakan bentuk aset empati yang dimiliki masyarakat Dupak Magersari. Masyarakat melakukan segala kegiatan tanpa adanya paksaan karena tujuan mereka yaitu ingin menjaga kampung agar selalu berkembang menjadi lebih baik. 

  

Kegiatan pendampingan tidak hanya berhenti pada tahap pembuatan lilin saja, akan tetapi warga juga dilibatkan dalam penjualan lilin tersebut. Pemberdayaan masyarakat pinggir rel merupakan implementasi dari dakwah bil hal yang mengajak masyarakat untuk melakukan kebaikan dan melarang perbuatan kemungkaran. Pemberdayaan masyarakat menurut Islam dibangun berdasarkan prinsip Al-Qur’an dan as-Sunnah. Islam memandang sebuah masyarakat sebagai makhluk sosial yang saling bekerja satu sama lain. Masyarakat yang saling bekerja sama dapat dijadikan sebagai potensi dalam memupuk persaudaraan dan kerukunan. Masyarakat Dupak Magersari memiliki sikap saling menyayangi atau Al-Tarahum, baik antar sesama warga maupun terhadap lingkungan tempat tinggal mereka. Masyarakat dan lingkungan merupakan dua unsur yang saling bergantung dan tidak bisa dipisahkan. Pentingnya menjaga lingkungan berdampak terhadap keberlangsungan bumi. Masyarakat diberi potensi oleh Allah SWT berupa akal serta keterampilan dalam mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi agar meningkatkan kesadaran mereka terhadap lingkungan, selain itu kegiatan ini bertujuan pula untuk membangun kapasitas seorang manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi.