Pendidikan, Bakat dan Lingkungan
OpiniSebenarnya sudah cukup lama SD Al Muslim Sidoarjo memasang gambar hasil-hasil terbaik dari lukisan siswa dan siswinya. Kalau tidak salah sudah pada semester pertama tahun 2023. Saya lupa tepatnya kapan. Tetapi baru saja kemarin saya memperhatikan lukisan-lukisan khas anak-anak tersebut. Macam-macam temanya. Ada yang bertema binatang, alam lingkungan dan juga aktivitas jual beli. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak minat dari siswa dan siswi SD Al Muslim dalam melukis dunia sekitarnya.
Dari tema binatang misalnya ayam, kera, dan harimau. Kemudian yang terkait dengan alam adalah rumah, sawah, kebun, sungai, gunung, matahari, bulan, bintang dan jalan. Lalu yang terkait dengan aktivitas jual beli misalnya jualan bakso, dan lainnya. Tetapi lukisan itu tentu saja memiliki kompleksitas tidak hanya menyajikan satu tema tetapi dalam kaitannya dengan tema-tema lainnya.
Saya melihat bahwa sudah terdapat kemajuan di dalam mengekspresikan karya lukis tersebut. Anak-anak SD sudah dapat melukis alam yang indah dengan paduan hewan dan nuansa tumbuh-tumbuhan yang menghijau. Mereka juga sudah mampu mengekspresikan dunia pekerjaan, misalnya menjual bakso dengan perpaduan antara jalan raya, gerobak bakso, dan rumah pembeli. Sungguh merupakan pemaduan yang sangat memadai.
Saya ingin bercerita tentang Yuvika Farnaz Adzkiya. Anak usia 9 tahun kelas 3 SD Al Muslim ini memang memiliki talent yang baik dalam bidang menggambar. Bahkan cita-citanya adalah menjadi pelukis. Semenjak kelas 1 SD sudah banyak coretan tangannya tentang dunia sekelilingnya. Seirama dengan usianya yang makin matang, maka yang digambarnya juga semakin bervariasi. Bahkan menjelang tidurpun yang dilakukan adalah mencorat-coret kertas putih HVS yang disukainya. Ada saja yang digambarnya. Bahkan gambarnya juga diberi ilustrasi di dalam Bahasa Inggris.
Sama dengan saya kala masih usia sekolah dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Kesukaan saya adalah menggambar. Tentu saja adalah gambar pemandangan yang berkhas pedesaan misalnya hamparan sawah, tanaman padi, sungai, dan gunung dan petani. Itulah dunia sekeliling saya. Hanya bedanya di masa lalu talent seperti itu terjadi begitu saja dan tanpa memperoleh bimbingan dari siapapun. Saya masih ingat lukisan-lukisan saya itu lalu saya pajang di dinding rumah kayu. Ada banyak lukisan yang saya hasilkan tetapi temanya bercorak monoton. Saya juga sangat suka menggambar wayang kulit. Bahkan masih hafal nama dan corak gambar wayang kulit tersebut hingga sekarang. Saya masih bisa menggambar Arjuna, Kresna, Puntadewa, Bimasena, Gatutkaca dan lain-lain.
Saya tidak tahu, apakah darah melukis di tubuh Yuvika tersebut secara genealogis berasal dari saya. Sungguh saya tidak tahu. Saya juga tidak berkeyakinan seperti itu. Namun demikian kecenderungannya untuk menggambar dan melukis apa yang dilihatnya pada dunia sekelilingnya itu lalu mengingatkan masa kecil saya yang juga memiliki kecenderungan seperti itu. Yuvika tentu jauh lebih maju. Ekspressinya jauh melambung dibanding saya pada usia yang sama. Jika saya terpaku pada alam pedesaan, maka Yuvika sudah menggambar dan melukis sesuai dengan dunia anak-anak sekarang, misalnya Roblox, atau Maincraft yang dikenalnya di Youtube.
Saya mengikuti saat Yuvika melukis tukang bakso yang dipajang pada dinding sekolah SD Al Muslim. Dia melukisnya di Aula Royal Plaza bersamaan dengan acara pementasan seni dan tari anak-anak SD, SMP dan SMA Al Muslim. Macam-macam acaranya, dan salah satu yang saya pantau adalah prosesi menggambar anak-anak SD dimaksud. Dipersiapkan kertas lukisan, lalu mendasarinya dengan coretan potlot dan kemudian meneruskannya dengan alat lukis, seperti crayon, pencil kaca dan stipo untuk ornament. Saya tidak tahu apa saja nama-nama alatnya. Setelah diwarnai lukisan kasar tersebut dengan warna dan corak yang relevan akhirnya jadilah lukisan orang jualan bakso dengan sangat realistic. Sesuai dengan usianya, maka lukisannya memang bergenre lukisan realistic. Ada dua lukisan realistic Yuvika yang dipajang di dinding SD Al Muslim, yaitu lukisan ayam jantan dan betina dan anak-anaknya dan lukisan penjual bakso.
Pendidikan merupakan upaya kreatif untuk mendidik anak agar talentanya bisa diaktualkan dan dioptimalkan. Di dalam paradigma psikhologi pendidikan, terdapat tiga hal, yaitu paradigma bakat, paradigma empiris dan paradigma konvergensi. Meskipun seorang anak memiliki bakat tetapi tidak pernah tersentuh dengan pelatihan dan pendidikan, maka tentu saja bakat tersebut tidak akan mampu diaktualisasikan. Namun demikian seseorang tanpa bakat sekalipun jika memperoleh sentuhan pelatihan dan pendidikan, maka dia akan memiliki “sedikit” keahlian yang diperlukan. Yang terbaik bahwa pendidikan harus mampu untuk mendeteksi bakat dan kemudian menyentuhnya dengan pelatihan dan pendidikan. Barangkali memang diperlukan upaya untuk mendeteksi bakat-bakat seorang anak agar pendidikan akan lebih memiliki makna mendasar bagi yang bersangkutan pada tahapan selanjutnya.
Pada institusi pendidikan, kiranya diperlukan pusat pemandu bakat sebagai wadah dalam kerangka untuk memahami apa yang menjadi bakat anak didiknya. Melalui penelusuran bakat dan minat yang sepatutnya dan sentuhan pendidikan yang benar, saya yakin bahwa pendidikan akan menjadi sangat bermakna bagi pengembangan kualitas anak di masa depan. Memang sistem pendidikan seperti ini akan rumit karena begitu concern dengan bakat anak, akan tetapi hanya dengan cara seperti ini pendidikan akan fungsional bagi pertumbuhan jiwa belajar dan produk belajar dari mitra didik.
Sebagai penganut jalan ketiga, paradigma konvergensi, maka saya berkeyakinan bahwa ketepatan program pembelajaran dengan bakat dan minat mitra didik akan sangat fungsional dalam mengantar kualitas SDM Indonesia ke depan secara lebih baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

