(Sumber : Republika)

Penanaman Nilai Agama Pada Anak Usia Dini Dalam Kultur Masyarakat Muhammadiyah

Horizon

Oleh: Muhammad Jamaluddin

(Mahasiswa Pascasarjana Studi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Anak usia dini merupakan individu yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan-perkembangan. Misalnya, pertumbuhan mengacu pada bagian tubuh yang dapat diukur berat badan, tinggi badan dan lingkar pinggang. Perkembangan adalah suatu perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Masa kecil ini memberikan dasar untuk pengembangan keterampilan fisik, bahasa, sosial, emosional dan konsep diri.seni moral dan nilai religious. Oleh karena itu, anak-anak memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan perkembangannya. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan beriringan dalam semua aspek perkembangannya. Aspek terkait satu sama lain dan harus dikembangkan secara optimal dan pengaruh.

  

Pendidikan melibatkan proses kehidupan yang membuka potensi untuk operasi yang optimal pendidikan usia dini. Proses pertama pertumbuhan dan perkembangan manusia sebelum memasuki masa dewasa (Agutriana, 2018: 15). Pendidikan anak usia dini merupakan hasil upaya pembinaan dan pengasuhan, sehingga dapat mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan bagi anak-anak.Selain itu, anak usia dini memerlukan hak atas pendidikan dan pengasuhan. Kebutuhan yang harus dimiliki lainnya adalah perawatan, kesehatan dan gizi. Tujuan pendidikan taman anak-anak untuk membentuk sikap, perilaku, persepsi,keterampilan dan kreativitas yang dibutuhkan anak nantinya pertumbuhan dan perkembangan.

  

Salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan adalah Pendidikan anak usia dini, yaitu mengajarkan nilai-nilai agama. Pendidikan nilai agama berkaitan dengan kesediaan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Anak harus mendapat bimbingan dan tuntunan yang benar dalam memahami nilai-nilai agama pada anak usia dini. Kegiatan keagamaan pada anak usia dini berkaitan dengan doa, beribadah dan bertindak sesuai dengan ajaran agama. Manfaat kegiatan keagamaan yang Dilakukan pada anak usia dini diharapkan anak tumbuh menjadi pribadi yang penurut dan memiliki akhlaq yang diajarkan oleh agama. Kehidupan beragama dalam kehidupan sehari-hari merupakan pengaplikasian norma-norma agama pada anak usia dini. Hal ini sangat penting dan harus ditanamkan sejak dini. Jika nilai-nilai agama tidak mengganggu anda sejak dini mengganggu perkembangan nilai-nilai agama dan moral anak dalam kehidupan kehidupan selanjutnya (Fitriyah, 2019:1-7).

  

Peran Pendidikan Agama Pada Usia Dini

  

Pendidikan agama adalah tempat yang baik untuk memulai mendidik anak-anak untuk kehidupan kehidupan selanjutnya. Pendidikan harus berprinsip tentang pengembangan nilai-nilai agama sebagai kepedulian terhadap ibadah dan perilaku terpuji menurut ajaran agama.

  

Nilai-nilai agama anak usia dini ditanamkan melalui keteladanan dan adat istiadat dari guru dan orang tua. Jika orang tua dan guru bisa membiasakannya dan memberi contoh yang baik berbuat baiklah pada anak melalui perbuatan baik dan ibadah yang baik kemudian dia mungkin akan tumbuh menjadi individu yang mulia. Teladan orang tua dan guru membutuhkan pembelajaran untuk memahami, melaksanakan dan mengontrol aspek pembangunan nilai agama anak usia dini.

  


Baca Juga : Nur Mahmudah: Doktor Zakat dengan Penelitian Kuantitatif

Lingkungan termasuk penentu terhadap anak usia dini, selain dari pendidikan guru dan orangtua. Hal ini merupakan sering terjadi terhadap anak-anak ketika disekolah sudah diajarkan pendidikan agama dari ibu bapak guru, kemudian pulang kerumah dididik oleh orangtua. Namun ketika anak bergaul dengan lingkungan yang salah maka pengamalan nilai agama tidak bisa diamalkan setelah memperoleh norma-norma agama.

  

Penanaman Nilai-Nilai Agama

  

Merupakan suatu upaya mengenalkan dan mengajarkan ajaran agama kepada agama kepada anak agar anak dapat mengetahui dan memahaminya. Kelak melaksanakan ajaran agama dengan baik pendidikan nilai agama Islam sejak dini merupakan tanggungjawab bersama semua pihak,baik guru maupun orangtua. Bagi orang tua muslim, pandangan tentang nilai keagamaan Islam erat kaitannya dengan pengasuhannya Pendidikan nilai keislaman pada anak usia dini merupakan suatu hal yang sangat fundamental, karena dapat dijadikan sebagai pondasi bagi perkembangan anak pada masa berikutnya. Untuk membentuk seseorang memiliki jiwa dan berkarakter Islami Penanaman nilai agama Islam sejak usia dini supaya kelak anak dapat membedakan baik buruk, benar salah, sehingga anak dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari Anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang baik akan menghasilkan karakter yang baik pula.

  

Tahapan perkembangan keagamaan pada anak yaitu the fairy tale stage, the realistic stage,the individual stage. Subjek atau isi materi pembelajaran yang berharga agama anak aplikatif, menarik dan mudah ditiru. Prinsip Artinya, pengembangan nilai-nilai agama bagi anak usia prasekolah harus menghasilkan tenaga pendidik berhubungan baik dan dekat dengan anak-anak, berperilaku, menjadi teladan, mentor, memotivasi secara konstruktif, dan terlibat dalam proses pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan anak.

  

Penanaman Nilai Agama Dalam Tradisi Muhammadiyah

  

Metode 1 Pengembangan nilai-nilai agama Islam pada anak usia dini dapat dicapai dengan cara sebagai berikut:

  

Bercerita, Menyanyi, Tamasya, Bermain Peran, Percakapan, Demonstrasi, Proyek, Pemetaan, dan Metode Strategi pembiasaan untuk pengembangan nilai-nilai agama Islam anak usia dini menitikberatkan pada kegiatan sehari-hari, kegiatan terpadu,tinjauan kegiatan khusus yang dapat dilakukan oleh pembinaan Nilai Keagamaan Anak Usia Dini yang dapat dilakukan Guru Observasi atau observasi, percakapan (tanya jawab), tugas, unjuk kerja, evaluasi hasil Mendokumentasikan karya, anekdot, dan portofolio (Iftitah,2020: 24).

  

Perkembangan agama seorang anak memiliki tiga tahap : 1) Adegan dongeng. Ketika anak-anak berusia 0 hingga 6 tahun, anak-anak berpikir tentang Tuhan dan malaikat dianggap sebagai sosok raksasa bersayap atau hipotetis lainnya. ini berhubungan dalam dunia imajinernya. 2) fase realistis. Tahap ini dimulai antara usia 6 dan 12 tahun. Malaikat dan nabi adalah benar ibarat manusia yang bisa melihat dan mengawasi. 3) Tahap individu. tahap ini dimulai antara usia 13 dan 18 dan terdiri dari tahap Kuno, Nebula, dan Simbol. Selain itu juga, individu mulai berpikir kritis tentang apa yang tidak benar (Imroatun, 2020: 61). Dapat mengundang individu bicara dan bicara yang baik. Kriteria Kinerja Nilai Religius Anak PAUD  1) Berusia 2-3 Tahun pengenalan agama bisa melalui nyanyian lagu dan orasi keagamaan diajari. Selain itu, shalat, sikap shalat, pengetahuan tentang sifat Tuhan, dan salam. 2) Usia 3-4 tahun. Anak-anak mulai mendengarkan bacaan dengan bernyanyi dan bertepuk tangan meniru tangan, gerakan menyembah, dan menghormati orang tua, guru, dan orang-orang di sekitarnya. 3) Usia 4-5 tahun. Anak-anak bernyanyi, bertepuk tangan, menghafal doa-doa pendek, kegiatan sholat, mulai menghafal gerakan sholat dan ibadah, menyapa,terima kasih. 4) Usia 5-6 tahun. Anak-anak mulai menguasai tahapan proses anak-anak lebih dewasa dalam menghafal doa dan melakukan aktivitas menanamkan nilai-nilai agama pada anak usia dini.

  

Tahapan pengembangan nilai agama dalam PAUD : 1) Tidak fleksibel. Pemahaman belajar anak-anak nilai agama anak masih sebatas pengenalan. pemahaman agama jadi tidak dalam hal ini terlihat ketika aktivitas keagamaan masih berlangsung. Berperilaku dan kekanak-kanakan. Lelucon dan kegiatan menyenangkan lainnya. 2) Egosentris, Berpusat pada diri sendiri berarti bahwa individu lebih mementingkan diri sendiri,jangan khawatir tentang orang lain, fokuslah pada kepentinganmu sendiri. Seperti pada anak usia dini, anak seringkali masih berubah.tidak bisa konsisten. Misalkan seorang anak pernah menjadi pekerja keras.Terlibat dalam kegiatan keagamaan, tetapi pada titik tertentu anak mungkin menjadi malas melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut. anak-anak suka bermain dengannya pacarnya. Kualitas ini masih wajar, sebagai orang tua dan pendidik wajib melakukannya. Membimbing dan membimbing dalam kaitannya dengan nilai-nilai agama anak. 3) Kesalah pahaman. Tahap ini didasarkan pada cacat psikologis dan fisiologis yang mendasarinya.Anak-anak tidak mengerti dan sering salah paham (kesalahpahaman) ketika belajar memahami makna ajaran dan pengetahuan agama masih abstrak pada anak usia dini. Pada tahap ini, anak bayangkan siapa Tuhan, di mana Tuhan, dll. 4) Bahasa dan Ritualis. Tahap ini menjelaskan pemahaman anak tentang nilai keagamaan dimulai pada saat anak mengerti bahasa. Adanya kemampuan bahasa pada anak akan meningkatkan kemampuan komunikasi sehingga anak dapat menerima pembelajaran dari orang lain. Dengan demikian, pada tahap ini dalam agama Islam anak mulai dikenalkan dengan ritual keagamaan misalnya kegiatan shalat, hafalan doa, hafalan surat pendek, nama malaikat dan lainnya. Anak akan mempelajari hal tersebut melalui keteladanan, pengalaman, dan pembiasaan. 5) Imitatif. Pada tahap imitatif, anak bersifat imitasi atau meniru kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Misalnya dalam keagamaan Islam yaitu kegitana sholat, kegiatan berpuasa, kegiatan berwudhu, membaca tilawati dan lain sebagainya. Dengan demikian lingkungan memberi pengaruh besar dalam pembelajaran keagamaan yaitu pemberian contoh pembiasaan yang baik untuk anak.

  

Hal tersebut merupakan upaya untuk menanamkan nilai-nilai agama Islam pada anak usia dini membimbing, mendorong dan menginspirasi anak-anak untuk mengembangkan sikap dan karakteristik islam sejak kecil. Pendidikan agama Islam anak usia dini bertujuan untuk meletakkan dasar pendidikan agama Islam untuk menjadikan seseorang taat beribadah dan bertindak sesuai dengannya dewan Islam. Menanamkan Islam pada anak dapat dilakukan melalui pembiasaan dan pembiasaan.teladan secara konsisten. Oleh karena itu, guru dan orang tua serta lingkungan harus selalu berusaha untuk memberikan kebiasaan dan teladan yang baik bagi anak-anak. Kesuksesan penanaman Islam anak usia dini di sekolah dipengaruhi oleh banyak hal, seperti: Prinsip Kegiatan, Metode Kegiatan, dan Strategi Pembelajaran Agama Islam Bagi Anak yang lebih besar. Kemampuan menilai nilai-nilai agama Islam anak usia dini Observasi atau observasi, percakapan (tanya jawab), tugas, unjuk kerja, evaluasi hasil karya, catatan anekdot, portofolio.