Pendidikan Agama Islam Berbasis Tasawuf KH. Manshur Bahruddin
HorizonOleh : Muhammad Yusuf
Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Agama Islam Multikultural UNISMA
Pondok Pesantren Darut Taqwa merupakan salah satu Pesantren yang memiliki pengaruh besar dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat, khususnya di Kecamatan Dlanggu Mojokerto. Pondok Pesantren Darut Taqwa ini berdiri pada Tahun 1980 di Desa Ngembeh Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto, tepatnya sebelah timur pasar Dlanggu. Luas pondok Pesantren Darut Taqwa sekarang sudah mencapai 4 hektar.
Berdirinya Pondok Pesantren Darut Taqwa tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perjalanan KH. M. Manshur Bahruddin. Beliau merupakan putra ketiga dari KH. Bahruddin Kalam yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Darut Taqwa Gempol Pasuruan dan adik dari KH. Sholeh Bahruddin yang merupakan Pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan. Awal berdirinya Pondok Pesantren ini memiliki nama Nurul Huda, namun karena arahan dari guru beliau, nama Nurul Huda diganti menjadi Darut Taqwa. Pondok Pesantren Darut Taqwa memang berdiri pada 1980.an, namun secara legalitas kelembagaan baru ada pada tahun 1996.
KH. Manshur Bahruddin dalam menimba ilmu kepada beberapa kiai, khususnya ilmu tasawuf tārekat kepada Mbah Kiai Munawwir Mushofa (alm) di Kertosono Nganjuk. Romo KH. Manshur Bahruddin juga mendapatkan ijazah, izin, sekaligus hak menjadi mursyid Tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah. Selain berguru kepada Kiai Munawwir, beliau juga banyak mendapatkan ilmu dari ayahnya yakni KH. Bahruddin Kalam yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Darut Taqwa Carat Gempol Pasuruan. Sehingga KH. Manshur Bahruddin berkewajiban mengamalkan dan mengembangkan tārekat kepada masyarakat luas dengan sungguh-sungguh.
KH. Manshur Bahruddin dalam mengembangkan Pendidikan Pondok Pesantren Darut Taqwa menggunakan pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal yang berada di Pondok Pesantren Darut Taqwa berisi sekolah menengah pertama sampai perguruan tinggi yang berisikan para santri yang mukim di Pondok Pesantren dan ada beberapa santri yang tidak mukim (ndodok). Lembaga formal yang ada sekarang berupa MTs Favorit Darut Taqwa, SMK Pesantren Terpadu, dan Sekolah Tinggi Islam Darut Taqwa. Berdirinya Lembaga formal di lingkungan Pondok Pesantren Darut Taqwa merupakan pelengkap dan pendukung untuk membekali para santri dalam menjalankan kehidupan dunia.
Pendidikan non formal yang berada di Pondok Pesantren Darut Taqwa berupa Madrasah Diniyah, sholat malam berjamaah, pengajian rutin, Thoriqoh Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah, dan Seloso Wagean. Dari berbagai Pendidikan non formal tersebut yang terlihat mencolok adalah Seloso Wagean yang berisi dzikir bersama Tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah yang diikuti oleh banyak orang baik berupa santri yang mukim maupun tidak mukim, laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua. Sehingga bisa dikatakan KH. Manshur Bahruddin tidak hanya memiliki santri yang berada di Pondok Pesantren, namun juga memiliki santri yang baiat Tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah. Orang-orang yang baiat tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah dianggap santri karena juga mengalami proses tarbiyah atau pendidikan seperti santri yang mukim di Pondok. Pendidikan tersebut berupa mendapatkan materi berupa tausiyah yang disampaikan oleh Mursyid dan ada kenaikan kelas atau maqom dzikirnya apabila sudah melakukan serangkaian riyadoh yang sudah ditentukan oleh sang guru yang dalam hal ini adalah yang menjadi Mursyid.
Tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah berisi dzikir kepada Allah yang merupakan Pendidikan utama Pondok Pesantren Darut Taqwa sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kegiatan tārekat yang ada di Pondok pesantren Darut Taqwa diadakan rutin setiap Selasa Wage yang dilaksanakan pada siang hari yang diawali dengan sholat dhuhur berjamaah, berbagai macam sholat sunnah, praktik dzikir, doa, tausiyah yang merupakan kegiatan rutin dalam implementasi tasawuf khususnya praktik dan pengembangan tārekat didominasi oleh orang dewasa, manula dan sebagaian santri senior dan jumlah pengikutnya mencapai ratusan dari berbagai daerah. Lewat kegiatan ini, KH. Manshur Bahruddin mengajarkan bagaimana mensucikan hati, membersihkan hati, dan mempertebal kekuatan iman yang telah dimiliki oleh para santri.
Kegiatan tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah yang diasuh oleh KH. Manshur Bahruddin juga mengajarkan bagaimana mengamalkan ihsan sekaligus memperbaiki mental, moral dan karakter masyarakat dengan cara halus. Cara halus yang dimaksud adalah dengan membina rohani melalui pengamalan berbagai ibadah ritual, serta pembelajaran berwawasan multikultural yang tercermin dalam berbagai aktifitas, seperti: pemahaman kewajiban tārekat diintegrasikan dengan konsep multicultural, peneladanan terhadap perilaku dan sikap kiai serta para pendahulunya dalam berinteraksi dengan masyarakat.
KH. Manshur Bahruddin melalui Pendidikan formalnya berupa sekolah menengah pertama sampai perguruan tinggi dan Pendidikan non formalnya berupa Madrasah Diniyah, Seloso Wagean, dan tārekat Naqsyabandiyah Wa Qodiriyah berusaha menyeimbangkan antara iman dan amal, antara teori dan praktik yang harus dimulai dari dalam melalui pelaksanaan ritual dan aktivitas tārekat. Melalui dua kegiatan Pendidikan tersebut, KH. Manshur Bahruddin berupaya mengembangkan nilai-nilai yang komprehensif melalui dua modus proses pembelajaran sebagai upaya membina rohani dan jasmani secara menyeluruh serta mengembangkan sikap multikultural yang dilandasi oleh keikhlasan sebagai upaya mewujudkan amal saleh, memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus bernilai dihadapan Allah SWT.

