(Sumber : doc. acara)

Sebuah Kebanggaan Menjadi Seorang Volunteer

Horizon

Eva Putriya Hasanah

  

Minggu lalu (26/5), saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman di acara Empowering Peace Builders Workshop yang mengangkat tema “Building Bridges, Breaking Barries”, yang bertempat di Surabaya Next Leader. Acara yang hanya di hadiri oleh 20 peserta yang telah di seleksi ini datang dari berbagai kampus di Surabaya, diantaranya UINSA, UNAIR, UNESA, dan beberapa kampus lainnya. 

  

Workshop yang dilaksanakan oleh Global Peace Youth Indonesia-Surabaya dan didanai oleh Indika Foundation ini dirancang untuk memberdayakan individu atau kelompok dalam konteks pembangunan perdamaian. Istilah \"empowering\" menekankan pada memberikan kekuatan atau kewenangan kepada peserta untuk terlibat dalam upaya perdamaian. Sesuai dengan temanya, Building Bridges: mencerminkan tujuan untuk menciptakan hubungan yang lebih baik antara individu atau kelompok yang mungkin memiliki perbedaan, konflik, atau perpecahan. Membangun jembatan bisa berarti membangun pemahaman, toleransi, dan kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat. Breaking Barriers: merupakan upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin menghalangi proses perdamaian. Hambatan tersebut bisa berupa ketidakpercayaan, ketegangan, perbedaan budaya atau bahasa, atau faktor lain yang menghalangi komunikasi dan kerjasama yang efektif. 

  

Saat saya diminta untuk menjadi salah satu pembicara dalam workshop tersebut, saya  merasa sangat senang karena kesesuaian tema dengan pengalaman dan kemampuan yang saya miliki. Oleh panitia saya diminta untuk menyampaikan topik \"Proud to be a volunteer\" materi yang saya anggap sangat melekat pada diri saya sejak lebih dari 10 tahun terakhir ini. 

  

Jika ada pertanyaan mengapa materi tentang sukarelawan menjadi bagian dari topik perdamaian? Jawabannya adalah bahwa keduanya justru memiliki hubungan yang erat. Berbicara tentang perdamaian faktanya tidak hanya terkait dengan menghentikan konflik, namun ada upaya-upaya lain yang bisa dilakukan bahkan sebelum konflik itu terjadi. Salah satunya bisa dilakukan melalui kegiatan sukarelawan. Melalui kegiatan sukarelawan yang sering kali bekerja dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, kita dapat membangun hubungan yang lebih baik antarindividu dan komunitas tanpa membedakan agama, suku, ras, dan budaya. Sehingga dapat memperkuat toleransi, saling menghormati, dan membangun jembatan antara kelompok yang terpisah oleh konflik. Selain itu, sukarelawan dapat terlibat dalam kegiatan pendidikan dan penyadaran untuk mempromosikan perdamaian. 

  

Pada acara minggu lalu, setidaknya terdapat tiga poin yang saya sampaikan kepada peserta yang hadir, diantaranya :

  

Menjadi Sukarelawan dan Rasa Bahagia

  

Diawal, saya membuka presentasi saya dengan hasil dari sebuah penelitian berjudul “Does Empowering Make Us Happier, Or Are Happier People More Likely to Volunteer? Addressing The Problem of Reverse Casuallty When Estimating Wellbeing Impact of Volunteering?”. Jurnal yang terbit di Journal of Happiness Studies tahun 2020 ini menemukan bahwa orang yang menjadi sukarelawan lebih bahagia daripada mereka yang tidak. Setiap dua tahun sekali dari tahun 1996 hingga 2014, para peneliti mengambil data dari hampir 70.000 peserta penelitian mengenai kebiasaan sukarela, kesehatan mental, tingkat stres, dan suasana hati mereka sehari-hari. Hasilnya? Menjadi sukarelawan tidak hanya membuat seseorang lebih bahagia, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang dari waktu ke waktu.


Baca Juga : Hukum Warisan Islam: Majmu’ al-Mirath fi Hukm al-Fara’id

  

Hubungan Lintas Generasi 

  

Saya banyak membagikan cerita pengalaman yang saya lalui, khususnya yang saya lakukan empat tahun terakhir ini bersama dengan teman-teman saya di daerah Dawarblandong. Kami bersama-sama mencoba membangun sebuah komunitas/organisasi yang fokus pada isu-isu sosial bernama Damar, yang sejauh ini telah berhasil membuat lebih dari 10 program dengan ribuan penerima manfaat. Tidak hanya sekedar membagikan pengalaman kami dalam membuat program, saya berupaya untuk menyampaikan hasil identifikasi tantangan-tantangan yang kami alami selama proses tersebut. Salah satunya terkait dengan penerimaan dan kerja tim yang terkait erat dengan hubungan lintas generasi. 

  

Perbedaan pandangan antar generasi adalah fenomena yang umum terjadi. Setiap generasi memiliki pengalaman hidup, nilai-nilai, dan pandangan dunia yang berbeda. Perubahan sosial dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya memainkan peran penting dalam perbedaan pandangan itu. Setiap generasi memiliki nilai-nilai, norma, dan harapan yang berbeda. Misalnya, pandangan tentang kebebasan individu dapat berbeda antar generasi. Generasi yang lebih muda mungkin lebih terbuka terhadap perubahan sosial dan nilai-nilai inklusif, sementara generasi yang lebih tua mungkin mempertahankan nilai-nilai tradisional yang mereka anut.

  

Pendidikan dan pengalaman hidup juga memengaruhi pandangan generasi. Generasi yang lebih muda mungkin memiliki akses ke pendidikan yang lebih baik dan beragam pengalaman yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap dunia. Mereka mungkin memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang isu-isu global, lingkungan, kesehatan mental, atau hak asasi manusia. Sementara itu, generasi yang lebih tua mungkin memiliki pengalaman hidup yang berbeda, seperti perang atau perubahan sosial yang signifikan, yang membentuk pandangan mereka.

  

Perbedaan tersebut memunculkan bahasa, gaya komunikasi, dan pemahaman yang dapat menjadi tantangan dalam mengerjakan proyek-proyek sosial. Hal ini terkait dengan kerjasama tim maupun penerimaan terhadap proyek sosial yang akan kita lakukan. 

  

Untuk membangun pemahaman yang lebih baik dan kerjasama yang harmonis antara generasi yang berbeda, penting untuk memahami konteks, menghormati dan menghargai perbedaan pandangan. Setiap generasi memiliki kontribusi yang berharga dalam membangun masyarakat yang yang lebih baik. Generasi yang lebih muda dapat belajar dari pengalaman dan kebijaksanaan generasi yang lebih tua, sementara generasi yang lebih tua dapat membuka pikiran mereka terhadap perspektif baru dan inovasi yang dibawa oleh generasi yang lebih muda.

  

Melalui dialog yang terbuka dan saling mendengarkan, perbedaan pandangan antar generasi dapat menjadi sumber kekuatan dan inspirasi. Dalam membangun pemahaman yang lebih baik, penting untuk melihat perbedaan sebagai peluang untuk belajar, tumbuh, dan menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Dengan membangun kerjasama yang harmonis antara generasi yang berbeda, kita dapat mencapai tujuan bersama dalam mewujudkan dunia yang lebih baik bagi semua generasi yang akan datang.

  

Pentingnya Riset dalam Dunia Sukarelawan

  

Riset memiliki peran yang sangat penting dalam upaya memastikan keberhasilan dan keberlanjutan proyek yang akan dilakukan di masyarakat. Setiap masyarakat memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, tergantung pada konteks sosial, budaya, dan ekonomi tempat proyek akan dilaksanakan. Melalui riset, kita dapat mengumpulkan data dan informasi serta mengidentifikasi hal-hal yang ada di masyarakat yang akan menjadi dasar untuk merancang proyek yang sesuai. Dengan memahami kebutuhan dan harapan masyarakat, proyek sosial dapat lebih relevan dan berdampak positif bagi masyarakat yang menjadi sasaran proyek.

  

Selain itu, masyarakat adalah subjek utama dari proyek sosial, oleh karena itu, melibatkan mereka dalam proses perencanaan dan pelaksanaan proyek sangat penting. Melalui riset, kita dapat mengidentifikasi siapa yang perlu terlibat, bagaimana cara terbaik untuk melibatkan mereka, dan bagaimana meningkatkan partisipasi mereka dalam proyek. Keterlibatan masyarakat dalam proyek sosial meningkatkan rasa memiliki, memperkuat keberlanjutan proyek, dan memastikan keberhasilannya dalam jangka panjang. Ada beberapa metode yang bisa membantu untuk melakukan riset semacam ini. Pada kesempatan kemarin saya menyampaikan diantaranya tiga metode yakni PAR (Participatory Action Research), ABCD (Asset Based Community Development), dan CBPR (Community Based Participatory Research). Singkatnya, PAR menekankan pada permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang digunakan untuk merumuskan program. Sedangkan ABCD merupakan pendekatan yang mengarah kepada pengembangan asset. Terakhir, CBPR itu pendekatan yang merupakan kolaborasi antara PAR dan ABCD. Namun, tentu ada banyak model riset lain yang bisa digunakan sebelum membuat sebuah program.