(Sumber : alchetron.com)

Mencapai Kebahagiaan Sejati

Riset Agama

Tulisan berjudul “Achieving True Happiness: A Study of Muhammad Hossein Tabatabai’s Philosophical-Mystical Thought\" merupakan karya Mukhammad Zamzami, Abdullah Hosseiniedkandian, Achmad Muhibin Zuhri, Abdullah Haq Al Haidary, dan Ali Babaei. Artikel ini terbit di Jurnal Ilmiah Islam Futura tahun 2023. Kajian ini menggunakan pendekatan filosofis-sufistik dalam pola deskriptif-analitik untuk mengulas esensi kebahagiaan, hubungan antara kebahagiaan, kebaikan dan kesenangan menurut Tabatabai. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, pengertian dan hakikat kebahagiaan. Ketiga, kebahagiaan, kebaikan dan kenikmatan. Keempat, kebahagiaan sejati. 

  

Pendahuluan

  

Berdasarkan sudut pandang filosofis, para nabi diutus untuk membimbing umatnya melalui perintah ilahiah. Tindakan memperoleh pengetahuan hanya dapat dilakukan melalui izin Allah SWT. Hal ini disebabkan Tuhan yang menganugerahi manusia sarana kognisi, sehingga manusia mampu melihat wujud keindahan dan kebenaran melalui petunjuk para nabi. Secara logis, kebahagiaan spiritual hanya dapat dicapai dengan menaati perintah Allah SWT, sebab fitrah manusia hanya dapat mencapai kebahagiaan bila berserah diri pada kehendak-Nya. 

  

Salah satu persoalan mendasar yang dibicarakan dalam filsafat dan etika kuno adalah kebahagiaan manusia dan cara mencapainya. Sepanjang sejarah, terdapat pandangan dan pendekatan yang berbeda telah diungkapkan oleh para filsuf Yunani Kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan para filosof Islam seperti Al-Farabi, Ibnu Miskawaih, Ibnu Sina, dan Mulla Sadra. Para pemikir modern juga memberikan perhatian yang sama terkait kebahagiaan, namun mereka sepakat bahwa kebahagiaan adalah keinginan tertinggi dan cerminan hakikat kesempurnaan umat manusia.

  

Mohammad Hossein Tabatabai adalah seorang mistikus Syiah, filsuf, dan akademisi yang memainkan peran penting dalam perkembangan pemikiran Islam modern. Ia menghasilkan banyak karya penting dalam bidang filsafat, teologi, etika, tafsir, hadis bahkan mistisme. Tabatabai mendefinisikan kebahagiaan sebagai “kebaikan tertinggi” yang dimiliki manusia, sesuai dengan kodratnya yang ingin dicapai. Lebih lanjut, ia membedakan dua jenis kebahagiaan yakni kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, ia menekankan bahwa dunia adalah tempat memperoleh kebahagiaan tapi bukan untuk mencapainya. Sedangkan, kebahagiaan hakiki hanya dapat ditemukan dalam kedekatan seseorang dengan Tuhan. 

  

Pengertian dan Hakikat Kebahagiaan

  

Tabatabai mendefinisian kebahagiaan melalui pendekatan filosofis dan mistisme. Ia menjelaskan konsep umum kebahagiaan dari sudut pandang filosofis, namun ketika membahas kebahagiaan sejati, ia beralih pada sudut pandang yang lebih esoteris. Baginya, kebahagiaan diperuntukkan bagi mereka yang telah mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi, berangkat dari tingkat intelektual dan spiritual. 

  

Tabatabai menawarkan gambaran komprehensif dan umum mengenai kebahagiaan, mengingat penguasaannya terhadap ilmu tafsir, hadis, tasawuf, etika dan filsafat. Pada hakikatnya manusia menyukai kebahagiaan dan berupaya mencapainya. Baginya, kebahagiaan atas segala sesuatu adalah tercapainya kebaikan sehingga melalui amal itu dapat mendapat kesempurnaan dan manfaatnya. Makna kebahagiaan adalah bermanfaat bagi sesama, sedangkan penderitaan adalah segala sesuatu yang jahat bagi manusia, karena manusia. Artinya, manusia secara naluriah mengetahui apa yang diinginkan dan tidak. Apa pun yang secara inheren diinginkan dan dapat terwujud, maka itulah kebahagiaan, sedangkan segala sesuatu yang dianggap tidak diinginkan kemudian terwujud, maka itulah penderitaan.


Baca Juga : Optimisme Tahun 2023: ADP untuk Indonesia (Bagian Dua)

  

Menurut pemahaman Tabatabai terhadap ayat Al-Qur’an, kebahagiaan dan penderitaan bukan sesuatu yang melekat pada diri manusia, melainkan pilihan. Ia mengutip Q.S Al-Mu’minun ayat 106 yang menjelaskan bahwa, orang-orang kafir yang masuk negara terpaksa mengakui bahwa mereka sendiri telah melakukan kesalahan dengan mengikuti jalan yang salah. Sebaliknya, jika ada kebahagiaan dan penderitaan tidak didapatkan secara sukarela, maka janji Surga dan Neraka tidak ada artinya. Meskipun orang-orang kafir akan menyalahkan diri sendiri, mereka juga menganggap dirinya sebagai korban ketidakadilan. Mereka akan melihat jiwa mereka sebagai piring tak berwarna yang bisa berubah menjadi warna kebahagiaan atau penderitaan. 

  

Kebahagiaan adalah hal wajar bagi manusia. Semua orang menginginkannya. Cara mencapai kebahagiaan dari dalam diri adalah dengan mengikuti perintah Tuhan yang Maha Esa. Artinya, kebahagiaan adalah kembali pada keadaan semula sebagai manusia yang diciptakan yakni di Surga. 

  

Kebahagiaan, Kebaikan dan Kenikmatan

  

Menurut Tabatabi, sesuatu dikatakan baik ketika membandingkannya dengan hal lai, kemudian menemukan maksud dan tujuan. Namun, apa yang didefinisikan sebagai baik, bergantung pada tujuan yang dipilih. Berdasarkan sudut pandang spiritual, kebahagiaan adalah kebaikan tertinggi yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Kedekatan dengan Tuhan adalah kebaikan tertinggi yang diinginkan semua manusia. Bagi Tabatabai, kebahagiaan sejati adalah tujuan baik manusia yang berusaha keras untuk mencapainya, sehingga berada pada tingkatan paling berharga dan unggul. 

  

Lebih lanjut, Tabatabai mendefinisikan kenikmatan dengan menjadikannya tiga kategori. Pertama, kenikmatan dari alam seperti segala jenis makanan, buah-buahan, dan keindahan sekitar. Kedua, kenikmatan intelektual yakni usaha memperbaiki kehidupan duniawi manusia dan tidak menimbulkan kerugian atau merusak iman seseorang. Selain itu, berpikir mengenai penciptaan dan menggunakan akal untuk meningkatkan taraf hidup masuk dalam kategori ini. Ketiga, mencakup kenikmatan yang meskipun mereka intelektual, tapi didorong oleh kesombongan dan keserakahan sehingga menyebabkan kehancuran, seperti kemajuan ilmiah yang tujuannya tidak etis. 

  

Menurut ajaran al-Qur’an yang menjadi dasar pandangan Tabatabai berasal, setiap manusia terdiri dari jiwa yang kekal dan tubuh yang fana. Manusia akan kembali pada Tuhannya. Setiap kenikmatan baik fisik, intelektual atau emosional tidak menghalangi seseorang untuk mengingat Tuhan dan menaati perintahnya. Kadang, beberapa peristiwa yang menimbulkan kesakitan fisik akan menimbulkan kebahagiaan pada jiwa abadinya, seperti syahid di jalan Tuhan. 

  

Kebahagiaan Sejati

  

Tabatabai menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bisa dicapai melalui kedekatan dengan Tuhan. Kedekaan dengan Tuhan menghadapkan orang-orang mukmin kepada rahmat dan ampunan Ilahi serta menempatkan mereka dalam posisi tidak ada kesedihan. Mereka tidak mengalami kekurangan, dan apa pun yang diinginkan pasti tersedia. Namun, untuk mencapai posisi ini, mereka harus mengikuti perintah Tuhan yang Maha Esa dan menjauhi tindakan dosa. Sesungguhnya dunia adalah tempatnya memperoleh kebahagiaan dan di akhirat adalah tempat kebahagiaan terwujud. Tabatabai menyimpulkan bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati ditentukan oleh Allah SWT dan diajarkan para nabi. 

  

Selanjutnya, Tabatabai membagi kebahagiaan menjadi kebahagiaan duniawi dan akhirat. Kebahagiaan duniawi terkait materi, sedangkan kebahagiaan akhirat terkait rohani. Baginya, manusia memiliki dua dimensi tubuh dan jiwa. Masing-masing dimensi ini memiliki kebutuhan sendiri dan berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan adalah tingkat kebenaran yang dicapai setiap orang sesuai dengan tingkat perbuatan baik dan langkah yang mereka ambil di jalan Tuhan.  

  

Tabatabai mendasarkan gagasannya pada al-Qur’an, tradisi agama, dan nalar yang membahas isu sentral seperti kebahagiaan dan memberikan penjelasan yang ilmiah. Pertama, sifat manusia terus menerus berusaha mencapai kesempurnaan. Kebahagiaan apa pun ada pada pencapaian kebaikan sehingga melalui amal dapat mencapai kesempurnaannya. Kedua, kebahagiaan pada diri manusia diberkahi dengan tubuh dan jiwa adalah kebaikan jasmani dan rohani yang menyebabkan kebahagiaan. Ketiga, kebahagiaan bersifat universal dan tidak dipengaruhi oleh waktu atau tempat. Keempat, kenikmatan saja bukan kriteria kebahagiaan, karena tidak semua kenikmatan baik, dan tidak semua kenikmatan membawa kebahagiaan. Kelima, jalan yang telah ditetapkan Allah SWT untuk ditempuh umat manusia, kebahagiaan adalah jalan yang aman, bebas dari kesalahan. Artinya, setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri. Keenam, kebahagiaan sejati diwujudkan di akhirat yang bersifat kekal. Ketujuh, kebahagiaan adalah kebenaran yang dimiliki setiap orang dan dicapai dengan perbuatan baik. 

  

Kesimpulan

  

Berdasarkan sudut pandang Tabatabai, manusia di utus untuk melakukan ibadah sebagai perintah Ilahi. Masalah kebahagiaan terkait erat dengan makna hidup, hasil, dan tujuan akhirnya. Filsfuf muslim modern Muhammad Hossein Tabatabai mengkaji sifat kebahagiaan secara komprehensif. Kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui kedekatan dengan Tuhan. Oleh sebab itu, kebahagiaan sejati mengharuskan orang beriman melakukan amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa. Sejalan dengan pemikiran Islam, kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai di akhirat. Kebahagiaan dalam hidup ini bertapa pun tajam dan dirasakan, hanya imajinasi dari kebahagiaan sejati orang beriman yang telah memperoleh izin Tuhan untuk memasuki Surga.