(Sumber : konde.co)

Perempuan dan Kekerasan Simbolik dalam Ceramah

Horizon

Eva Putriya Hasanah

  

Kekerasan memiliki bentuk yang berbeda-beda dan tidak selalu melibatkan kekerasan fisik. Kekerasan verbal dan simbolik menjadi salah satu contohnya. Kekerasan semacam ini bisa terjadi dalam ruang lingkup manapun, bahkan di ruang lingkup dakwah sekalipun.

  

Kekerasan simbolik bisa dimaknai sebagai kekerasan yangmana korbannya tidak menyadari adanya kekerasan tersebut. Kekerasan ini beroperasi melalui bahasa, simbol, dan representasi. Sederhananya, kekerasan simbolik ini biasa dilakukan secara verbal atau melalui kata-kata yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain.

  

Sebuah tesis berjudul “Konten Ceramah Dai Jawa Timur dalam Kanal Youtube pada Tahun 2021 (Studi Tentang Perempuan dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis)”, meneliti konten tentang perempuan dalam beberapa video ceramah milik dai tertentu di YouTube. Hasilnya menunjukkan, bahwa pada ceramah-ceramah tersebut terdapat narasi bias gender yang menempatkan posisi perempuan dan laki-laki dalam kondisi yang timpang. Inilah yang kemudian dianggap sebagai kekerasan simbolik. 

  

Dalam konteks ceramah, teori kekerasan simbolik milik Pierre Bourdieu mengatakan bahwa seorang dai memiliki kapital simbolik, yakni pengakuan sosial di tengah masyarakat yang dapat dikonversikan kedalam bentuk-bentuk kapital atau modal yang lain. Dai di mata masyarakat di pandang sebagai tokoh agama yang memiliki kedudukan lebih tinggi dan keilmuan lebih di banding dengan masyarakat, sehingga di lihat sebagai panutan bagi semua orang yang harus dihormati dan disegani. Apalagi didukung oleh kontruksi sosial dan budaya di masyarakat bahwa dai adalah orang-orang yang memiliki standar perilaku yang baik di depan publik. Logika dominasi ini menunjukkan bahwa simbol diterima oleh keduabela pihak, dai dan masyarakat. Sehingga teks-teks bias gender semacam itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan bersifat alamiah. Dengan kata lain "perempuan memanglah begitu".

  

Disamping itu, adanya sistem patriarki yang mendarah daging di masyarakat mendukung adanya bias gender yang banyak terjadi di dalam konten ceramah dai. Sistem patriarki di masyarakat merupakan struktur atau budaya masyarakat yang meletakkan posisi perempuan dibawah laki-laki. Menurut pandangan zikzek sebagaimana di kutip dalam tulisan Eko Mukminto, kekerasan pada perempuan merupakan symptom atau gejala dari sesuatu yang tak kasat mata yakni ideologi patriarki. Selaras dengan itu, pendapat An Nisaa Yovani, seorang mahasiswi sekaligus pendamping penyintas kekerasan seksual di Bandung menyebutkan bahwa stereotip dan stigma terhadap perempuan di Indonesia terjadi karena adanya budaya patriarki yang melekat dan diproduksi secara terus-menerus. Sistem ini melalui proses yang panjang dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya di bentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara.

  

Akibatnya, narasi-narasi bias gender semacam ini bisa memberikan implikasi yang negatif. Narasi rasio gender yang timpang itu secara tidak sengaja akan memotivasi masyarakat khususnya para lelaki untuk bertindak menempatkan posisi perempuan dibawah dengan membatasi ruang geraknya. Menurut penelitian dari Western California University menunjukkan bahwa orang yang kerap terpapar humor seksis dapat menyebabkan orang tersebut mentoleransi perilaku memusuhi dan mendeskriminasi perempuan. Serta orang yang terpapar humor dan gambar seksis cenderung setuju dengan pemotongan dana bagi organisasi perempuan.