(Sumber : MA Alif Laam Miim Surabaya )

Persaudaraan Abadi

Horizon

Oleh:  Sirajul Arifin

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Ide menulis muncul saat acara Wisuda ke-104 UINSA Surabaya hari ini, 20 Agustus 2023. Munculnya ide ini ketika saya teringat momen penting bahwa semua Guru Besar umumnya hadir dalam setiap Rapat Senat Akademik baik rapat tertutup maupun rapat terbuka. Rapat terbuka yang bertepatan dengan hari kelahiran Prof. Ahmad Imam Mawardi jelas tidak dapat dihadiri karena beliau telah dipanggil pulang untuk menghadap Sang Ilahi dua tahun lalu. Kepulangannya yang digelar bersamaan dengan hari kelahirannya mengesankan sejuta kenangan, kenangan yang dialami banyak orang, banyak relasi, dan banyak saudara. 

  

Kenangan dengan saudara biologis mungkin merupakan kenangan yang biasa dan wajar, namun kenangan bersama teman layaknya saudara biologis adalah hal yang luar biasa. Saya adalah termasuk kategori yang terakhir. Bukan saudara tapi terkesan seperti saudara, karenanya, saya sebut sebagai saudara abadi yang tak terpisahkan jarak, tempat, dan waktu. Jarak boleh jauh, tempat bisa berbeda, dan waktu tidak bersama, tapi hati seakan bersamanya selamanya. Hubungan hati dibangun sejak masih bersama-sama di bangku SMA. Beda jurusan tapi seakan satu jurusan. Semula memang ditetapkan satu jurusan, IPA, tapi karena saya memiliki ekspektasi masa depan yang berbeda, maka terpaksa saya mengajukan pindah jurusan yang berbeda. 

  

Perbedaan jurusan tidak memisahkan hubungan hati persaudaran menjauh. Hati persaudaraan semakin lekat karena saya dan almarhum berasal dari daerah dan suku yang sama. Hubungan persaudaran terjalin selama tiga tahun, 1986-1989. Selepas SMA di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, hubungan persaudaraan seakan terputus. Tidak ada lagi komunikasi. Tidak ada lagi teman diskusi. Tidak ada lagi teman bermain. Tidak ada lagi teman yang bersama-sama berebut nasi barokah—tradisi dulu saat saya di pondok dan mungkin kini telah tiada. 

  

Hubungan seakan sirna karena antara saya dan almarhum memiliki tujuan pendidikan lanjut yang berbeda. Saya tidak tahu beliau mau ke mana karena tidak saling memberitahu. Saya bertahan studi di pondok, sedangkan beliau bercita-cita besar menimba ilmu di tempat lain. Kurang lebih 8 tahun tidak pernah bersua. Baru bertemu kembali saat saya sedang mempersiapkan studi S1 kedua di Universitas Indonesia Jakarta. Pertemuan ini tak terencana, pertemuan tak terduga. Tempat pertemuan pertama setelah 8 tahun tak nyambung adalah masjid Ulul Albab. Masjid kampus terbesar saat itu, yaitu masjid IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya. 

  

Masjid kampus inilah yang mempertemukan kembali hubungan persaudaraan. Masjid ini jualah yang mengikat status ASN saya dengan beliau, sekalipun awal menjadi ASNnya tidak bersama. Saat bertemu pertama kali, beliau sudah menjadi ASN, sementara saya masih akan menjalani studi ikatan dinas di Universitas Indonesia. Selama menjalani studi di Jakarta saya kembali tidak saling ketemu karena kendala media komunikasi. Handphone kala itu belum ada atau mungkin belum saya miliki. Maklum saya orang desa bahkan orang kepulauan yang tidak tersentuh oleh arus teknologi.

  

Teknologi mulai menjangkiti saat saya berproses dalam menimba ilmu bersama-sama dengan mahasiswa lain dari berbagai pelosok Nusantara. Ada 28 orang dari seluruh provinsi mendapatkan scholarship dari pemerintah Kanada atas kerjasamanya dengan pemerintah Indonesia. Beasiswa ikatan dinas ini tentu tidak jauh berbeda dengan beasiswa yang juga diterima oleh Prof. Imam walau dengan skema yang berbeda. Perbedaan skema beasiswa tidak mereduksi keutuhan hati persaudaran tetapi justeru semakin memperkuat dan mengokohkannya. Entah, "apakah ini merupakan sinyal persaudaraan abadi?" Tentu ini perlu kita amati perjalanan panjang bersama almarhum. 


Baca Juga : Menjaga Harmoni Intern Umat Beragama

  

Dua tahun sempat berpisah dan kemudian bertemu kembali pada tahun 2000 di tempat yang sama, yaitu masjid Ulul Albab. Lagi-lagi masjid ini yang mempertemukan saya dengan beliau. Pertemuan ini memang terjadi, namun kejadiannya tidak merefleksikan pertemuan yang intens. Frekuensi pertemuan tereduksi oleh kegiatan masing-masing. Saya sibuk dengan tugas-tugas kelas karena sepulang dari UI saya berkesempatan mendapatkan beasiswa S2 IAIN Sunan Ampel, sementara almarhum aktif safari ilmiah dari satu tempat ke tempat yang lain, tidak hanya di wilayah Jawa Timur tetapi juga di hampir semua provinsi. 

  

Tahun 2002 adalah awal tahun yang mengawali pertemuan yang intens karena saya sudah selesai studi, sementara di tahun itu pula Prof. Imam memiliki proyek besar dari pemerintah Provinsi Jawa Timur. Proyek penguatan kebangsaan menjadi titik temu dalam memperkuat tali persaudaraan. Setiap akhir pekan keliling dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain. Proyek kebangsaan ini dipimpin langsung oleh beliau. Saya sebagai sekretaris banyak belajar dari kehebatan keilmuan dan kepiawaian jaringannya. Jaringan yang beliau bangun tidak hanya jaringan lokal dan nasional tetapi juga menyentuh jaringan internasional. 

  

Pengalaman bersamanya memberikan banyak pelajaran. Pelajaran tentang ilmu tentu tidak bisa dihindari dan pasti mengesankan. Namun yang lebih mengesankan adalah pelajaran tentang kepedulian kepada orang lain. Banyak rezeki yang diperoleh melalui kealimannya dan melalui jaringannya. Dari mana pun sumber rezekinya, beliau sisihkan untuk membantu orang lain. Orang yang berkebutuhan secara ekonomi beliau bantu baik bantuan untuk sekadar dapat bertahan hidup maupun anak-anak muda yang berbakat dan memiliki semangat untuk melanjutkan studi namun tidak memiliki biaya. 

  

Mereka menjadi penerus perjuangannya sekalipun mungkin perjuangan dalam medan yang berbeda dengan orang tua asuhnya. Saya anggap almarhum adalah orang tua asuh mereka. Hingga kini tidak banyak yang tahu tentang hal ini, dan mungkin tidak perlu tahu. Ini wasiat almarhum bahwa apa pun yang diberikan oleh tangan kanan, maka tangan kiri seharusnya tidak boleh mengetahuinya. "Ini yang diajarkan dalam Islam", kilahnya. Masih banyak pengalaman bersamanya yang tidak dapat diungkap dalam episode singkat ini. Tapi ada hal yang cukup mengesankan adalah saat mendiskusikan nasib pendidikan. 

  

Setiap kali pergi dan pulang dari acara selalu muncul pertanyaan, "kapan kita studi lanjut?". Monggo! Pak Imam duluan! "Tidak boy (sebutan akrab ketika memanggil saya), kita bersama saja!" Saya timbali lagi, Pak Imam sebaiknya lanjut di luar negeri karena S2nya sudah di Kanada. Tapi beliau tetap keukeh untuk kuliah dalam negeri karena menurutnya jika kuliah di luar, maka saya tidak bisa membersamai jamaah. Lagi-lagi beliau masih mikir orang lain. Urusan pribadinya dikesampingkan ketika berbenturan dengan urusan orang lain. Kata beliau, "barangkali setetes ilmu yang saya berikan bermanfaat untuk kebaikan banyak orang."

  

Komitmen berbagi ilmu sangat luar biasa, tak mengenal waktu, tak mengenal lelah, tak mengenal sakit. Bahkan saat sakit pun seketika sembuh jika sudah naik panggung. Panggung berbagi ilmu menjadi obat paling manjur untuk penyembuhan rasa sakit dan penyakitnya sekalipun. Pengalaman ini kerap saya jumpai setiap saya membersamainya dari satu panggung ke panggung yang lain. Setelah manggung di suatu tempat, jika tidak salah setelah pengajian dalam rangka haul KHR. Syamsul Arifin, pada 2007, ada pengumuman beasiswa S3 dari Kementerian Agama RI. Saat itu kita diskusi cukup serius dan kemudian sepakat untuk daftar S3 bersama. Saya dan beliau bersama-sama menyiapkan diri untuk mengambil peluang beasiswa. Dan, ternyata Allah memberikan jalan terbaik, saya dan beliau "dinyatakan diterima" walau di tempat yang berbeda. Saya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sedangkan beliau di UIN Sunan Ampel Surabaya. 

  

Dua tempat yang berjauhan, untuk konteks ini, tidak mengurangi intensitas pertemuan sekalipun ada jarak. Jarak tidak menjadi penghalang untuk saling bertemu dan berbagi. Pertemuan selalu dilakukan secara online. Kita selalu diskusi dan saling memberi informasi tentang bahan artikel. Artikel yang merupakan tugas wajib bagi setiap mahasiswa sangat mudah diselesaikan. Tidak ada tugas yang tidak bisa segera diselesaikan. Semua tugas dari dosen selesai sesuai timeline. Ketepatan waktu penyerahan dan presentasi artikel bisa terlaksana karena bahan pembuatan artikel telah tersedia dalam berbagai platform digital. 

  

Platform digital yang biasa diakses Prof. Imam, dan sebaliknya, saling shared untuk memudahkan hunting bahan artikel dan bahan diskusi kelas. Platform digital untuk koleksi jurnal, buku, prosiding, dan koleksi lainnya diperoleh dari langganan dua perguruan tinggi besar, UINSA dan UIN Suka, serta perguruan tinggi mitra. Jika bahan tidak ditemukan dari platform digital kedua institusi besar tersebut, maka masih banyak mitra lain yang cukup aware dengan kebutuhan saya dan beliau. Dalam hal ini, saya dan beliau terus memanfaatkan mitra. Beliau memanfaatkan mitra luar negeri, sementara saya mendekati kawan-kawan yang pernah bersama di Universitas Indonesia.

  

Saya manfaatkan kolega saya yang hampir seluruhnya adalah kepala perpustakaan di PTKIN se-Indonesia. Setiap PTKIN memiliki langganan e-jurnal dan e-book. Jika saya atau Prof. Imam yang butuh, maka saya mintakan ke kolega saya. Inilah cara-cara yang dilakukan selama penyelesaian studi S3. Melalui cara ini pulalah, studi saya dan beliau selesai dan bersama-sama meraih gelar Doktor. Doktor telah diraih bersama, namun jabatan akademik tertinggi “Profesor” dicapai beliau lebih awal. Beliau dikukuhkan enam bulan sebelum dipanggil untuk menghadap Sang Ilahi. 

  

Beliau dipanggil di saat pandemi Covid-19. Kegiatan Senat Akademik tidak pernah dilakukan saat itu. Padahal setelah beliau dikukuhkan, beliau tercatat sebagai anggota Senat Akademik UINSA Surabaya. Karena itulah, saat saya duduk dalam ruang Sidang Terbuka hari ini saya ingat beliau dan sontak tangan saya bergetar untuk menuangkan cerita pendek di sela-sela rangkaian upacara wisuda hari. Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk acara "haul kedua" almarhum malam ini (20 Agustus 2023) sebagai bentuk rasa persaudaraan abadi yang tidak pernah putus sekalipun badai kuat menerpanya. Hati persaudaran terus bersemai sampai kapan pun dan tidak terhenti oleh batas waktu. Semoga cerita singkat ini sebagai saksi kebaikan beliau dan menjadi jembatan emas yang mengantarkannya menuju surgaNya. Aamiin.