Dari Tanggung Jawab Individual Ke Sosial: Makna Wisuda Sarjana UINSA
KhazanahTiba-tiba saja ingatan saya melayang ke tahun 1985, kala saya menghadiri acara wisuda di IAIN Sunan Ampel. Saya lulusan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Tepatnya pada Program Studi Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI). Ada belasan kawan saya yang diwisuda, khususnya dari Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Wisuda di IAIN Sunan Ampel pada waktu itu diikuti oleh cabang-cabang IAIN Sunan Ampel, misalnya IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan, IAIN Sunan Ampel Cabang Malang, IAIN Sunan Ampel Cabang Kediri, IAIN Sunan Ampel Cabang Tulungagung, IAIN Sunan Ampel Cabang Ponorogo, IAIN Sunan Ampel Cabang Jember, dan IAIN Sunan Ampel Cabang Mataram.
Meskipun yang hadir di dalam acara wisuda pada tahun tersebut berasal dari berbagai daerah, akan tetapi jumlahnya tentu tidaklah banyak. Pada waktu itu, yang memasuki IAIN Sunan Ampel masih terbatas. Menjadi sarjana sudah capaian yang luar biasa. Kabanyakan setelah menyelesaikan program Bachelor of Art (BA) maka tidak melanjutkan pada program Doktorandus (Drs). Ada di antaranya yang langsung bekerja di sector pemerintahan, swasta atau berusaha di sector perdagangan. Ada yang menjadi guru, menjadi PNS atau berdagang, dan juga ada yang mendirikan pesantren atau menjadi kiai. Ada yang mendirikan Lembaga Pendidikan atau menjadi kepala sekolah atau kepala Madrasah atau ketua Yayasan. Pada waktu itu memperoleh gelar BA atau BcHK itu sudah luar biasa.
Sekarang tentu berbeda. Istilah BA sudah tidak lagi dikenal. System pendidikan model Belanda diganti dengan model Amerika, sehingga dikenal istilah SKS atau Sistem Kredit Semester dan gelarnya menjadi sarjana/Strata I, magister/Strata II dan doctor/strata III. Wisuda pada tahun 1985 dengan sekarang tentu sangat jauh berbeda. Di masa lalu hanya ada ilmu-ilmu keislaman, sementara sekarang terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan dan program studi yang sangat variative. Tentu juga terkait jumlah wisudawan yang sangat berbeda.
Di dalam wisuda sarjana, magister dan doctor pada tahun 2023 atau semester genap 2022/2023, maka wisuda dilakukan selama tiga hari, Jum’at/18/08/23, Sabtu/19/08/23 dan Ahad/20/08/23. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 2.645 orang dengan rincian Program Doktor 39 orang, Magister 167 orang, Fakultas Syariah dan Hukum 400 orang, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat 257 orang, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 455 orang, Fakultas Dakwah dan Komnikasi 288 orang, Fakultas Adab dan Humaniora 176 orang, Fakultas Sains dan Teknologi 225 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 407 orang, Fakultas Psikhologi dan Kesehatan 85 orang dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 146 orang.
Sesungguhnya tugas lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas SDM. Hingga dewasa ini masih diyakini bahwa salah satu instrument yang paling mendasar dalam pengembangan SDM adalah pendidikan. Semakin banyak alumni program sarjana, magister dan doctor, maka akan semakin berkualitas sebuah negara. Indonesia masih jauh dibandingkan dengan negara-negara maju, misalnya saja Amerika Serikat dengan 2% doktor dari populasi, Inggris 2% doctor dari populasi, yang tertinggi adalah Slovenia 3,7% doctor dan Swiss 3% doktor. Jumlah doctor di Indonesia sebesar 59.197 orang. Jika diprosentasekan sebesar 0.02 persen. Total populasi di Indonesia 272,23 juta orang.
Perbandingan jumlah doctor dengan populasi, misalnya Indonesia hanya memiliki 143 doktor per 1 juta orang, Malaysia sebanyak 509 orang doctor per 1 juta orang, Amerika 9.850 orang doctor per 1 juta orang, Jermah sebanyak 3.990 orang doctor per 1 juta populasi, Jepang dengan 6.438 orang doctor per 1 juta orang, India 3.420 doktor per 1 juta orang. Data tersebut memberikan gambaran bahwa Indonesia sangat tertinggal dibandingkan dengan negara lain.
Wisuda sarjana tidak hanya untuk pencapaian gelar akademis, akan tetapi merupakan capaian kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemerintah tentu sangat penting untuk mendorong dan mendukung program pendidikan. Jika dikomparasikan dengan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen, maka anggaran terbesar digunakan untuk pembiayaan rutin, seperti gaji, tunjangan dan sertifikasi tenaga pendidik. Prosentasenya berkisar dalam angka 60 persen pada tahun 2018. Sekarang tentu lebih besar lagi seirama dangan pengembangan jumlah tenaga pendidik. Anggaran pendidikan tahun 2023 sebesar 612, 2 trilyun, namun mayoritas digunakan untuk pembiayaan rutin. Melalui anggaran rutin dan belanja pegawai yang lebih besar dari belanja modal, maka pembiayaan untuk pengembangan di dalam berbagai aspeknya menjadi kurang. Melalui skema penganggaran pendidikan seperti itu, maka terjadi paradoks antara cita-cita negara untuk mengembangkan pendidikan berkualitas, sebagaimana tercantum di dalam RPJMN 2019-2024, dengan kenyataan empiris di institusi pendidikan.
Namun kita tetap harus bersyukur bahwa di tengah anggaran pendidikan yang terbatas, ternyata lembaga pendidikan masih mampu berkiprah untuk menghasilkan sarjana, magister dan doctor. Sebagaimana yang saya lihat hari ini, Ahad/20/08/2023, maka UINSA melahirkan sarjana, magister dan doctor baru untuk menambah jajaran jumlah kaum terdidik sebagai insan well educated di Indonesia. Ada di antara mereka yang memiliki gelar S.Ag, S.Sos, S.H, S.Pd, S.Hum, S.Si, M.E, M.H, M.Pd, dan Dr. Pencapaian gelar akademik tentu merupakan penanda bahwa para wisudawan sudah memiliki seperangkat ilmu sesuai dengan keahliannya.
Setelah menjadi sarjana, maka mereka telah menjadi manusia Indonesia yang unggul. Bisa dibayangkan bahwa mereka masuk dalam jajaran 6% penduduk Indonesia yang well educated. Disebabkan oleh achievement tersebut, maka cara berpikir, bertindak dan menyelesaikan masalah social kemasyarakatan akan sangat berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Mereka sudah dibekali dengan kemampuan berpikir rational, sistematis dan metodologis untuk problem solving sesuai dengan keilmuannya. Jika selama ini mereka hanya berperan, berfungsi dan bertanggungjawab untuk dirinya sendiri, maka ke depan peran, fungsi dan tanggungjawabnya menjadi melebar. Bukan hanya untuk diri, tetapi juga untuk keluarga, komunitas, masyarakat, negara dan bangsa.
Di dalam sambutannya, Rektor, UINSA, Prof. Akh. Muzakki MAg., Grad. Dip.SEA., M.Phil., PhD., bahwa: pertama, Mari kita sambut masa depan dengan bahagia. Jika kebahagiaan ada di tangan kita, maka waktu yang panjang tidak terasa. Sambutlah masa depan dengan kebahagiaan. Apa yang sulit akan bisa menjadi mudah jika kita bahagia. Jika kita kehilangan kebahagiaan maka yang gampang menjadi sulit.
Kedua, Mari kita sambut masa depan dengan penuh cinta. Sambut masa depan dengan kebahagiaan yang bersumber dari cinta . Jangan sambut masa depan dengan kebencian, iri, dengki dan sebagainya. Kata kuncinya adalah bahagia. Mari kita sambut dengan cinta dan bahagia. Yakini bahwa diujung akhir kegelapan akan ada cahaya.
Ketiga, Mari kita sambut masa depan dengan optimis. Setiap zaman ada masalahnya dan pasti ada solusinya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besuk, tetapi masa depan adalah teman kita. Makanya jangan pesimis, harus tetap optimis. Mari kita jaga diri kita, jaga orang tua, jaga marwah institusi atau UINSA. Oleh karena itu jaga moral atau etika atau akhlak. Sempurnakan kesarjanaan itu dengan akhlak mulia agar kemuliaan itu dapat memancar di dalam diri kita, keluarga, institusi dam masyarakat kita. Do your best.
Wallahu a’lam bi al shawab.

