(Sumber : Bandung Bergerak)

Transformasi Agama Kampung Tuak

Riset Budaya

Artikel berjudul “Islamism Without Commotion: The Religious Transformation of Tuak Kampong in West Lombok” merupakan karya Pajar Hatma Indra Jaya, Saptoni, Muhammad Izzul Haq. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam dan Muslim Societies tahun 2023. Gerakan kebangkitan Islam sering dianggap sebaagai ancaman bagi kelompok agama lain. Gerakan Islam sering berubah menjadi gerakan politik yang mengarah pada fundamentalisme, kekerasan, dan terorisme berbasis agama. Penelitian ini menjelaskan proses dan karakteristik Islamisme dalam iklim demokrasi dengan menginvestigasi kasus transformasi agama di kampung adat yang dulu dikenal sebagai penghasil tuak, tepatnya Lombok Barat. Data penelitian didapatkan melalui observasi, studi pustaka dan wawancara. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Lombok Barat daerah pertemuan Hindu dan Islam. Ketiga, transformasi budaya kampung tuak melalui dakwah. Keempat, transformasi struktural melalui regulasi. Kelima, transformasi melalui pemberdayaan Masyarakat. 

  

Pendahuluan

   

Penalaran agama dan teologi lama kelamaan akan digantikan oleh penilaian rasional, sementara itu agama di dunia modern juga akan lenyap. Iman seakan terkurung dalam penjara bawah tanah dan akhirnya lenyap. Jika tidak, agama hanya akan hadir dalam ruang personal dan menjadi spiritualitas tanpa ‘institusi.’ Menurut Jurgen Habermas dalam karyanya berjudul “Notes on Post-Secular Society” mencatat bahwa akan muncul fenomena ‘post secular age’ di mana agama hadir di ruang publik, namun tanpa simbol-simbolnya. Prediksi ini memang belum terjadi, namun Masyarakat sedang berkembang kearah ‘beralih ke agama.’ Di dalam agama Islam, kebangkitan agama sering kali ditandai dengan kemunculan gerakan islamisasi di ruang publik. 

  

Di Indonesia, kebangkitan Islam ditunjukkan dengan munculnya prevalensi simbol Islam di ruang publik. Misalnya, kemunculan perbankan Islami, pengobatan Islami, film Islami, dan sebagainya. Lanskap dunia Islam di Indonesia tampaknya mengalami transformasi menuju ruang publik dengan cita rasa baru yang lebih Islami. 

  

Lombok Barat Daerah Pertemuan Hindu dan Islam

  

Lombok merupakan salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mayoritas berpenduduk Muslim Sasak. Namun, ada juga beberapa etnis yang menetap seperti Bali, Jawa, Bugis dan Sumbawa. Umat Hindu di Lombok hanya tinggal di Mataram sebesar 14,17% dan Lombok Barat sebanyak 5,20%. Selain itu, Lombok adalah daerah di mana gerakan Islam menghiasi ruang publiknya dengan ikon sebagai pulau seribu masjid, promosi wisata halal, kampung zakat, dan beberapa wisata lain yang Islami. 

  

Wilayah ini juga memiliki budaya asli yang berasal dari masa pra-Islam bahkan berkembang melalui akulturasi dan asimilasi antara Islam, Hindu, dan tradisi lokal lain. Salah satu tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah produksi dan konsumsi tuak. Tuak adalah minuman beralkohol tradisional yang dihasilkan dari nira kuncup bunga aren yang difermentasi menggunakan kulit pohon Bajur. Minuman ini digunakan dalam ritual Hindu dan dijual umum. Bahkan, beberapa kampung di Lombok Barat terkenal dengan penghasil tuak.

  

Di Lombok, Masyarakat Hindu dan muslim tidak berbaur dengan sempurna, sebab ada pemisahan wilayah berdasarkan agama. Munculnya kampung-kampung Hindu adalah salah satu indikasinya. Segregasi ruang sosial adalah salah satu bentuk kerawanan sosial karena memisahkan wilayah oleh agama dan suku tertentu. Segregasi di Lombok berakar pada rekayasa sosial Kerajaan Hindu Karangasem yang ingin memisahkan Masyarakat Bali-Hindu sebagai bangsawan dan Sasak-Muslim sebagai lapisan bawah. Jika ditinjau berdasarkan ‘race-theory’, maka persaingan antara dua kelompok tersebut akan melahirkan identitas yang berbeda. Pemadatan identitas Islam dan Hindu juga terjadi karena keduanya mengekspresikannya masing-masing. umat Islam membuat masjidnya terlihat lebih megah, sedangkan umat Hindu memperindah candinya. 


Baca Juga : Potensi Indonesia Menjadi Pusat Industri Halal Dunia

  

Masyarakat Lombok semakin mengidentifikasi dirinya sebagai muslim. Gerakan menyebarkan ajaran Islam di Lombok juga semakin kuat. Ketika Lombok diserbu turis asing dengan kebiasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti minum alkohol dan menggunakan bikini, maka Masyarakat meresponsnya dengan menawarkan konsep wisata halal. Tampaknya, lanskap Lombok mengalami transformasi menuju ruang publik dengan cita rasa Islami.

  

Transformasi Budaya Kampung Tuak Melalui Dakwah

  

Tradisi memproduksi tuak di Lombok sudah ada sejak Kerajaan Hindu Gelgel Klungkung di Bali yang berekspansi ke Lombok pada abad 18. Pada abad 26, meminum tuak adalah kebiasaan dalam berbagai ritual Hindu. Tuak digunakan sebagai persembahan untuk para Dewa.

   

Saat ini, hanya ada 20% penyadap yang masih memproduksi tuwak, dan sebagian besar beragama Hindu. Kebanyakan penyadap muslim tidak mau lagi membuat tuak miras. Perubahan ini dimulai ketika banyak pesantren Islami berdiri. Pada tahun 1951, dakwah Islam mulai menyebar di Lombok Barat dengan munculnya Jama’ah Islam Narmada (DIN), sebuah tarekat dakwah yang sangat peduli dengan cara umat Islam menjalankan ibadahnya. 

  

Transformasi dimulai ketika anak-anak penyadap belajar di pesantren, sehingga mereka merasa malu jika tetap memproduksi tuak. Dakwah yang disampaikan oleh kiai dan ustaz mulai berhasil mengubah perilaku produksi tuak. Dakwah ini diperlukan karena ruang publik di sekitarnya menjadi lebih Islami. Masjid di kampung mereka dibangun dengan megah. Aliran ajaran Islam dan situasi membuat para penyadap menjadi takut, sehingga secara sukarela memilih untuk tidak lagi memproduksi tuwak. Mereka lebih memilih memproduksi gula aren, meskipun kurang menguntungkan.

  

Transformasi Struktural Melalui Regulasi

  

Ada berbagai peraturan mengenai peredaran alkohol di Indonesia dalam bentuk Peraturan Presiden, Menteri bahkan peraturan daerah yang digunakan guna mengontrol serta memantau peredaran minuman beralkohol. Alih-alih menggunakan kata larangan, pemerintah menggunakan istilah pengawasan peredaran minuman beralkohol. Kebijakan pemerintah pusat dianut hampir semua pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Meskipun demikian, beberapa daerah mengeluarkan peraturan yang berbeda dari pemerintah pusat sejak era reformasi. Akibatnya, beberapa daerah melarang sama sekali peredaran minuman beralkohol, meskipun beberapa daerah telah melegalkan bahkan mengembangkan minuman tradisional beralkohol.

  

Lombok Barat cukup unik karena tidak sepenuhnya melarang tuwak, meskipun pemerintah sudah bertekad mengontrol minuman beralkohol. Pemerintah menanggap tuak miras sebagai tradisi yang perlu dipertahankan serta sebagai kebutuhan wisatawan. Pasca diterbitkannya Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengawasan dan Penertiban Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat secara hukum melakukan transformasi sosial secara struktural. Meski Perda tersebut tidak serta merta melarang peredaran minuman beralkohol di Lombok Barat, namun melarang peredaran minuman tradisional selain keperluan ritual. Peraturan ini memberikan keleluasaan bagi umat Hindu untuk tetap menjalankan keyakinannya di Tengah upaya pemerintah mengurangi peredaran minuman beralkohol. 

  

Transformasi Melalui Pemberdayaan Masyarakat

  

Pemerintah telah menyiapkan program transformasi dengan melakukan diversifikasi produk dan mempopulerkan tuak manis sejak 2016 sebagai tindak lanjut Perda Nomor 1 Tahun 2015. Mereka mendorong penyadap guna mengelola nira aren menjadi berbagai produk dengan memberikan pelatihan ke Yogyakarta dan Jawa Barat. Pemerintah juga memberikan bantuan mesin guna pengolahan dan pengemasan produk. Sebelumnya, mereka diminta membentuk kelompok guna mempermudah anggotanya untuk saling belajar. Selain itu, pemerintah membantu dalam aspek pemasaran dengan bertindak sebagai perantara antara produsen dan toko suvenir, Perusahaan, hotel, toko dan lain sebagainya. 

  

Kesimpulan

  

Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa asumsi mengenai gerakan Islamisme yang dianggap mengancam kebhinekaan dan melahirkan kekerasan tidak sepenuhnya benar. Contohnya gerakan Islam di kampung tuak dengan karakteristiknya yang unik. Pergerakan Islam di Lombok Barat dilakukan secara damai dan sukarela dengan menampung dan memberi ruang bagi pemeluk agama lain guna melaksanakan ritualnya sendiri meski bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Konsekuensinya, gerakan Islam dilakukan tanpa keributan ketika pertimbangan rasional digunakan, ruang perbedaan disediakan dan non-paksaan diterapkan.