Politisi Perempuan Dalam Politik Elektoral
HorizonOleh : Alvin Afif Muhtar
Tulisan ini berawal dari ketertarikan peneliti melihat kemenangan politisi perempuan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Blitar tahun 2020. Selain itu, untuk pertama kalinya Kabupaten Blitar dipimpin oleh seorang Bupati perempuan. Sejarah baru dalam kontestasi politik elektoral di Kabupaten Blitar ini tentu saja mengejutkan banyak kalangan, hal itu terjadi karena kemenangan tersebut diperoleh dengan mengalahkan pasangan calon yang diusung oleh PDI Perjuangan. Telah kita ketahui bersama, dalam peta politik di Jawa Timur Kabupaten Blitar masuk dalam wilayah mataraman. Wilayah yang memiliki basis militan PDIP. Disisi lain, Blitar memiliki ikatan emosional secara historis menjadi kultur ketika sang proklamator Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno di semayamkan di wilayah ini.
Pada pilkada tahun 2020 ini, terdapat 2 pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Blitar. Pasangan nomor urut 1 Rijanto-Marhaenis Urip Widodo dan pasangan nomor urut 2 merupakan pendatang baru yang tidak ber-KTP Kabupaten Blitar yakni pasangan Rini Syarifah (Mak Rini)–Rachmad Santoso (Makdhe Rahmat). Pasangan petahana Rijanto-Marhaenis Urip Widodo diusung oleh 6 partai politik, antara lain : PDI Perjuangan, Nasdem, Golkar, Gerindra, Demokrat, dan PPP yang memiliki jumlah kursi 33 di parlemen. Sedangkan pasangan pendatang baru Mak Rini–Makdhe Rahmat mendapat dukungan dari 3 partai politik, yakni : PKB, PAN, dan PKS yang memiliki jumlah kursi 17 di parlemen.
Rini Syarifah atau lebih dikenal dengan sebutan Mak Rini merupakan putri salah satu deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kota Blitar. Dalam dunia politik Mak Rini merupakan pendatang baru karena sebelumnya lebih banyak berkecimpung sebagai pengusaha buku dan konveksi. Makdhe Rahmat selaku Wakil Bupati Kabupaten Blitar terpilih memiliki latar belakang sebagai praktisi hukum yakni Ketua Umum IPHI (Ikatan Penasehat Hukum Indonesia), selain itu Rahmat Santoso tercatat sebagai santri Pondok Pesantren PETA Kabupaten Tulungagung. Keduanya bukanlah warga Kabupaten Blitar, Rini Syarifah sebagai warga Kota Blitar dan Rahmat Santoso warga Kota Surabaya yang karirnya lebih banyak berada di Jakarta.
Dalam pencalonannya sebagai Bupati dan Wakil Bupati Blitar tahun 2020, Mak Rini dan Makdhe Rahmat membawa visi dan misi yang mengarah dalam 3 komponen yakni pembangunan infrastruktur, program panca bhakti, dan kesehatan masyarakat. Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas, sebab pasangan ini berpandangan bahwa kepemimpinan petahana tidak mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Blitar, bidang yang akan digarap meliputi pertanian, perikanan, dan pariwisata. Selanjutnya pasangan nomor urut 2 ini dalam kampanye juga menggaungkan akan mewujudkan program Panca Bhakti yang di dalamnya terdapat jaminan dalam bidang pendidikan di Kabupaten Blitar. Kandidat ini menjelaskan pendidikan merupakan dasar untuk membentuk sumber daya manusia. Kemudian komponen ketiga yang diprioritaskan yakni bidang kesehatan masyarakat, apalagi saat ini masih dalam kondisi Covid-19. Disamping 3 komponen yang menjadi prioritas utama dalam memimpin Kabupaten Blitar, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, pelayanan publik berbasis e-governance, pengembangan potensi ekonomi daerah serta pesona Blitar Raya akan menjadi program yang akan dijalankan.
Tumbangnya pasangan petahana Rijanto-Marhaenis Urip Widodo tentu saja mengejutkan banyak pihak. Rijanto telah dikenal masyarakat Kabupaten Blitar sejak lama, tahun 2010-2015 ia menjadi Wakil Bupati Kabupaten Blitar mendampingi Herry Nugroho. Selanjutnya pada tahun 2015-2020 mencalonkan Bupati bersama dengan Marhaenis selaku Ketua PDI Perjuangan Kabupaten Blitar diusung oleh PDI Perjuangan dan didukung oleh seluruh partai yang menjadikan calon tunggal melawan kotak kosong. Jika dilihat secara sederhana, seharusnya pasangan ini diatas kertas akan dengan mudah untuk memperoleh kemenangan dengan modal politik yang telah dimilikinya. Namun dalam dunia politik tak ada sesuatu yang mustahil, ibaratkan pertandingan sepak bola sebelum peluit akhir ditiup oleh wasit apapun dapat terjadi.
Strategi politik yang digunakan oleh pasangan Mak Rini–Makdhe Rahmat dalam mengakhiri kedigdayaan PDI Perjuangan ialah dengan melakukan gerakan merayap dalam membangun mesin politik. Mereka lebih mengandalkan jaringan di masyarakat dan berusaha menyapa langsung. Fasilitas untuk bertemu dan menyapa masyarakat tentu saja kalah jauh jika dibandingkan dengan paslon petahana baik dalam kampanye maupun sebelumnya, tidak semua warga bisa disapa dan ditemui selama masa kampanye apalagi terbatasnya kesempatan untuk mengumpulkan orang dengan kapasitas banyak dalam suasana pandemi covid-19. Namun, setiap ada kesempatan Mak Rini maupun Makdhe Rahmat berusaha untuk mendengarkan sepenuh hati keinginan warga tentang daerahnya dengan menampung keluh kesah, aspirasi, dan pemikiran warga.
Sementara paslon petahana, lebih banyak bersifat menyerang dalam kampanye yang mengakibatkan pertahanannya jebol. Padahal partai pengusung dan pendukungnya sudah diparkir. Tetapi para sopirnya tidak diberikan kontak untuk menstater. Sifat menyerang dan agresif paslon 1 terlihat jelas pada waktu debat terbuka sesi kedua tanggal 16 November 2020 dengan tema lingkungan dan kesehatan. Paslon nomor urut 1, Marhaenis tampil agresif dan menyerang. Bahkan, sempat mengejek Cawabup Mak Rini dan Makdhe Rahmat dengan tudingan mencontek (ngrepek) jawaban. Namun, Rahmad Santoso memiliki gaya tersendiri yakni kalem tapi cerdik. Itulah gaya khas yang ditampilkannya kepada masyarakat. Provokasi yang diberikan Marhaenis pada saat debat tersebut tidak ditanggapi, tetapi pada akhir debat saat sesi tanya jawab antar Cawabup, Makdhe Rahmat ingin membuktikan tingkat menghafal Marhaenis yang sempat menantang debat tanpa membaca. Marhaenis yang terlihat begitu meyakinkan namun tidak menyadari jika jawaban yang diberikan tidak menyambung, hal itu seperti menampar muka sendiri karena telah melontarkan kalimat ledekan. Itulah beberapa faktor runtuhnya dominasi PDI Perjuangan di kandang sendiri.
Kabupaten Blitar memiliki 22 kecamatan dan 2278 TPS dalam pilkada 2020. Paslon nomor urut 2 Mak Rini-Makdhe Rahmat berhasil memenangkan di 15 kecamatan dan paslon 1 Rijanto-Marhaenis Urip Widodo hanya meraih kemenangan di 7 kecamatan itupun hanya selisih sedikit. KPU Kabupaten Blitar melalui Hadi Santosa menyatakan Rini Syarifah (Mak Rini)–Rahmad Santoso (Makdhe Rahmat) sebagai pemenang dalam kontestasi politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Blitar setelah mengungguli pasangan Rijanto-Marhaenis Urip Widodo. Paslon 2 Mak Rini-Makdhe Rahmat mendapatkan 365.365 suara atau 58.84 persen, sedangkan pesaingnya Rijanto-Marhaenis Urip Widodo hanya mendapatkan dukungan 255.604 suara atau 41.16 persen. Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pilkada 2020 ini sebesar 961.971 pemilih dengan angka partisipasi pemilih mencapai 645.142 atau 67.06 persen yang mengalami peningkatan dari pilkada tahun 2015 hanya 56 persen. Selanjutnya jumlah suara sah 620.969 suara dan suara tidak sah mencapai 24.173 suara.

