Butuh Aksi Segera Vaksinasi Bukan Diskusi
OpiniPak Jokowi, Presiden Republik Indonesia, membuktikan ucapannya, bahwa beliau akan menjadi orang pertama di Indonesia yang akan menerima sebagai pengguna vaksin Sinovac. Melalui rilis di berbagai media elektronik bahwa Presiden Republik Indonesia itu menerima suntikan vaksin Sinovac dari Prof. Dr. Abdul Mutholib, Wakil Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Rabo, 13/01/2021. Saya kira apa yang dilakukan oleh presiden ini bukanlah untuk mencari popularitas atau membangun image, akan tetapi merupakan tanggung jawab moral sebagai pemimpin bangsa.
Saya tentu tidak akan membahas tentang apa Vaksin Covid-19 tersebut, karena tentu untuk menulis hal ini bukanlah kewenangan saya. Tulisan tentang apa dan bagaimana vaksin Sinovac tentu ranahnya para dokter atau ahli kesehatan. Makanya, saya tertarik untuk membahas tentang bagaimana respon masyarakat, khususnya institusi sosial keagamaan tentang aksi penggunaan vaksin tersebut bagi kehidupan masyarakat.
Pro-kontra tentang vaksin khususnya Sinovac tentu sudah cukup lama. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan berbagai dalil, baik dalil logika bahkan dalil agama. Semua tentu harus dipahami sebagai dinamika kehidupan masyarakat yang plural dalam berbagai seginya. Bahkan di antara ahli kesehatan. Silang sengkarut tentang vaksin ini tentu saja disebabkan oleh derasnya arus informasi yang berdatangan dari mana saja, baik dari kalangan ahli medis, para professor, akdemisi, budayawan dan bahkan agamawan. Semuanya berkomentar dari sudut pemahaman dan sikapnya terhadap vaksin anti Covid-19.
Ragam pandangan dan sikap ini menggambarkan tentang dinamika kehidupan sosial yang sedemikian variative di tengah arus informasi yang sangat membeludak. Di era seperti ini, seseorang nyaris tidak akan bisa melawan derasnya arus informasi yang akan menerpanya. Siapapun dalam strata sosial apapun akan dengan mudah akan bisa mengakses informasi baik yang pro maupun kontra vaksin Sinovac made in China tersebut.
Ada dua kelompok yang rasanya terus bertarung dalam situasi ini, yaitu: pertama, kelompok yang meragukan terhadap efektivitas penggunaan Sinovac sebagai anti virus Corona. Di antara yang meragukan tersebut juga terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, misalnya ada ahli kesehatan dari dalam maupun luar negeri, ada juga guru besar yang dedikasinya selama ini tidak diragukan, ada ahli agama dan para akademisi. Di antara keraguannya adalah mengenai efektivitas Sinovac, apakah vaksin ini akan bisa untuk menghalau wabah Covid-19. Konon China saja sedang pontang panting menghadapi gelombang kedua hasil mutasi Covid-19. Ada keraguan bahwa vaksin ini akan mubazir sebab yang dihadapi sekarang bukan lagi virus Covid-19 tetapi hasil mutasinya. Inggris juga kedodoran menghadapi hal ini. Bahkan juga meragukan harga yang mana yang akan digratiskan untuk suntikan Sinovac. Yang kisaran harga di atas Rp.100.000, Rp400.000 atau yang di atas Rp2.000.000. Bisa saja vaksin yang disuntikkan pada tubuh Presiden Jokowi adalah yang sangat special dan bukan vaksin yang beredar di masyarakat untuk gratisan. Bahkan dokter yang menyuntikkan vaksin dengan tangan gemetaranpun bisa menjadi berita yang viral di media sosial.
Kedua, kelompok yang tidak meragukan. Kita bersyukur bahwa di tengah kegalauan akan keraguan dan ketidakjelasan tentang vaksin ini, MUI sebagai representasi umat Islam akhirnya menyatakan bahwa Vaksin Sinovac halal. Sesuai dengan Fatwa MUI No.2 Tahun 2021 tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Sciences.Co.Ltd.China dan PT Bio Farma (Persero) dinyatakan hukumnya suci dan halal. Oleh karena itu, boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut para ahli yang kredibel dan kompeten.
Pasca fatwa halal MUI dan persetujuan BPOM, maka Pengurus NU Jawa Timur juga mengambil langkah cepat dengan membuat himbauan Vaksinasi Covid-19 melalui Surat Himbauan yang dikeluarkan oleh PWNU Jawa Timur, yang ditandatangani oleh Rois KH. Anwar Manshur, Katib Kyai Syafrudin Syarif, Ketua KH. Marzuki Mustamar, dan Sekretaris, Prof. Akhmad Muzakki, MAg, Grad.Dip.SEA, MPhil. PhD, yang intinya tentang menghimbau kepada seluruh warga NU se Jawa Timur untuk berperan serta dan membantu kelancaran pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 yang secara serentak kegiatannya dimulai pada tanggal 13 Januari 2021.
Melalui surat himbauan ini, maka kemudian bisa dilihat di media sosial tentang upaya untuk memviralkan upaya ini, misalnya dengan twibbon dengan menampilkan foto dan infografis yang berbunyi: “NU-Peduli Covid-19, SAYA SIAP DIVAKSIN, #NUPeduli#sukseskan vaksinasi, ayo jaga 3M, ✓Memakai masker, ✓Mencuci tangan, ✓Menjaga jarak”. Upaya ini merupakan usaha duniawi yang harus dilakukan. Sebagai umat Islam wajib kita berdoa kepada Allah SWT, namun demikian juga harus berikhtiar secara sungguh-sungguh. Dan saya kira mengikuti upaya pemerintah untuk melakukan vaksinasi Covid-19 merupakan langkah yang relevan dengan ajaran agama. Manusia berusaha dan Tuhan yang menentukan. Berusaha, berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT.
Sudah saatnya kita melakukan aksi di saat dunia dilanda problem Pandemic Covid-19. Saya mengapresiasi tulisan Pak Dahlan Iskan dengan tema “Sulit Vaksin”,7 Januari 2021, dinyatakan: “Berpacu dengan waktu itu lebih terasa di Inggris. Misalkan tersedia 1 juta vaksin. Apakah itu akan dipakai menyuntik 500 ribu orang (dua kali suntik) atau untuk 1 juta orang. Agar lebih banyak yang segera disuntik. Agar lebih cepat terjadi herd immunity. Inggris memutuskan: untuk satu juta orang”.
Kita memang berpacu dengan waktu. Kita harus mengambil langkah seribu. Kita harus melakukan aksi dalam melaksanakan imunisasi Covid-19. Jadi kita tidak lagi perlu bertele-tele untuk diskusi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

