Praktik Keagamaan Islam Lokal: Dari Tradisi, Fadhilah, Hingga Perekat Sosial
HorizonOleh: Ali Mursyid Azisi*
Sebagai masyarakat yang kental akan keragaman, masyarakat Indonesia memiliki beragam cara dalam melaksanakan ritual dengan unsur keagamaan. Dari berbagai penjuru negeri, seperti halnya menyambut hari-hari tertentu yang dipandang istimewa, penuh akan fadhilah (keutamaan), bahkan keyakinan kuat akan kemustajaban doa, dijadikan momen yang tak boleh terlewatkan. Khususnya masyarakat Jawa, demikian banyak ritual keagamaan di malam-malam tertentu, seperti halnya malam Suro/Asyura.
Memasuki bulan Suro/’Asyura (istilah Arab) atau malam ke 10 Muharram yang masuk dalam masa tahun baru Hijriyah umat Islam maupun kalender Jawa. Tidak lengkap kiranya jika tidak menilik keunikan masyarakat Indonesia yang identik dengan adanya ritual-ritual tertentu. Dari sekian banyak manfaat yang akan diperoleh ketika melaksanakan serangkaian amalan-amalan yang dianjurkan dalam Islam seperti memperbanyak doa, sholawat, dzikir dan bacaan-bacaan tertentu, nampaknya ekspresi keberagamaan dalam bentuk tradisi tertentu menjadi salah satu media sebagian muslim di Indonesia untuk menyempurnakan malam-malan di bulan syura.
Berbicara masalah tradisi, Coomans (1987), menyebutnya sebagai suatu gambaran perilaku dan sikap manusia yang sudah melalui proses yang begitu lama, diamalkan secara turun temurun sejak zaman para leluhur, dan tradisi yang sudah membudaya akan menjadi rujukan/sumber berbudi peketi luhur dan akhlak. Lalu Soejono Soekamto (1990) mendefinisikan tradisi sebagai suatu kegiatan serangkaian kegiatan/laku yang diamalkan oleh suatu kelompok masyarakat dengan cara diulang-ulang (langgeng)
Sedangkan dalam Islam, Syaikh Shalih bin Ghanim al-Sadlan seorang Ulama dari Saudi Arabia berpendapat demikian:
Baca Juga : Agama, Pemilu dan Pilihan Rasional Etis
“Dalam kitab Durar al-Hukkam Syarh Mujallat al-Ahkam al’Adliyyah berkata: “Adat (tradisi) adalah suatu yang menjadi keputusan banyak orang dan diterima oleh orang-orang yang memiliki karakter yang normal.” (al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa ma Tafarra’a’anha: 333).
Perayaan tradisi keagamaan khsususnya dalam menyambut malam pergantian tahun baru Islam/syura terkhusus masyarakat di pulau Jawa-Madura tidak jauh beda. Bertepatan tanggal 15 Sya’ban, masyarakat Jawa-Madura acap kali menggelar apa yang kita kenal dengan Selametan (istilah Jawa) dan Rebba’an/Sya’banan (istilah Madura). Tidak jarang selain slamatan, juga terdapat ritual seperti halnya tumpeng suroan, petik laut, sapi-sapian, jenang suro, dan tumpeng suroan juga diselenggarakan di Banyuwangi.
Tradisi yang lahir dari perkawinan agama dan budaya nampaknya sudah mengakar kuat dan tidak boleh terlewatkan tiap tahunnya, pasalnya muslim Jawa-Madura percaya bahwa ketika memperbanyak amalan/ibadah, maka hajat yang kita maksud akan dimudahkan oleh Allah. Ketika memasuki malam Sya’ban antara selepas maghrib dan isya, masyarakat Jawa-Madura terutama dalam lingkup pedesaan akan berkumpul di masjid/mushola/langar dengan membawa berkat/berkatan (suguhan makanan terbaik) dari rumah masing-masing. Kemudian duduk melingkar/berderet dengan suguhan makanan diletakkan di tengah.
Dalam dunia Islam sendiri bulan suro / asyura dikenal oleh bulan Muharram, juga dianjurnan memperbanyak amalan. Seperti yang dianjurkan oleh para Ulama, seperti halnya dalam kitab Kanzun Naja was Surur fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur karya Syekh Abdul Hamid dalam bentuk nadham yang artinya sebagai berikut:
“Ada sepuluh amalan di dalam bulan ‘asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, shalatlah, sambung silaturahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-ikhlas 1000 kali”
Kembali pada identitas muslim Indonesia, adanya selamatan di berbagai daerah dengan berbagai bacaan kalimah thayyibah dan muhasabah diri secara massal tentu memiliki kesakralan tersendiri. Demikian merupakan serangkaian cara bagaimana menghidupkan malam asyura yang tidak keluar dari koridor ber-Islam, sebab amalan yang dibaca merupakan kalimah thayyibah meski berbungkus tradisi lokal (selamatan dan sejenisnya). Pada umumnya, jamaah yang hadir untuk merayakan tradisi selamatan didominasi laki-laki dan menjadi ciri khas tersendiri ber-Islam ala Nusantara.
Baca Juga : Antara Akhlak dan Jilbab
Seusai membaca amalan-amalan yang dipimpin oleh seorang yang diakui keilmuan keagamaannya (imam/ustadz/kiai/tokoh agama), maka momen yang paling ditunggu adalah makan bersama antar jamaah. Hal yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah, selain menambah amal ibadah dan malam pengampunan dosa-dosa kita terhadap yang Kuasa, dari adanya tradisi slametan menjadi salah satu wadah/media perekat sosial dalam lingkup kehidupan masyarakat.
Pasalnya, dengan adanya slametan, warga sekitar dipertemukan dalam satu ruangan (tempat ibadah), melaksanakan kebaikan dan saling berinteraksi satu sama lain yang nantinya akan menciptakan hubungan antar individu menjadi harmonis. Sebagaimana fungsi agama yang dinyatakan oleh Emile Durkheim, bahwa tidak hanya terbatas pada gagasan tentang Roh dan Tuhan, ia menekankan pula pada aspek sosial. Dalam pandangannya, agama adalah sekumpulan praktek dan keyakinan yang kaitannya erat dengan kesakralan, yaitu sesuatu mengenai hal-hal yang terlarang serta praktik-praktik keyakinan yang mengatukan suatu komunitas moral tunggal.
Lebih praktisnya, agama menurut Durkheim sebagai perekat sosial, memupuk perdamaian dan solidaritas serta membawa umatnya pada jalan keselamatan. Maka perlu disadari bersama bahwa tradisi selamatan termasuk salah satu media dalam mencapai tujuan tersebut.
Terlebih ketika memiliki kesamaan tujuan dan keyakinan nantinya akan membentuk sebuah interaksi dan struktur masyarakat. Dengan begitu, tidak salah jika amal ibadah yang dilakukan secara berjamaah layaknya menyambut bulan asyura/malam ke-10 bulan Muharram dengan tradisi selamatan/rebbaan terus dilestarikan dan dianakturunkan.
Oleh karenanya, penting sekali menghidupkan malam Sya’ban dengan memperbanyak amal ibadah (dzikir, sholat sunnah, sholawat dan membaca al-Qur’an dan beberapa anjuran yang disebutkan Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya. Keutamaan memperbanyak amalan di bulan asyura adalah: Pertama, meniatkan supaya sisa umur yang kita jalani kedepannya mendapatkan keberkahan. Kedua, hendaknya diniatkan supaya memperoleh rejeki yang halal-barokah dalam menunjang perjuangan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam berkehidupan sosial antar sesama manusia. Ketiga, sebagai ladang muhasabah diri untuk menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya. Keempat, mendapatkan ketentraman lahir batin.

