(Sumber : Nur Syam Centre )

Catatan Tercecer dari ICONDAC: Tantangan Islam Moderat

Khazanah

Terdapat tiga pertanyaan menarik dari mahasiswa FDK UINSA pada International Conference of Dakwah and Communication, pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya, 18-10-2022. Pertanyaan menarik disampaikan oleh Muhammad Fahmi. Dinyatakannya bahwa  Islam fundamentalis mengembangkan pendidikan secara luar biasa.  Sementara itu masyarakat Islam Indonesia   tidak tahu banyak tentang Islam yang digerakkan oleh Kaum fundamentalis. Kelompok Islam fundamentalis juga memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah. Selain itu terdapat pertanyaan dari Annisa, bahwa  Bagaimana usaha kita untuk menegakkan Pancasila di tengah serangan-serangan yang dilakukan oleh kelompok Islam fundamentalis yang terjadi dewasa ini. Sesuai dengan beberapa hasil survey, banyak pemuda yang terpengaruh.

  

Sementara itu juga terdapat pertanyaan, dari mahasiswa yang sayangnya tidak tercatat Namanya. Bagi mahasiswa ini, bahwa membandingkan antara Islam dan humanism itu kurang pas. Humanisme dan Islam itu tidak kompatibel. Akhirnya orang untuk mensimpelkan agama karena dianggap sama antara agama dan humanism, bahkan ada anggapan humanisme itu lebih tinggi. 

  

Saya nyatakan bahwa this is an excellence questions. Not only good questions. Saya sampaikan bahwa statement yang disampaikan oleh Fahmi tersebut benar. Saya sepenuhnya setuju. Dewasa ini terjadi tantangan yang sangat luar biasa. Di dunia Pendidikan sesungguhnya sedang terjadi pertarungan yang kuat. Coba kita amati, bahwa mereka ini sudah berhasil dengan Lembaga Pendidikan umum, misalnya sekolah-sekolah yang berlabel Islam terpadu. Mereka telah berhasil mendirikan dan mengembangkan sekolah-sekolah di bawah koordinasi mantan petinggi organisasi keagaman yang dihentikan oleh pemerintah dan menyebar di seluruh Kabupaten di Indonesia. 

  

Sekarang mereka sedang terobsesi untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Pesantren. Mereka benar-benar memanfaatkan kecenderungan masyarakat Indonesia yang sangat menyenangi Pendidikan pesantren. Berdasarkan data diketahui bahwa perkembangan pesantren salafi ini sangat cepat. Dari semula hanya 19 (2019) dalam tahun berikutnya sudah berkembang menjadi 39. Bahkan orang bisa antri untuk masuk ke Lembaga ini. Dengan tema Lembaga tahfidz Alqur’an dan Pendidikan Islam murni, maka pesantren ini berhasil menarik minat masyarakat Indonesia yang tidak sepenuhnya paham tentang Islam salafi atau Islam ahli sunnah dan Islam ahli sunnah wal jamaah. Melalui Islam adalah sunnah (IAS), maka mereka benar-benar menarik minat orang tua untuk menyekolahkan dan memesantrenkan anak-anaknya. Bisa dibayangkan bagaimana Indonesia di masa depan. Bisa terjadi disharmoni social jika hal-hal seperti ini lepas dari kekritisan kita. Indonesia yang akan memasuki 100 tahun Indonesia Emas dengan bonus demografinya akan berantakan jika kita tidak aware atas hal-hal seperti ini.

  

Kita semua harus menjadi agen Islam wasathiyah. Harus bergerak Bersama untuk meraih impian untuk mencapai Indonesia yang lebih baik yang rukun, harmoni dan selamat. Sudah terlalu banyak jika sebuah negara dalam keadaan konflik social, maka akan rusak semuanya. Bisa membutuhkan waktu Panjang untuk mengembalikan kerusakan yang diakibatkan oleh konflik social. Para agen Islam wasthiyah atau kaum moderasi beragama harus speak up terus dan terus menerus. Jangan lengah dan jangan jumawa bahwa Islam wasthiyah itu moyoritas. Harus diingat bahwa mayoritas itu adalah mayoritas diam, sementara mereka itu kecil tetapi memiliki aktivisme yang luar biasa. Mereka didukung oleh talenta-talenta mudan dan dana yang besar, sehingga perkembangannya sangat cepat. Kita harus sadar sebenarnya bahwa tantangan dari kelompok IAS atau kelompok salafi ini benar-benar nyata adanya.

  

Para da’I atau da’iyah dan khatib harus bergerak Bersama dengan masyarakat yang sadar untuk menanggulangi Islam berwajah kekerasan tersebut. Para penceramah, para konselor dan para penggerak masyarakat harus berjuang Bersama. Demikian pula para penggiat media social juga harus mendukung hal ini. Atas pertanyaan terakhir saya sampaikan bahwa sama sekali tidak ada keinginan untuk menyamakan antara Islam dengan humanisme. Terlalu suci Islam itu dibandingkan dengan humanisme. Namun demikian humanism yang mengajarkan tentang meninggikan derajat dan martabat manusia setinggi-tingginya tentu tidak salah jika menjadi bagian dari Islam. Bukankah Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya rahmat bagi umat Islam tetapi rahmat bagi seluruh dunia. Dengan demikian, humanisme memiliki pesan yang bisa dijadikan sebagai konsep dalam menyebarkan Islam, baik dalam ceramah, konten media social dan juga pemberdayaan masyarakat.  Melalui konten penyebaran agama berbasis humanism maka akan dapat dijamin bahwa ketinggian ajaran Islam dipastikan tidak akan tereduksi oleh nuansa disruptif atau sebaran media social yang merusak dan menumbuhkan disharmoni social.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.