Arab Saudi dan Gelombang Islamisasi Salafi
OpiniTentang kehadiran Islam tasawuf di Nusantara di antaranya dipicu oleh kekalahan Kekhalifahan Abbasiyah oleh Pasukan Hulagu Khan (1258 M) dan dilakukan penghancuran terhadap khazanah Islam di Timur Tengah. Misalnya digambarkan bahwa Sungai Eufrat sampai airnya berwarna biru karena tercemar oleh tinta dari kitab yang dihancurkan oleh pasukan Hulagu Khan. Kehancuran peradaban Islam ini menyebabkan banyaknya ulama tasawuf yang datang ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Nusantara.
Di tanah baru itulah kemudian mereka menyebarkan Islam berbasis ajaran Islam esoteric ke bangsa-bangsa yang ditempatinya. Di Nusantara tentu yang terbanyak dan kemudian juga beberapa bangsa lain. Itulah sebabnya di Asia Tenggara yang sekarang dikenal dengan bangsa Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand dan beberapa wilayah lain, maka Islam yang pertama dikenal adalah Islam dalam corak ketasawufan. Terlepas dari teori kedatangan Islam dari Gujarat, Persia atau bahkan Arab Saudi, tetapi yang jelas bahwa jejak Islam tasawuf tersebut tampak sangat mengedepan. Kajian arkheologis maupun kesejarahan menggambarkan adanya jejak Islam tasawuf yang sangat kentara di bumi Nusantara dan sekitarnya.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pada saat Islam di wilayah pusatnya mengalami problem politik dan keagamaan, maka banyak ulamanya yang memiliki semangat mengembangkan Islam kemudian mencari wilayah baru yang bisa memahami Islam sebagaimana yang diinterpretasikan oleh para pemuka tasawuf. Ajaran Islam yang bercorak tasawuf yang dominan pada masyarakat Indonesia merupakan hasil dari proses islamisasi para waliyullah yang bergerak ke wilayah timur sebagai wilayah baru pasca kehancuran kekhalifahan Islam di Timur tengah.
Islam dalam coraknya yang wasathiyah atau Islam rahmatan lil alamin merupakan produk dakwah para waliyullah yang berbasis keagamaan tasawuf atau Islam esoteric. Para penyebar Islam yang kebanyakan bermadzab Syafi’i dalam fikih dan berteologi sesuai dengan faham teologinya Al Asy’ari atau Al Maturidi merupakan arkheologi pengetahuan yang bersumber dari ajaran tasawuf yang bertali temali dengan konsepsi Imam Al Ghazali. Islam yang datang ke Indonesia pada generasi awal dan kedua bahkan ketiga berada di dalam konteks pemahaman dan pengamalan Islam seperti ini.
Dewasa ini kita sedang dipertontonkan dengan gelombang perubahan di Arab Saudi dengan Visi Arab Saudi 2030 sebagaimana didengungkan oleh Muhammad bin Salman (MBS), dengan konsekuensi diperbolehkan berbagai perayaan yang selama ini tidak mendapatkan tempat di negara Islam khususnya di Arab Saudi. Yang terbaru dengan diperkenankannya upacara tahunan Valentine’s day dan Halloween yang tentu merupakan tradisi Barat dengan cita rasa barat. Sungguh perubahan yang radikal di dalam pemahaman keagamaan. Dalih apapun yang dikemukakan, seperti dalil keterbukaan, misalnya bidang ekonomi, social dan kebudayaan tentu memiliki relasinya dengan paham keagamaan. Ajaran Islam berdasarkan tafsir ulama Salafi Wahabi tentu sangat tidak apresiatif atas perubahan ini. Apalagi Arab Saudi juga membuka keran selebar-lebarnya untuk memberikan ruang public sebagai ruang kebersamaan lelaki dan perempuan, yang tentu sangat bertentangan dengan paham keagamaan yang selama ini menjadi pegangan di kalangan kaum Salafi Wahabi.
Perubahan yang sedemikian ini, akan menyebabkan adanya gelombang ketiga Islamisasi yang berasal dari Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Gelombang pertama adalah penyebaran Islam ala kaum tasawuf, kemudian kedua adalah gelombang gerakan purifikasi yang juga mempengaruhi sejumlah ulama di Indonesia. Lalu yang ketiga secara hipotetik kiranya bisa dinyatakan bahwa akan terjadi gerakan ekspor paham wahabi yang semakin kuat di Indonesia. Apalagi Gerakan Salafisme sudah memiliki akar yang jelas di Indonesia. Mereka sudah eksis di Indonesia dengan tokoh-tokoh yang tidak asing lagi. Mereka sudah memiliki penganut yang riil dan sudah memasuki jantung pengalaman keberagamaan khususnya generasi muda.
Para ulama yang bisa gerah dengan perubahan yang terjadi di Arab Saudi dan semakin berkurangnya otoritas keagamaan di kalangan mereka tentu akan menyebabkan terjadinya gelombang penyebaran ulama-ulama Salafi Wahabi ke seluruh dunia. Di antara yang akan menjadi rumah mereka yang baru adalah Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang sangat welcome terhadap sesuatu yang baru termasuk dalam bidang agama. Fenomena keberagamaan masyarakat memang meningkat, akan tetapi justru ke arah gerakan Islamis yang di dalam banyak kasus mencabik-cabik otoritas keagamaan yang sudah mapan selama ini.
Di antara yang menjadi sasarannya adalah dunia pendidikan, khususnya pendidikan pesantren yang selama ini menjadi otoritas Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Namun seirama dengan perkembangan zaman dan perubahan social, maka banyak pesantren yang berafiliasi dengan Gerakan Salafi Wahabi. Inilah yang saya nyatakan sebagai rumah mereka yang baru.
Memang apa yang saya sampaikan ini masih merupakan hipotesis yang nanti akan bisa diuji secara empiris apakah hal ini merupakan fakta kebenaran atau hanya sekedar “kegelisahan” yang mendera kebanyakan kalangan Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Tetapi yang jelas sekarang terdapat pertarungan otoritas yang harus dihadapi di tengah perubahan social yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat termasuk masyarakat beragama.
Wallahu a’lam bi al shawab.

