Puasa : Syahrut Tarbiyah (Bagian Kedua)
HorizonOleh: Abdul Wasik
Mahasiswa Program Doktoral Prodi Studi Islam UIN KHAS Jember
Dan Dosen IAI At Taqwa Bondowoso
Ibadah Puasa adalah salah satu jalan untuk membangkitkan semangat membangun nilai-nilai kemanusiaan, mengupayakan dengan segala kemampuan yang ada, menggunakan seluruh harta benda untuk mengabdi kepada Allah SWT. Puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa serta meningkatkan martabat manusia. Puasa merupakan agenda ritnitas tahunan umat manusia, namun ibadah ini bukan berarti bersifat stagnan dan ketinggalan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya dengan berbagai motif dan dorongan selalu ada inovasi kegiatan-kegiatan yang sekiranya menambah kemamfaatan bagi yang menjalaninya, senyampang kegiatan itu tidak bertentangan hukum islam. Konsep yang digunakan adalah المحافضة علي القديم الصالح والايجادعلي الجديد الاصلاح (menjaga dan melestarikan konsep lama yang layak dan relevan dengan konteks sekarang serta mewujudkan konsep baru yang lebih baik dari sebelumnya).
Dalam kondisi sekarang, sangat penting bagi kita untuk membumikan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari dari sisi pemberdayaan manusianya. Puasa adalah media untuk mencetak ummatnya tidak hanya dari sisi peningkatan IQ (Intelegence Quotient) yang tinggi, tapi puasa sekaligus dapat menghantar manusia yang sempurna dengan peningkatan Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) yang dapat membawa kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akheratnya.
Dalam hal ini Emotional, Spiritual Quotient (ESQ) yang memiliki porsi sebagai problem solving dari persoalan kemasyarakatan, yang terkadang problem-problem tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara lain kecuali berpuasa. Ibadah puasa yang merupakan rukun Islam dalam usaha membina dan membentuk pribadi-pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah (muttaqin), tidak melupakan peningkatan kecerdasan emosi dalam kehidupan kemasyarakatan, karena dalam kecerdasan ini seseorang mampu dalam mengendalikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, keadaan mental atau emosional yang tinggi dengan didasarkan pada pikiran yang sehat.
Puasa Ramadhan diwajibkan kepada kita selaku orang Islam, baik kaya atau miskin, tua dan muda, laki-laki dan perempuan. Betapa pun kekayaan dan kemampuan seseorang yang dimilikinya, namun pada bulan Ramadhan ia harus berpuasa, tidak boleh diganti dengan uang, harta atau apa saja. Yang diperlukan adalah pengalaman menderita karena lapar, haus dan tidak terpenuhinya berbagai kebutuhan yang biasa didapatkan dalam kehidupannya di luar puasa. Berpuasa dapat menggugah hati orang beriman terhadap penderitaan si miskin, yang dengan sendirinya orang yang merasa mampu membantu meringankan penderitaan si miskin, akan mengulurkan tangan untuk menolongnya, baik dengan zakat, infaq, sadaqah, sumbangan, dan sebagainya, sesuai dengan kemampuan dan kewajibannya masing-masing.
Nilai-nilai terpenting dalam hidup manusia dan yang paling banyak menjadi sasaran ibadah puasa adalah nilai moral (karakter). Di dalam Islam, unsur moral memegang peran penting, hingga Nabi SAW menjadikan perbaikan akhlak sebagai sasaran kerasulannya. Banyak sekali didapatkan dalam petunjuk-petunjuk Nabi, serta budi pekertinya sendiri mengenai dorongan, tuntunan, dan konsep tentang moral.
Perhatian Islam yang demikian besar pada sisi ini didasarkan pada posisinya dalam kehidupan individual dan komunal. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa ketahanan suatu bangsa (umat) terletak pada ketahanan akhlaknya. Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW:
Baca Juga : UIN Sunan Ampel: Sudah 56 Tahun (Bagian 2)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : كَرَمُ الْمُؤْمِنِ دِينُهُ ، وَمُرُوءَتُهُ عَقْلُهُ ، وَحَسَبُهُ خَلْقُهُ .هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ
Artinya: “kemulyaan seorang mu’min itu terletak pada kualitas agamanya, kepribadiannya terletak pada kecerdasan akalnya dan harga dirinya terlihat pada akhlaqnya”.
Suasana bulan suci ramadhan yang penuh dengan ibadah membuat seseorang semakin jauh dengan kemaksiatan dan membuat orang akan lebih berhati-hati terhadap kemungkaran, sebab ia merasa perbuatan dosa dan mungkar yang ia lakukan dapat menghapus pahala puasa. Puasa itu sendiri memang membuat penyempitan bagi ruang gerak syetan. Diharapkan bagi orang yang berpuasa, dosis nafsunya akan menurun drastis, sebagaimana juga menurunnya glukosa (kadar gulanya). Di antara nilai-nilai yang dapat dipetik ialah: meningkatkan sensitivitas moral, menjauhkan manusia dari degradasi moral dan membentuk manusia yang penuh dengan berpribadian serta mampu mencetaknya memiliki akhlakul karimah yang mapan.
Puasa sendiri merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman yang mukallaf baik laki-laki maupun perempuan. Puasa memang artinya menahan diri dari segala yang membatalkan dan nilai puasa sejak waktu imsak (sejak terbit fajar) hingga terbenam matahari. Justru itu dalam melaksanakan puasa manusia banyak dituntut agar mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak baik. Dari sini pulalah perlu disadari bahwa puasa banyak mengandung manfaat baik secara moral maupun spiritual.
Pelaksanaan puasa dengan sebaik-baiknya akan mendidik manusia menjadi jujur, disiplin, berbudi luhur, berakhlak mulia, yang kelak menumbuhkan rasa sosial yang mendalam, sekaligus menghilangkan egoisme dan kesombongan. Dengan melaksanakan puasa, pada hakekatnya membentuk jiwa, kepribadian, sikap dan perilaku manusia yang pada gilirannya mampu membentuk manusia yang tangguh dan penuh dengan peningkatan harkat dan martabat yang ideal.
Sebagai telaah ibadah puasa dalam upaya peningkatan Emotional, Spiritual Quotient (ESQ) bisa terlihat dalam kehidupan nyata, antara lain:
Pertama, puasa intinya adalah menahan diri. Ini merupakan unsur terpenting dalam pendidikan puasa, melalui ibadah ini kita dilatih untuk menahan diri dari segala perbuatan yang kurang baik. Puasa tidak hanya menahan diri dari lapar dan haus serta tidak berhubungan seks, melainkan lebih dari itu puasa juga menahan diri dari perbuatan yang negatif. Seperti menjaga dan meminimalisir amarah, tidak menggunjing aib orang lain dan berbagai hal lainnya yang dapat merusak nilai puasa.
Kedua, puasa mendidik agar memiliki sifat jujur. Orang yang melakukan puasa atau tidaknya itu hanya dia dengan Allah yang mengetahuinya. Karena itu ibadah puasa ini sering disebutkan Ibadah Rahasia. Kalau kita melakukan shalat, melaksanakan ibadah haji, atau membayar zakat, orang lain dapat menyaksikannya. Namun beda halnya dengan ibadah puasa ini tidaklah mudah untuk mendeteksinya. Kejujuran personal sangatlah berpengaruh dalam pelaksanaan ibadahnya. Ibadah puasa tidak bisa kita dokumentasikan dan bahkan kita viralkan kepada orang lain selayaknya ibadah-ibadah yang lain, puasa sungguh sangat rahasia hanya Allah yang mengetahuinya. Sebagaimana dalam hadits Nabi:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى
Artinya: Allah SWT berfinman; ibadah puasa adalah untuk-KU dan Allah langsung yang akan memberikan balasannya, meninggalkan syahwat, tidak makan dan tidak minum adalah semata-mata karena Allah.
Ketiga, puasa mendidik seseorang untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Suasana dan kondisi yang lapar dan dahaga akan mempertajam perasaan sosial pada orang yang beriman untuk ikut merasakan penderitaan orang lain yang setiap harinya dalam kondisi lapar dan dahaga. Bukan hanya itu dengan puasa ia mempu menjaga lisannya untuk tidak berkata kotor kepada orang lain dan merubahnya dengan selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta, seperti membaca Al-Qur’an, bersholawat dan lain sebagainya.
Keempat, puasa mendidik seseorang memiliki sifat kebersamaan. Suasana kebersamaan dapat membina komunikasi yang baik di dalam keluarga dan masyarakat secara individual dan kolektif. Dalam keluarga kesempatan dalam kebersamaan sangatlah tinggi dibandingkan dengan hari-hari dan bahkan bulan-bulan sebelumnya, seperti buka bersama, makan sahur bersama bahkan tidak jarang kita temukan sholat berjamaah bersama keluarga baik sholat fardhu lima waktu atau sholat tarawihnya. Sedangkan untuk masyarakat akan terlihat lebih banyak lagi ketika melaksanakan ibadah seperti melaksanakan sholat berjamaah, memberikan takjil, menunaikan zakat dan lain sebagainya. Semuanya akan tercermin dalam kehidupan yang harhonis yang saling menghargai dan saling membutuhkan, tanpa adanya rasa kecemburuan sosial dan tindakan amoral antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya, bahkan yang terjadi adalah Fastabiqul Khoirot (berlomba-lombaa dalam kebaikan) tanpa harus ada yang merasa menang.
Endingnya, puasa adalah ibadah yang penuh dengan keberimbangan antara Spiritual Quotient dan Emotional Quotient. Ibadah ini tidak hanya mengajarkan hubungan Vertikal (Hubungan manusia dengan Allah SWT sebagai dzat yang mewajibkannya) namun puasa penuh dengan pembelajaran Horizontal yang akan mencetak manusia berkualitas dan menumbuhkan rasa solidaritas antar insan.

