(Sumber : Tirto.ID)

Islam Jawa: Geertz Vs Woodward

Kelas Sosiologi

Sesungguhnya Islam Jawa itu adalah  Islam sebagaimana Islam di Timur Tengah sebagai sumber Islam di manapun. Islam di Jawa tetap bersumber dari Arab melalui beberapa wilayah yang telah disinggahi Islam seperti Persia, Gujarat dan Malabar. Sebagaimana teori tentang kedatangan Islam, maka dikenal ada beberapa  teori besar yaitu Islam versi Persia atau Islam versi Gujarat dan Islam versi Malabar dan juga ada Islam versi Arab Saudi. Semuanya menggambarkan bahwa Islam itu datang dari Timur Tengah terus ke timur dan melalui beberapa wilayah yang disinggahinya kemudian datang ke Nusantara, melalui jalur perdagangan dan  jalur dakwah yang sufistik. Oleh karena itu Islam di Nusantara hakikatnya adalah Islam sebagaimana di wilayah asalnya, tetapi karena Islam tersebut bertemu dengan berbagai tradisi di tempat barunya kemudian terjadilah dialog yang kreatif sehingga menghasilkan Islam sebagaimana kita lihat sekarang.

  

Inilah inti dari perkuliahan saya dengan para mahasiswa Strata Dua Program Islamic Studies pada Program Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, 20/03/2024. Mata kuliah yang saya ampu adalah Kajian Sosial Budaya Masyarakat Indonesia. Mata kuliah ini diberikan pada semester dua. Saya tentu bergembira diberikan peluang untuk mengajar Mata Kuliah ini, karena memiliki relevansi dengan kajian yang selama ini saya lakukan. Dan saya telah menulis beberapa buku yang terkait dengan mata kuliah ini. Salah satunya adalah Islam Pesisir yang memiliki citasi cukup baik. Buku ini mengangkat konsep “Islam Kolaboratif”, yaitu Islam pesisir merupakan hasil dialog jangka panjang di dalam penggolongan social keagamaan Abangan, NU dan Muhammadiyah dalam medan budaya Sumur, Makam dan masjid sehingga menghasilkan tradisi Islam local  yang khas.

  

Labelisasi atas Islam merupakan kerja para akademisi terutama yang mengabdikan ilmunya pada dunia sosiologi dan antropologi sehingga menghasilkan Islam yang warna warni meskipun hakikatnya adalah Islam yang itu juga. Yakni Islam yang secara substantif adalah Islam yang bersumber dari tradisi besar Islam atau Islamic great tradition di Tanah Suci atau Arab Saudi dan kemudian berkembang seirama dengan pertemuannya dengan wilayah baru yang dimasukinya. Bayangkan labelisasi itu misalnya Islam sinkretik, Islam akulturatif, Islam Popular, Islam formal, Islam substantif, Islam alternatif, Islam konvergentif, Islam Spiritual dan Islam kolaboratif. 

  

Membicarakan Islam dan kebudayaan atau Islam dan social budaya tentu tidak bisa dilepaskan dengan Clifford Geertz dan para pelanjutnya dan Mark R. Woodward dan kawan-kawannya. Dua orang ini saya kira sangat pantas disebut sebagai pemuka-pemuka kajian Islam Indonesia yang sumbangannya atas kajian social budaya keislaman sangat mendasar. Melalui dua orang ini, maka kajian Islam dalam coraknya yang sosiologis atau antropologis luar biasa. Kita berhutang budi atas dua ahli ini dalam kajian Islam Nusantara. 

  

Pada tahun 1950-an tepatnya 1955-1957 kala Geertz melakukan kajian tentang Islam Jawa memang menggambarkan Islam yang berada di dalam arus permukaan atau berada di dalam surface structure dan belum masuk dalam deep structure. Kita bisa maklumi jika keadaannya seperti itu, sebab belum didapatkan proses Islamisasi yang mendasar setelah lama dijajah oleh Belanda  dengan kebijakan politiknya yang membatasi pengembangan Islam dalam khazanah struktur social maupun social politik. Islam ditempatkan dalam kawasan yang lebih private sifatnya, sehingga Islam hanya berkembang pada ceruk-ceruk khusus, misalnya di pesantren dan wilayah-wilayah yang terisolir dari jejaring social yang memang sangat terbatas. 

  

Di Mojokuto, sekarang dikenal sebagai Pare Kediri, Geertz melakukan kajian tentang Agama  Jawa yang digambarkan dengan trikhotomi Geertz, yaitu penggolongan budaya Abangan, Santri dan Priyayi. Disebut sebagai penggolongan budaya sebab yang dikaji adalah tradisi-tradisi orang Jawa dalam kehidupan social dan tradisi religiusnya. Trikhotomi Geertz tidak menjelaskan tentang penggolongan ketaatan beragama, misalnya abangan versus putihan, atau penggambaran penggolongan social, misalnya tentang priyayi sebagai wong gede, akan tetapi bagaimana kebudayaan menjadi pattern for behavior bagi masyarakat Jawa, baik Abangan, Santri maupun Priyayi. Salah satu kontribusi terbesar Geertz adalah mengangkat tradisi slametan yang selama itu menjadi tradisi pedesaan kemudian menjadi konsep penting dalam dunia akademis dan sudah mengantarkan banyak orang menjadi doctor yang mengkaji Islam Jawa. 

  

Sebagai penggolongan kebudayaan, maka orang Abangan adalah para petani yang hidup di desa dengan keyakinan akan dunia gaib seperti roh penunggu desa, roh cikal bakal desa,  percaya pada hitungan-hitungan Jawa di dalam  menghadapi kehidupan, yang yakin akan dunia serba roh atau animisme, serba kekuatan gaib atau serba kekuatan gaib, yang mempercayai dewa-dewa dalam agama Hindu, dan percaya pada ajaran-ajaran yang berasal dari agama sebelum Islam, misalnya Hindu atau Buddha, dan keyakinan local. Dari perspektif Durkhemian, maka di dalam penggolongan Abangan dalam kaitannya dengan agama, maka di situ terdapat believe atau keyakinan, ritual atau peribadahan dan ekspresi keagamaannya. Makanya kaum Abangan juga mengekspresikan keyakinan dan ritualnya dalam relasi kehidupan religious dan social budayanya. 

  

Menurut Geertz bahwa terdapat dua pola relasi agama dan manusia yaitu pattern for behavior dan pattern of behaviour. Agama tentu dapat menjadi pedoman di dalam kehidupan manusia karena agama momot dengan value yang diyakini kebenarannya. Sementara itu, agama juga berada di dalam kehidupan masyarakat atau menjadi tindakan social religious yang bisa dilihat dan dipahami kehadirannya atau agama yang sudah mengejawantah di dalam kehidupan masyarakat. Berbasis pada dua pola tersebut, maka Geertz menyatakan bahwa di Jawa dikenal dengan Konsep “Agama Sinkretik” atau agama Islam yang merupakan campuran antara animisme, dinamisme, Hindu, Buddha dan Islam. Islam sinkretik itu seakan-akan telah berada di dalam melting pot atau campuran yang tak terpisahkan. Telah menyatu menjadi satu. Geertz oleh beberapa ahli disebut sebagai “jendela kajian Indonesia.”

  

Sebagai konsep dalam dunia akademik, maka konsep Islam sinkretik juga tidak lepas dari kritik dan upaya untuk mereviewnya, bahkan untuk memfalsifikasinya. Di antara yang berhasil dengan gemilang membuat tandingan konsep Islam sinkretik adalah Mark R. Woodward, seorang peneliti dari Amerika yang melakukan kajian tentang Islam Jawa pada pusatnya yaitu keraton Yogyakarta. 

  

Semula Woodward ingin memperdalam tentang Islam sinkretik sebagaimana temuan Geertz. Dalam kerangka mengkaji konsep Geertz tersebut, maka terlebih dahulu harus mempelajari agama Hindu di pusatnya, India. Kira-kira pertanyaan dasarnya apakah benar bahwa agama Jawa dipengaruhi oleh agama Hindu dan Buddha, ajaran animism dan  dinamisme serta Islam. Woodward datang ke Jawa tepat di tengah suasana peringatan Grebeg Mulud, yang diselenggarakan oleh Kerajaan Islam Yogyakarta. Woodward mengamati dengan cermat, lalu bertanya yang mana yang ajaran Hindu. Woodward tidak melihat ada unsur agama Hindu sebagaimana yang dilihatnya di India. Maka dia pergi ke Masjid Kauman Yogyakarta dan bertanya tentang upacara tersebut. Setelah mendapatkan penjelasan dari marbot masjid, maka kemudian dia yakin bahwa di pusat Jawa tidak terdapat agama sinkretik, khususnya Islam sinkretik. Maka dia berubah tidak lagi tertarik dengan agama sinkretik tetapi tertarik untuk meneliti Islam Jawa dalam tajuk “Kesalehan Normatif versus Kebatinan”. Judul aslinya adalah Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in The Sultanate of Yogyakarta (1989). 

  

Di dalam karyanya yang luar biasa tersebut, Woodward berhasil membalik konsep Geertz dengan menyatakan bahwa Islam di Jawa adalah Islam akulturatif, yaitu Islam hasil dialog jangka panjang antara ajaran Islam dan tradisi Jawa. Islam yang khas dan bukan merupakan campuran berbagai ajaran sebagaimana pemikiran Geertz akan tetapi merupakan Islam yang khas atau unik, yang memiliki ekspresi yang berbeda meskipun memiliki substansi yang sama dengan Islam yang berasal dari tradisi besarnya.

  

Saya terus terang menyatakan bahwa di dalam karya akademik saya, khususnya Islam Pesisir,  dipengaruhi oleh dua orang hebat ini, yaitu Geertz dan Woodward. Saya  telah mengukir konsep baru Islam kolaboratif, sebuah konsep yang baru sebagai hasil diskusi dengan Prof. Ramlan Surbakti dan Prof. Irwan Abdullah. Sebuah buku yang saya kira merupakan puncak karya saya dalam dunia akademik.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.