Resepsi Puncak Satu Abad NU: Meriah dan Gemerlap
HorizonOleh: Muh. Yusrol Fahmi
Jangan tanya kemacetan di Sidoarjo pada saat diselenggarakannya acara resepsi puncak Satu Abad NU di Gelora Delta Sidoaarjo. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah orang yang hdir pada acara tersebut akan tetapi pesertanya luar biasa dan datang dari seluruh Indonesia. Mereka adalah jamaah atau warga NU yang selama ini menjadi pengabdi NU dan menjadi jamaah NU yang taat pada NU baik secara kultural maupun structural.
Jika kita menyusuri dari arah Surabaya, maka parkir Bus dan mobil pribadi sudah tergelar mulai dari sebelah utara jembatan tol Sidoarjo sampai jalan menuju kota dan menuju Gelora Delta Sidoarjo. Setiap ada tempat yang bisa dipakai parkir, maka di situ terdapat puluhan mobil parkir. Di rumah makan, kafe, bank, pom bensin dan lapangan di dekat jembatan tol penuh sesak dengan kendaraan roda empat.
Makin ke dalam mendekati Gelora Delta Sidoarjo jumlah massa makin menumpuk. Di perempatan menuju ke gelora itu macet total. Jalan ke kiri maupun ke kanan dan ke depan penuh sesak dengan manusia yang berjalan merayap. Banyak di antara mereka yang memakai atribut NU, seperti kopyah, selendang, bendera dan baju atau kaos yang berlambang Satu Abad NU. Mereka datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera. Tidak hanya orang dewasa tetapi juga remaja dan anak-anak. Semuanya hadir untuk menunjukkan diri sebagai warga NU.
Mereka yang hadir tersebut tidak ingin mendengarkan ceramah dan pidato atau gemerlap tarian dan nyanyian di dalam lapangan Gelora Delta Sidoarjo, akan tetapi memang ingin menyemarakkan Satu Abad NU. Mereka tidak berkeinginan atau tidak bisa masuk ke dalam lapangan tampat acara, tetapi dengan menghadiri dari jauh cukuplah sudah. Mereka menyatakan: “ingin ngalab berkah para ulama NU”.
Baca Juga : Solidaritas Dalam Tubuh Masyarakat Modern
Yang menjadi menarik adalah raut wajah mereka yang tidak menunjukkan kelelahan. Sama sekali tidak tampak Lelah meskipun pakaiannya lusuh karena dipakai dalam perjalanan Panjang atau digunakan pada istirahat di mana saja. Mereka juga tidak mengeluh karena kemacetan yang luar biasa. Nyaris tidak bisa berjalan karena begitu berjubelnya orang yang hadir pada puncak acara resepsi dimaksud. Di antara mereka tentu ada yang terus melantunkan bacaan wirid sebagaimana orang NU pada umumnya, dan ada pula yang bersendagurau dengan sesama kawannya. Mereka ini adalah para pengabdi yanf sesungguhnya. Orang yang hidup dan matinya berada di bawah panji-panji NU. Mereka adalah kelompok NU kultural yang siap untuk mengabdi kepada NU dengan segenap kekuatannya.
Sementara itu di dalam Gelora Delta Sidoarjo terdengar yel-yel untuk menyambut pidato Ketua PBNU, Kyai Yahya Cholil Tsaquf, dengan dengan gegap gempita. Pidato pendek tetapi mengingatkan seluruh warga NU agar terus bergerak untuk menuju kemajuan terutama pada ke dua NU. Para petinggi NU pada hadir di lapangan dengan segenap keyakinan bahwa NU akan menjadi semakin besar dan semakin jaya. Mereka datang dari utusan PW NU dan juga PCNU seluruh Indonesia yang memang senagja harus hadir untuk perayaan Satu Abad NU.
Para pemusik di bawah koordinasi Pemusik hebat, Addie MS juga menyemarakkan acara Satu Abad NU. Dialah yang mengaransemen Shalawat Asyghil dan lagu ya lal wathan termasuk lagu Mars satu Abad NU. Lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan tanpa iringan music menjadi enak dan nikmat didengarkan. Berkat kolaborasinya dengan Denny Malik, koreografer Indonesia yang sangat terkenal, maka suguhan music dan tari kolosal bisa tertata dengan sangat baik. Banyak yang mengapresiasi kolaborasi antara Addie MS, Denny Malik, Banser, dan penyanyi cilik hasil audisi yang dilakukan khusus untuk pagelaran Satu Abad NU.
Resepsi Satu Abad NU ini sesungguhnya melampaui terhadap berbagai acara lain yang menghadirkan massa. Acara yang dilakukan oleh PBNU ini sungguh memberikan gambaran kekuatan modal social NU yang dahsyat. Yaitu banyaknya jamaah NU baik structural maupun kultural yang menghadiri momentum gawe besar Satu Abad NU. Acara ini kiranya melebihi pertemuan besar yang dilakukan di Jakarta oleh FPI, yang dikenal sebagai Gerakan 212. Bahkan juga acara lain yang terkait dengan Gerakan massa.
Melubernya peserta dalam resepsi puncak Satu Abad NU juga ditandai dengan ketiadaan masalah yang krusial. Seluruh peserta yang hadir, baik di dalam maupun di luar Gelora Delta Sidoarjo dengan tertib mengikuti perhelatan besar NU Satu Abad. Hanya saja yang kemudian menjadi tanda tanya adalah “adakah motif-motif politik yang tersembunyi dibalik perhelatan besar ini” atau “adakah motif non social religious yang kemudian tersaji di masa yang akan datang”.
Saya kira semua itu akan dijawab oleh waktu. Dan waktulah yang akan menginformasikan kepada kita semua apa sesungguhnya yang akan terjadi.

