Sejumput Sampah Setumpuk Barokah
HorizonOLEH: SITI WAQIATUL HASANAH
Permasalahan yanng tidak menemukan titik akhir sampai saat ini adalah permasalahan mengenai sampah (barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; Kotoran seperti daun). Permasalahan sampah ini menjadi trending topik di berbagai media massa, dengan menyajikan berbagai dampak dari sampah tersebut dengan berbagai upaya pemerintah untuk menanggulinya. Namun usaha ini tidak akan berhasil apabila tidak adanya kerjasama dari semua pihak. Seperti itulah gambaran negara kita ini. Hal ini bukan juga lahir secara sendirinya. Namun juga karena adanya perubahan zaman yang semakin canggih.
Perubahan zaman yang semakin canggih dan sikap manusia yang cenderung menyukai sesuatu yang instan. Seperti dalam memilih makanan merupakan hal yang menjadi pokok utama bertambahnya volume sampah di Indonesia. Ditambah dengan lahirnya pabrik-pabrik yang mencetak bahan makanan instan dengan bungkus yang didesain sedemikian rupa menjadi daya tarik tersendiri, yang juga berhasil menarik perhatian pembeli. Sehingga, jika sehari biasanya mereka menghasilkan sedikit sampah saat mereka tertarik untuk membeli produk pabrik tersebut maka sampah yang mereka buang akan melonjak.
Banyaknya sampah yang mengganggu ketenangan manusia ini bukan hal baru lagi bagi Indonesia. Karena banyaknya jumlah penduduk Indonesia yang tidak sadar akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya merupakan salah satu sebab lambatnya penyelesaian masalah ini. Tidak hanya itu saja, tindakan mengurangi sampah plastik yang diterapkan juga menyebabkan lambatnya penyelesaian masalah sampah ini.
Dari berbagai upaya yang diterapkan oleh pemerintah untuk dapat menyelesaikan masalah sampah ini, tidak lantas membuat masyarakat Indonesia sadar akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Bahkan kebanyakan dari mereka merasa tidak menyesal jika membuang satu bungkus permen ke sembarang tempat. Berbeda sekali dengan penduduk negara lain yang terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Bahkan menyimpan sampah plastik permennya di dalam saku jika tidak menemukan tempat sampah untuk membuangnya. Kebiasaan ini menjadi sebuah contoh yang wajib dilakukan oleh penduduk Indonesia.
“Satu sampah satu barokah” salah satu usaha lain yang dilakukan oleh petugas kebersihan salah satu pondok pesantren terbesar di Madura, yaitu pondok pesantren Annuqayah dalam menumbuhkan kesadaran santri dalam menaggulangi masalah sampah. Slogan ini sebenarnya hanya dikhususkan bagi para petugas pembuang sampah. Namun seperti yang telah disebutkan di atas bahwa usaha tidak akan pernah berhasil jika tidak ada kerja sama yang baik. Maka dari itu slogan ini bersifat umum bagi semua santri. Apalagi bila kerjasama di sini merupakan hal penting untuk dapat mewujudkan lingkungan yang bersih. Namun lagi-lagi santri tidak sadar akan hal tersebut, menganggap bahwa tugas untuk membuang sampah adalah petugas pembuang sampah. Sedangkan dirinya hanya bisa menciptakan sampah dan tidak bisa bertanggung jawab dalam membersihkannya.
Anggapan yang seperti itu harusnya dibuang jauh-jauh. Karena sesuatu yang bersih akan menyehatkan. Seperti kebiasaan membuang sampah pada tempatnya ketika di pondok pesantren merupakan sebuah usaha pembiasaan ketika kembali ke rumah masing-masing. Bukan hanya diterapkan di pondok saja. Namun juga dapat diterapkan ketika sudah sampai ke rumahnya.
Pembiasaan yang berhadiah barokah ini bukan hanya di pondok saja. Karena sejatinya tugas untuk membuang sampah dan menciptkan lingkungan yang sehat merupakan sebuah proses pelestarian alam. Di mana hal itu dianjurkan oleh sang pencipta.Santri menjadi contoh bagi yang lain dalam segala hal. Begitu pun dalam tindakan untuk dapat membuang sampah pada tempatnya dan dapat mengurasi sampah plastik. Karena masyarakat akan beranggapan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh santri merupakan sesuatu yang baik, maka dari itu setidaknya santri kita juga dapat menjaga sikap juga menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
Bila terdapat slogan yang mengatakan bahwa "satu sampah satu barokah" maka tidak menuntut kemungkinan apabila kita juga dapat menyadarkan mereka yang masih belum sadar akan pentingnya kebersihan, dan mereka yang kita ajak untuk melakukan hal tersebut dapat sadar akan pentingnya kebersihan. Maka dari itu slogannya "sejumput sampah, setumpuk barokah" semacam amal jariyah karena amal yang dilakukan secara terus menerus, meskipun bukan kita yang melakukannya. Maka kita juga akan mendapatkan Pahalanya karena berhasil menyadarkan orang lain.

