(Sumber : VOA)

Israel yang Semakin Brutal

Opini

Semua orang yang memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan dipastikan akan mengutuk atas tindakan Israel yang membabi buta menyerang negara-negara lain, sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini. Penyerangan Israel atas Iran sebenarnya bukan yang pertama tetapi sudah berkali-kali. Tetapi serangan dalam pekan kemarin sungguh merupakan serangan yang memang didesain untuk merusak negara lain, khususnya Iran. 

  

Selama ini ada anggapan kuat bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir pemusnah, sehingga serangan itu dimaksudkan untuk memberikan warning kepada Iran tentang pengembangan nuklir untuk perang tersebut. Sebagaimana biasa Amerika Serikat pendukung utama Israel juga memberikan support tentang serangan dimaksud. Artinya, bahwa Amerika mengetahui bahwa Israel akan menyerang Teheran dan pusat-pusat industri strategis lainnya, sehingga diplomat dan warga Amerika di Iran pun diminta untuk meninggalkan negeri tersebut. Presiden Trump sudah mengisyaratkan bahwa akan terjadi serangan atas Iran, dan hal tersebut benar adanya. 

  

Amerika memang selalu menerapkan kebijakan ganda atau double standart atau doublespeak, di mana serangan terhadap Iran adalah untuk kepentingan menihilkan pengembangan senjata nuklir, sementara itu jika Iran menyerang balik dianggap sebagai gerakan melawan perdamaian dunia. Pada hal Iran juga menduga bahwa Israel juga mengembangkan senjata nuklir. Hanya saja Amerika bungkam jika hal itu terkait dengan Israel. Sebagai negara adi daya, memang Amerika merupakan pendukung Israel yang luar biasa. Israel tidak akan seberani itu jika tidak mendapatkan  support senjata maupun kebijakan Amerika.

  

Peperangan di Timur Tengah ini tidak akan segara berakhir. Dengan keterlibatan Iran yang sengaja dimasukkan dalam kawah pertempuran tentu akan menjadikan Kawasan Timur Tengah semakin membara. Hanya Yordania yang masih belum bersikap atas kekerasan luar biasa yang dilakukan oleh Israel. Arab Saudi memang lebih memilih jalan damai, sebab tugasnya untuk menjaga dua kota suci Mekkah dan Madinah. Israel pun sesungguhnya tidak akan berani melakukan penyerangan terhadap Arab Saudi, karena resiko yang akan ditanggungnya. 

  

Keinginan Israel untuk menghancurkan negara-negara lain yang memberikan dukungan atas Palestina tentu bukan isapan jempol. Keinginan negara Israel dengan Zionismenya untuk mengakuisisi Palestina menjadi wilayahnya tentu bukan sekedar keinginan sekarang akan tetapi beban Sejarah. Palestina adalah tanah harapan yang bagi mereka harus diperjuangkannya. Semenjak Nabi Musa, bangsa Yahudi sudah bermimpi untuk menjadikan Palestina sebagai homeland baginya. Lalu diperkuat dengan kehadiran Palestina sebagai kerajaan yang terkait dengan Klan Yehuda dan Benyamin, dan kemudian negeri di bawah kepemimpinan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. King Solomon memiliki wilayah yang sangat luas dan itu diklaim sebagai wilayah kaum Yahudi. 

  

Perang sekarang adalah bagian dari upaya untuk menancapkan kekuasaan Yahudi di negeri Impian. Meskipun tidak semua kaum Yahudi bersetuju dengan Zionisme akan tetapi Zionisme tidak akan akan pernah berhenti. Zionisme merupakan kelompok Yahudi yang berasal dari Eropa Timur dan Tengah dan kemudian bermigrasi ke tanah Palestina sebelum Deklarasi Kemerdekaan Israel, dan ada di antara hipotesis yang menyatakan bahwa mereka bukanlah keturunan Yahudi yang berkakek moyang kepada Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Mereka adalah suku Azkenazi yang berlatar bangsa Eropa Timur dan Tengah. Mereka bukanlah Bani Israel yang sesungguhnya. Di Israel sendiri sekarang terdiri dari banyak Suku, yaitu Suku Yahudi Zionisme yang sedang berkuasa dan Suku lain yang menjadi keturunan dari 12 suku di dalam Yahudi. Jika Israel yang terdiri dari 12 suku merupakan keturunan Sham bin Nuh, maka Suku Azkenazi merupakan keturunan Yafeth bin Nuh. Yang di dalam kata lain merupakan keturunan Turki dan Mongolia. Bahkan di dalam pernyataan Menachem Ali, Yahudi yang berkuasa sekarang adalah keturunan Yafeth dan diindikasikan keturunan Ma’juz. 

  

Yang kita sesalkan adalah upaya penguasa Israel yang benar-benar haus darah. Pada periode akhir-akhir ini, korban atas peperangan antara Israel dan Palestina telah menewaskan tidak kurang dari 16.000 anak Palestina yang tewas dan bahkan 65.000 anak Palestina yang berpotensi tewas karena ketiadaan bahan makanan sehat dan air bersih, sementara itu terdapat sebanyak  46.000 orang Palestina yang tewas. Padahal penduduk Palestina di Gaza hanya sebesar 2,3 juta jiwa. 

  

Berdasarkan atas fakta ini, maka ada anggapan bahwa yang menjadi sasaran perang Israel adalah anak-anak, sebab ke depan diharapkan tidak ada lagi generasi penerus bangsa Palestina. Dengan semakin banyak anak-anak yang menjadi syahid di Palestina, maka akan memastikan bahwa bangsa Palestina tidak ada yang melanjutkan garis keturunannya. Oleh karena itu pantas jika disebut bahwa yang dilakukan oleh Israel adalah genosida.

  

Dengan kenyataan seperti ini pantaslah jika semakin banyak negara yang mengecam atas kebengisan Israel, dan tentu yang tidak akan melakukan pengecaman adalah Amerika Serikat. Negeri ini memang penjaga Yahudi Azkenazi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.