(Sumber : Tempo.co)

Yahudi, Negara Israel dan Kekerasan Atas Palestina (Bagian Kedua)

Opini

Tiada hari tanpa berita kekerasan Israel atas bangsa Palestina. Berita di headline media televisi, koran dan media social dengan gamblang memberitakan tentang kekejaman Israel atas warga sipil Palestina. Bagaimana tidak, setiap hari terdapat penembakan atas warga Gaza: anak kecil, remaja, orang tua bahkan para perempuan yang menjadi sasaran kekerasan non manusiawi yang dilakukan oleh tentara Israel. 

  

Selama ini ada pandangan bahwa Bangsa Israel adalah bangsa yang kejam sebab telah melakukan genosida atas bangsa Palestina. Mereka telah menguasai wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh bangsa Arab, misalnya di Gaza. Tetapi sekarang telah menjadi wilayah konflik actual, sebab negara Israel menginginkan mereka dibumihanguskan, sementara itu, bangsa Palestina yang dimotori oleh Hamas terus bertahan. Sesungguhnya ada perbedaan antara Israel dan Zionis. 

  

Bangsa Israel adalah ikatan social, budaya dan agama yang berbasis pada tradisi agama Yahudi. Mereka berada di mana-mana, di seluruh dunia. Mereka memeluk agama Yahudi dan bertradisi kaum Yahudi. Mereka ada yang terlibat dengan Gerakan Zionisme dan ada juga yang tidak. Sedangkan Zionisme adalah gerakan politik dengan tujuan untuk mendirikan negara Israel melalui gerakan kekerasan dan bahkan genosida. Tindakan yang dilakukan sekarang adalah perilaku genosida untuk menghancurkan keturunan Arab yang masih menduduki wilayah Gaza.

  

Di dalam Zionisme terdapat paduan antara ajaran agama, tradisi dan politik untuk tujuan mendirikan negara yang khusus bagi orang-orang Israel. Para pemimpin Negara Israel terdiri dari orang-orang Zionis, dengan semangat mendirikan negara dengan wilayah sebagaimana di masa Nabi Sulaiman dan independent. Wilayahnya meliputi seluruh daratan Palestina, dan negara-negara di Timur Tengah lainnya. Jadi jika hanya menginginkan wilayah Gaza itu hanya permulaan, sebab targetnya adalah seluruh wilayah the King Solomon.

   

Kaum Zionis adalah mereka yang memiliki relasi dengan masa lalu dalam agama, social, budaya dan politik berbasis Yahudisme. Mereka datang dari Eropa Timur dan Tengah pada abad ke 19. Di bawah koordinasi Theodor Herzl, mereka menyatu di dalam bendera Negara Israel yang chauvinistic. Begitu besarnya keinginan untuk menyatukan seluruh Israel Raya, maka masyarakat yang bukan Israel dibinasakan. Makanya, jika mereka sekarang dengan membabi buta melakukan pembunuhan atas bangsa Palestina, maka dianggap hal itu adalah tujuan suci untuk Tanah Harapan Palestina.

  

Zionisme ini memperoleh dukungan maksimal dari Inggris, Perancis  dan Amerika. Keduanya merupakan sponsor utama atas berdirinya Negara Israel dan yang juga memberikan support dana dan peralatan militer canggih. Di dalam perang melawan Mesir yang didukung oleh beberapa negara Arab seperti Uni Emirat Arab dan Iran, ternyata Israel menang, sebab didukung oleh peralatan militer canggih dari Amerika. Selama ini Amerika dikenal dengan kebijakannya yang double standarts atau double speaks. 

     

Amerika memiliki kebijakan ganda ke luar negeri. Akibat dukungannya atas Israel, maka dengan sadar dilakukan upaya untuk membela Israel. Jika tentara Israel menyerang wilayah pemukiman Palestina, maka hal itu dianggap untuk menemukan para pelaku kekerasan yang berada di Palestina, sementara itu jika ada warga Palestina yang melakukan penyerangan atas wilayah Israel dianggap sebagai kaum teroris. 

  

Kekerasan di luar perikemanusiaan dilakukan nyaris setiap hari. Tidak hanya puluhan orang Palestina yang menjadi kurban, akan tetapi juga ribuan orang bahkan ratusan ribu orang. Atas  mereka  dilakukan penembakan dan pengeboman, yang mematikan.  Kekejaman mereka tak terperikan. Bahkan dilakukan pengeboman atas pesawat-pesawat UAE yang akan mengangkut jamaah haji. Pesawat non militer pun dihancurkannya. Sungguh sebuah tindakan perlawanan atas kemanusiaan, perdamaian  dan keadilan. Bagi Kaum Nazi, bahwa di dalam nuansa peperangan, apapun sah-sah saja dilakukan.

   

Kaum Zionis merasa besar kepala karena di belakangnya terdapat kekuatan superpower, Amerika Serikat. Bahkan di saat-saat Israel kekurangan dana, maka Amerika Serikat yang memberikan supportnya, meskipun pembiayaan tersebut berupa hutang negara. Ada dua hipotesis terkait dengan kaum Yahudi, yaitu hipotesis Kazarian dan Hipotesis Rhineland. Pendapat Kazarian menyatakan bahwa Kaum Yahudi yang berada di Eropa Timur dan Tengah bukan berasal dari keturunan kaum Yahudi Timur Tengah, atau Yahudi Palestina. Mereka berimigrasi ke Eropa Timur dan Tengah pada zaman khalifah Umar bin Khatab. Kala Romawi kalah dan Umar memenangkan pertempuran, maka Yahudi pindah ke daerah tersebut.

  

Sementara itu, di dalam hipotesis Kazarian, bahwa Yahudi di Eropa Timur dan Tengah bukanlah keturunan Yahudi dari Palestina. Mereka adalah kelompok yang tidak mau berubah menjadi Kristen atau Katolik, tetapi akhirnya memilih menjadi Yahudi. Pada saat terjadi pemusnahan Kaum Yahudi oleh tentara Jerman, maka mereka ini kemudian berimigrasi ke berbagai wilayah dan yang terbesar adalah ke Amerika Serikat. Pada akhir Abad 19, mereka pada datang kembali ke Palestina di bawah panji-panji Zionis. 

  

Mereka sekarang banyak yang menjadi orang sukses di Amerika, dan yang kembali ke Palestina kemudian mendirikan Negara Israel. Atas kekejaman sejarah yang pernah dialaminya, maka mereka melampiaskannya kepada kaum Arab Islam. Mereka melakukan upaya genosida atas etnis Arab di Gaza dan sekitarnya, dan jumlah yang terbunuh sudah sangat banyak. Kekerasan kaum Zionis ini sudah di luar batas kemanusiaan, dan sayangnya bahwa tidak ada yang melakukan tindakan balasan. Negara-negara Islam juga masih menahan diri, sedangkan Arab Saudi juga harus melindungi dua kota sucinya dari serangan-serangan rudal Israel. Hanya Iran yang selama ini tampak konfrontatif, sedangkan lainnya wait and see.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.