(Sumber : Brilio.net)

Seni Mendengar dan Memberikan Respon

Horizon

Mikhlathul Auliya 

Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Ada sebuah kutipan dalam buku berjudul Komunikasi Konseling: Wawancara, Seni Mendengar hingga Soal Kepribadian yang berbunyi: “Begitu manusia menginjakkan kaki di bumi, komunikasi menjadi faktor tunggal yang menentukan jenis hubungan apa yang dilakukannya dengan orang lain dan apa yang terjadi padanya.” (Virginia Satir, Psikoanalis dan Ahli Terapi Amerika Serikat).

  

Sebagai makhluk sosial, komunikasi merupakan jembatan yang mengantarkan kita pada berbagai kebutuhan sehingga komunikasi menjadi bagian dari kehidupan kita. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkomunikasi daripada aktivitas lainnya dalam keseharian. Komunikasi pun dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan. Ada salah satu momen komunikasi favorit saya saat bersama ibu, terutama saat saya sedang capek-capeknya. 

  

Sudah menjadi kebiasaan bagi saya ketika capek untuk pulang ke rumah. Bertemu ibu adalah tujuannya. Sebagai seorang introverts, saya tidak banyak cerita tentang apa yang saya rasakan ke orang lain. Terkadang ada banyak sekali hal dalam pikiran yang terasa rumit untuk disampaikan. Maka salah satu cara untuk healing di tengah kerumitan pikiran adalah dengan bercerita kepada ibu.

  

Begitu berjumpa dengan ibu, raut mukanya selalu lembut, Terpancar kasih sayang dari sorot matanya. Pertanyaan yang dilontarkan ibu rata-rata bernada sama “capek mbak? Mau istirahat atau cerita dulu?” pembawaan ibu yang lembut, perkataannya yang tidak memaksa dan tidak menunjukkan tendensi yang membuat saya makin tertekan. Semua faktor itu membuat saya yang bahkan belum cerita ini sudah merasa ‘dirangkul’. Ibu dengan segala gerak-geriknya selalu membuat saya nyaman. 

  

Kadang cerita tersebut mengalir sambil duduk, kadang belum sempat duduk, baru beres-beres baju, cerita sudah mengalir begitu saja. Ibu merupakan pendengar yang baik, setidaknya itu lah yang saya lihat. Beliau tidak pernah menyela pembicaraan saya.elalu mendengarkan dengan baik. jika ceritanya sangat intens, ibu sampai melihat muka saya, mengamati setiap gerak-gerik raut wajah ini seiring berjalannya cerita. Sepanjang apapun ibu akan mendengarkan dan tidak bertanya apapun sampai saya selesai. 

  

Kebanyakan cerita saya berupa keluhan-keluhan pribadi mengenai hidup. Ibu paham betul apa saja yang membuat saya kesulitan. Maka saat bercerita, saya pasti ‘sambat’ karena saya memang merasa berat dan butuh tempat untuk meluapkan segala beban yang selama ini saya pendam. Saat cerita selesai, hal pertama yang saya notice selalu ibu lakukan adalah memvalidasi perasaan saya. Bahwa untuk melewati itu semua pasti capek, pasti berat. Segala emosi-emosi kecil yang saya ceritakan, semuanya divalidasi oleh ibu. 

  

Kadang saya bercerita sambal menangis. Ibu hadir disana dengan hanya merangkul, mendengarkan saya atau kadang mengelus tangan saya. Terlebih saat emosi saya sedang hebat. Hanya mendengar, hanya diam, hanya sentuhan-sentuhan kecil. Respon paling minimal ini menjadi kekuatan hebat bagi saya yang sedang kalut. Ibu akan memberikan nasehat begitu saya tenang. Nasehat yang akhirnya bisa saya terima setelah berbagai respon baik yang ibu berikan.

  

Dari pengalaman tersebut, ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil. Pertama, bahwa komunikasi yang berjalan baik akan memberikan manfaat yang luarbiasa bagi kehidupan. Komunikasi memiliki nilai tak terhingga. Ada nilai personal dan ada nilai hubungan. George Herbert Mead menyatakan bahwa human are talked into humanity. Artinya, seseorang memperoleh identitas personal selama ia berkomunikasi dengan orang lain. Hal demikian sudah terjadi sejak awal kehidupan ketika orang tua mengajarkan tentang siapa kita, misalnya dengan mengatakan, “Kamu begitu cerdas,” atau “kamu anak yang lucu.” Proses itu memberikan pelajaran untuk memahami diri kita melalui orang lain, karena pesan-pesan mereka membentuk landasan konsep diri. Kemudian ketika kita berinteraksi dengan guru atau teman, mereka menyampaikan pandangan mereka mengenai kita. Di sisi lain, cara kita melihat diri sendiri merupakan refleksi dari pandangan-pandangan mengenai diri kita yang disampaikan orang lain. 

  

Hal ini lah yang juga saya rasakan. Respon ibu yang memvalidasi emosi dan perasaan saya membuat saya yakin bahwa apa yang saya rasakan adalah benar. Ketika ibu berkata “pasti berat ya… ibu paham” bukan artinya ibu mengamini saya sebagai anak lemah yang tidak kuat dengan beban berat. Justru sebaliknya, kalimat tersebut membuat saya menjadi lebih berani dan percaya terhadap diri sendiri. Adanya sugesti dalam diri yang membuat saya merasa mempunyai teman dan supporter sehingga apapun yang saya hadapi kedepannya pasti bisa saya jalani. Tentunya hal tersebut bisa berbeda jika respon yang saya dapatkan semisal bernada “gitu aja kok gak bisa se..” tentunya malah membuat saya down dan meyakini diri ini lemah karena merasa diremehkan.

  

Selanjutnya ada nilai hubungan yang artinya berkomunasi yang baik dengan orang lain dapat mempererat hubungan antar orang tersebut. Sesi bercerita dengan ibu menjadi salah satu quality time bagi saya. Saat saya sudah merasa cukup dan “penuh” dengan kehadiran ibu, maka saya tidak memerlukan tempat lain lagi untuk berkeluhkesah. Sehingga hubungan saya dan ibu pun menjadi semakin dekat. 

  

Pelajaran kedua adalah betapa pentingnya respon dalam komunikasi. Respon akan menentukan kelanggengan hubungan komunikasi kedepannya. Respon yang benar akan membuat orang rela untuk bercerita lagi. Sebaliknya, respon yang kurang tepat atau bahkan membuat penceritanya menjadi tersinggung, bisa dipastikan ia tidak akan mau bercerita lagi. Terdapat suatu istilah “think the speaker’s position before you react” atau jika saya terjemahkan artinya, “pikirkanlah posisi pembicara sebelum anda memberikan respon”. Jangan memberikan respon berdasarkan sudut pandang pribadimu, namun lihatlah dari sisi si pembicara atau pencerita. Bisa jadi apa yang kamu anggap remeh, ternyata tidak remeh di mata orang lain. Cobaan hidup seseorang bisa dirasakan berbeda sesuai kemampuan masing-masing individu. Apa yang diceritakan orang lain bisa jadi hanya sepersekian persen dari segala keseluruhan cobaan yang ia telah jalani, oleh karenanya memberikan respon yang benar bisa menjadi salah satu cara untuk menghargai orang tersebut.

  

Respon yang baik tidak selalu harus memberikan solusi. Terkadang apa yang dibutuhkan oleh pembicara hanyalah tempat untuk meluapkan emosi. Pendengar yang baik menjadi tempat yang nyaman. Saat tujuannya adalah meluapkan emosi dan beban, maka yang dibutuhkan adalah telinga yang baik. Tidak melulu soal problem solving. Bisa jadi orang tersebut sudah mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalahnya sendiri. Maka respon-respon seperti “sabar ya…” atau “tabah ya…” menurut saya agak kurang tepat. Tentunya orang-orang ini sudah mengetahui hal tersebut. Hanya saja, menjadi sabar dan tabah dalam situasi yang tidak menguntungkan menjadi hal yang sangat sulit. Maka menjadi pendengar yang baik dengan hanya fokus mendengarkan menjadi hal yang sudah lebih dari cukup.