(Sumber : Detikcom)

Sikap Akademisi Islami Terhadap Fenomena Joki Publikasi

Horizon

Oleh: Moch Husnan

    

Seorang akademisi adalah seseorang yang sedang berproses dalam menekuni suatu bidang keilmuan yang sudah dipilihnya di perguruan tinggi. Tentu, dengan tujuan agar dapat menjadi seseorang yang ahli pada bidang ilmu yang dipilihnya, sehingga harapannya ilmu tersebut dapat menjadi alat yang solutif untuk dirinya maupun masyarakat. Apalagi jika kita bersandang akademisi islami. Tentunya, tidak berhenti pada bidang keilmuannya saja yang ditekuni, tetapi juga mengasah moralitas di dalam setiap proses belajarnya. 

  

Menjadi seorang akademisi yang bersandang Islami adalah sebuah capaian yang luar biasa. Baik di tingkat S1 (Strata Satu), S2 (Strata Dua) ataupun di S3 (Strata Tiga). Sebab, integritas antara pengetahuan yang didapatkan akan terus senantiasa dijaga dengan nilai-nilai Islami. Makanya, jika ada seorang akademisi Islami namun sikapnya dalam proses belajarnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai tugas, maupun dalam kelulusannya supaya “terlihat baik” atau berpura-pura agar terlihat cerdas dengan nilai tugasnya. Padahal, dalam proses meraih nilainya tidak didasarkan dengan kejujuran. Misalnya, dalam pembuatan proses karya ilmiahnya diharuskan untuk mengupload ke platform jurnal tertentu, namun ternyata memakai “jasa joki publikasi” dalam pembuatan karya ilmiahnya.

  

Namun demikian saat penulis beberapa waktu lalu hendak mencari informasi di sosial media. Ternyata, ada iklan yang menawarkan “Jasa Joki Publikasi” bahkan bisa menjanjikan kita untuk bisa membantu tembus dalam jurnal internasional terindeks di scopus. Kemudian saya coba klik akun sosial medianya, dan ternyata banyak sekali testimoni dari ratusan hingga ribuan orang kalangan akademisi, baik dari mahasiswa maupun dosen. Saat penulis membaca tulisan Prof. Dr. Nur Syam seorang Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, maka penulis sampai menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, yang memakai jasa joki publikasi ternyata tidak hanya mahasiswa dan dosen biasa, namun sudah sekelas profesor. Bahkan, jasa joki publikasi tersebut sampai bisa menjadikan seseorang naik pada tingkat gelar tertinggi dari seorang akademisi.

  

Jasa joki publikasi adalah dalam ilmu ekonomi, jasa atau layanan adalah aktivitas ekonomi yang melibatkan sejumlah interaksi dengan konsumen  yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip intangibel dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun. Sedangkan Joki Publikasi adalah orang yang mengerjakan karya ilmiah untuk dipublikasikan/diterbitkan pada platform jurnal terindeks resmi dan jasa tersebut menerima imbalan uang atas pekerjaannya. Makna secara sederhananya adalah kita membayar seseorang untuk mengerjakan karya ilmiah kita, guna kepentingan supaya tepublish di indeks resmi nasional maupun internasional. 

  

Maraknya “Jasa Joki Publikasi” dengan tanpa rasa malu mengiklankan jasanya di sosial media, bahkan seperti tidak dapat larangan oleh negara atas eksistensinya. Maka, kita sebagai seorang akademisi Islami tentu haruslah memiliki sifat yang bijaksana, agar esensi tujuan mulia dari adanya pendidikan ini supaya tidak tercederai dan benar-benar menjaga kredibilitas sebagai orang yang menempuh pendidikan tinggi . 

  

Adanya realitas yang demikian. Maka, penulis mencoba membuat sikap yang tepat untuk seorang akademisi Islami. Pertama, kita mengingat tujuan. Bagaimana kita senantiasa mengingat tujuan kita diberi hidup oleh Allah sebagaimana QS. Al Baqarah ayat 30, bahwa kita adalah seorang pemimpin di muka bumi ini, agar kita mengelola agar kehidupan di bumi ini senantiasa dirahmati oleh Allah SWT, dan mengingat tujuan adanya pendidikan untuk suatu bangsa dan negara, yang tentunya agar menjadi generasi berperadaban secara moral maupun intelektual. Tentu, dengan mengingat  dua tujuan tersebut bisa senantiasa menjadi perenungan bersama, agar sama-sama bisa senantiasa kita wujudkan.

  

Kedua, Mengingat perintah berpikir. Dalam buku Iskandar al-Warisy setidaknya menemukan ayat-ayat al-Qur’an 232 ayat yang memerintahkan umat manusia untuk senantiasa berpikir. Hal ini, tentu dimaksudkan agar manusia terus mencintai aktivitas berpikir, berinovasi, dan senang atas pembuatan karya ilmiah agar nantinya bisa bermanfaat untuk memecahkan permasalahan di dalam segala lini kehidupan. Sehingga, dengan adanya semangat yang terus berinovasi. Maka, peradaban juga akan terbentuk dengan baik. Aristoteles mengatakan “cogito ergo sum” yang artinya aku berpikir maka aku ada. Dalam hal ini tentu sangat linier dengan konsep Islam yaitu amal jariyah. Bagaimana nantinya jika ide-ide berpikir kita diterapkan oleh orang lain, tentu itu akan menjadi sebuah amal pahala yang senantiasa tidak terputus walaupun saat kita meninggal kelak.

  

Ketiga, Meraih keberuntungan hidup. Sebagaimana pada QS Al Ashr ayat 3, bahwa kita akan mendapatkan keberuntungan hidup atau juga bisa dikatakan sebagai keberkahan hidup atas kejujuran dan ketekunan yang sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka, nantinya jika naik jabatan di bidang akademisi dengan kejujuran nantinya akan memudahkannya untuk dipercaya terus menerus oleh orang lain. misalkan dalam penerbitan karya ilmiah. Maka nantinya akan semakin mudah dikenal oleh orang lain, sehingga nantinya akan banyak orang suka dengan diri kita karena kita adalah murni orang yang baik dan bisa diberi amanah apapun. Hal ini, tentu akan menjadi jalan rezeki yang luar biasa untuk kita nantinya.

  

Keempat, mencintai bidang keilmuan yang sedang dijalankan. Hal ini, juga bisa menjaga diri kita dari sifat-sifat buruk, sebab ketika kita ada rasa cinta terhadap bidang keilmuan kita di dunia akademisi. Maka, tentu hal ini akan membuat pribadi kita terbentuk suatu upaya untuk tidak mengkhianatinya.

  

Kelima, senantiasa update ilmu di era digital. Saat ini, dengan adanya Internet of things (IoT), Virtual/Augmented reality dalam dunia pendidikan, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Tentu, sebenarnya sudah sangat membantu kita untuk mempermudah membuat karya ilmiah tanpa bantuan jasa joki publikasi. Hal ini, haruslah disyukuri dengan wujud bagaimana kita senantiasa belajar mengembangkan kemampuan dunia digital kita, untuk mempermudah dan menyelesaikan kebutuhan kita sebagai akademisi Islami.

  

Keenam, disiplin dan konsisten dalam kebenaran. Hal ini, dapat menjaga integritas kita sebagai seorang akademisi Islami, yang dimana senantiasa terus sabar serta istiqomah atas seluruh upaya yang dilakukan dalam proses berpendidikan di perguruan tinggi. Sebab, jika kita mau sabar nantinya perlahan maupun cepat, kita akan berkembang secara alamiah.

  

Dengan demikian, kita harus senantiasa menempuh jalan/proses yang naik, sebab apa yang kita tabur itu lah hasil yang akan kita peroleh. Sebagai seorang akademisi Islami, tentu banyak sekali harapan masyarakat, agama, bangsa maupun negara terhadap kita. Harapan itu tentu agar kita bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar kita, dengan bidang keilmuan yang telah kita tekuni. Jika para akademisinya mampu menjaga kredibilitasnya dengan baik, tentu tak akan sulit untuk mencapai suatu peradaban yang bermoral dan berintelektual.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.