(Sumber : LPM MATA UNTIDAR)

Susahnya Jadi Perempuan

Horizon

Eva Putriya Hasanah

  

Ada sebuah hasil penelitian  yang mematahkan stigma tentang perempuan yang banyak beredar di masyarakat selama ini. Bunyi stigma itu kurang lebihnya adalah ‘perempuan itu cenderung tidak berpikir logis dibandingkan laki-laki’. Penelitian dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat  justru menunjukkan hal yang berbeda. Laki-laki lebih unggul dari perempuan dalam bidang matematika bukan karena dari segi biologis mereka, akan tetapi kultur dan sosial-budaya masyarakat yang membentuk hal tersebut. Pada dasarnya, bukan karena mereka perempuan, tetapi karena kondisi perempuan dianggap tidak rasional. 

  

Kurangnya role model juga menjadi alasan lainnya. Sebagaimana dituliskan dalam laporan yang dikeluarkan oleh UNESCO dan Korean Women’s Development Institute, yang mengatakan  pekerjaan-pekerjaan dalam bidang matematika dan logika masih sangat minim role model yang dapat dijadikan panutan bagi anak- anak perempuan. 

  

Secara realitas, kultur sering memaksa dan tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang. Seperti halnya tidak banyak memberikan kuasa dalam memilih meneruskan kuliah, memilih jurusan atau pekerjaan yang mereka inginkan, sehingga kemampuan berpikir mereka tidak diasah. 

  

Di masyarakat, perempuan, bahkan di usia dini sekalipun sering dipojokkan dengan tuntutan menikah bahkan punya anak. Jika tidak segera menikah, maka stigma tidak laku, perawan tua, atau telat menikah melekat pada diri perempuan itu. Sedangkan yang lanjut sekolah sering di ejek dan dipertanyakan keputusan nya, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi?”, “Perempuan tugasnya hanya masak, macak, manak” dan sejenis ejekan lainnya. 

  

Perempuan jadi susah punya role model yg bisa mereka contoh. Akibatnya, mereka menganggap bahwa ‘beginilah semestinya perempuan’. Tidak punya kemampuan dan tidak harus berkembang. Kodratnya, takdirnya, alamiahnya, sewajarnya perempuan memanglah begitu.  Akhirnya, kultur semacam ini terus saja berjalan, diproduksi secara terus menerus, diwariskan, dan dilakukan hingga generasi-generasi setelahnya. Harapan adanya role model  yang bisa menjadi inspirasi bagi perempuan lain pun menjadi makin terkikis.

  

Saat menikah masih kerap dan banyak saya temui perempuan yang harus mengubur keinginannya dan harapannya, bekerja, berkomunitas, atau pun sekolah. Mereka mengabdikan diri sepenuhnya untuk rumah tangga, membersamai suami dan anaknya. Tidak masalah sebenarnya, jika itu sudah menjadi pilihan mereka. Namun sayangnya, pernikahan-pernikahan yang dipaksakan terlalu dini kepada perempuan tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak cerita-cerita perceraian terjadi dan membuat mereka berakhir janda. 

   

Pada akhirnya perempuan dengan kemampuan minim dan terbatas harus mencari uang dan menafkahi dirinya sendiri. Itu pun jika berhasil mendapatkan pekerjaan. Sialnya, pandangan buruk masyarakat tidak ada habisnya. Mencoba usaha warung dianggap salah, kerja shift malam tetap jadi bahan gosip. Padahal bisa jadi itu adalah satu-satunya pilihan yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup. Imbas dari kesempatan belajar yang tidak mereka peroleh sebelumnya. Tidak ada pengetahuan, skill, pengalaman, dan koneksi membuat pilihan-pilihan yang mereka miliki menjadi sempit dan sedikit. 

  

Kejadian di tinggal suami meninggal juga tidak kalah sengsaranya. Saya banyak mendapati perempuan janda, berumur, punya anak belum berkerja, yang hidupnya berubah drastis pasca suaminya meninggal. Salah satu aspek perubahannya tentu urusan materi. Mereka yang di tinggal dan terbiasa bergantung, menjadi kelimpungan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

  

Sungguh nestapa memang!

  

Beralih pada mereka (perempuan) yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Memperoleh pendidikan atau dibebaskan untuk meraih kesempatan lainnya, bekerja atau menekuni hobi nya. Saya jadi teringat dengan obrolan saya dengan salah satu teman,  kebetulan teman saya itu terpaut usia lumayan jauh dengan saya. Mungkin 10 tahun? Saya tidak tahu pastinya. Teman saya ini pendidikannya bagus hingga jenjang S3, karir cukup mapan dan belum menikah. Dalam obrolan kami, ia sempat melontarkan pertanyaan pada saya “Apa saya berhenti berkarir saja ya? Beberapa orang bilang saya belum nikah karena laki-laki minder, dan tidak berani deketin saya”, begitulah kira-kira pertanyaan nya waktu itu. Keresahan teman saya ini tidak dialaminya sendirian. Sebagian perempuan yang memutuskan untuk sekolah dan berkarir seringkali mendapatkan stigma-stigma negatif dari masyarakat. Perempuan acap kali tidak boleh melebihi laki-laki karena bagaimana pun kodratnya perempuan dibawah suami. Itu lah alasan yang sering sekali saya dengar. Ah, entahlah perempuan selalu saja salah!