62 Juta Umat Muslim Masih Andalkan Usaha Mikro
Informasi"Indonesia harus mulai membuka mata untuk memanfaatkan potensi yang ada secara maksimal. Indonesia mempunyai big market yang besar. Indonesia dapat bersaing di sektor perikanan, perkebunan, dan pertanian".
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Guntur Subagja Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia Bidang Ekonomi dan Keuangan mengatakan, Indonesia sudah semestinya menjadi produsen pertama yang memproduksi produk halal untuk memenuhi kebutuhan umat muslim khususnya Indonesia. Sebab, menurutnya, Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak umat muslim di dunia. Pasalnya, Indonesia masih menjadi negara kedua importer produk halal di dunia.
"Lima top negara yang menjadi produsen produk halal untuk ekspor, yaitu Brazil , USA, India, Rusia, dan Argentina dengan total representasi market yaitu 33%. Sementara, lima top negara yang menjadi importer produk halal, yaitu Saudi Arabia, Indonesia, UAE, Malaysia, dan Egypt dengan total representasi market yaitu 41% dikutip dari ITC Trade Map Statistics, Top Halal food Exporters and Imoprters ($ billions 2017)," jelasnya dalam acara Ngaji Online Kajian Islam dan Psikologi Universitas Indonesia dengan tema Membangun Ekonomi Umat.
Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) ini juga mengatakan bahwa ekonomi nasional dapat terselamatkan dengan cara, yaitu salah satunya memproduksi pangan yang dapat dikonsumsi secara nasional. Sementara, menurut Guntur, saat ini merupakan momentum Indonesia untuk membangun ekonomi nasional.
"Kenapa kita harus membangun ekonomi Indonesia? agar 62 juta adalah muslim yang memiliki usaha kecil menjadi usaha menengah dan usaha yang menengah menjadi usaha yang besar. 62 juta itu, iya seperti yang jual gorengan pisang. Dimana dalam satu bulannya perputaran uang sekitar 1 juta, tapi juga ada yang tidak sampai 1 juta," ucapnya.
Berdasarkan tayangan dalam slide presentasi Guntur yang diselenggarakan via Zoom, usaha mikro di Indonesia berjumlah 62,1 juta usaha dengan 107,2 juta tenaga kerja, usaha kecil 757.090 usaha dengan 5,7 juta tenaga kerja, usaha menengah 58.627 dengan 3,7 juta tenaga, dan usaha besar 5.460 usaha dengan 3,5 juta tenaga.
Inovasi, Kolaborasi, dan Go Digital
Dengan begitu, guna mendorong UMKM dan usaha besar yang tertekan terlebih saat pandemi Covid-19, yang ditemui gulung tikar dan mem-PHK banyak karyawan dapat dilakukan beberapa cara. Hal ini sebagaimana disampaikan Guntur, ia mengatakan bahwa terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan, seperti inovasi produk, kolaborasi pasar, pembiayaan yang mudah, UMKM Center, dan Go Digital.
"Seperti adanya pelatihan produk dan pemasaran, sinergi dengan usaha pemasaran atau pasar. Dengan pembiayaan melalui KUR, LPDB, BLU, serta didukung dengan pusat pemasaran dan galeri UMKM terintegritas dan menjangkau pasar lebih luas dan akses yang mudah," ujar Guntur, yang juga bagian dari Tim Ekonomi Kerakyatan Arus Baru (ARBI).
Namun, juga terdapat sejumlah tantangan yang perlu diketahui guna membangun ekonomi nasional. Demikian disampaikan Guntur, ia menyampaikan bahwa terdapat beberapa tantangan dalam membangun perekonomian nasional, seperti sumber daya manusia, permodalan, pasar, dan keberpihakan.
"Hal ini terkait regulasi kesempatan berusaha UMKM, skill dan kualitas SDM rendah, tidak memiliki akses permodalan, dan tidak memiliki akses pasar," pungkasnya. (Nin)

