Kiai Kampung Dalam Konstruksi Sosial Islam Lokal
Riset BudayaTulisan berjudul “The Exerted Authority of Kiai Kampung In The Social Construction of Local Islam” merupakan karya Wiwik Setiyani. Artikel ini terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2020. Penelitian ini mencoba menjelaskan otoritas dan peran kiai kampung dalam mengembangkan dan membangun Islam lokal di Ngawi Jawa Timur. Penelitian tersebut merupakan studi sosio-historis dengan pendekatan fenomenologis. Di dalam resume ini akan dituliskan kembali dalam beberapa lima sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, perspektif sosio-religi muslim lokal di Ngawi. Ketiga, kiai kampung dan perkembangan islam lokal sehari-hari. Keempat, konstruksi otoritas-sosial keagamaan kiai kampung. Kelima, teoritisasi otoritas kiai kampung.
Pendahuluan
Perkembangan Islam dalam konteks lokal Indonesia tidak lepas dari peran kiai yang mengembangkan dakwah mereka dengan berbagai cara. Seseorang yang dikategorikan sebagai kiai merupakan sosok yang memiliki otoritas. Terkadang, kiai kampung juga bertransformasi menjadi pemimpin ritual adat sekaligus orang yang menjadi rujukan utama ketika terjadi permasalahan di masyarakat. Artinya, hubungan antara kiai dengan masyarakat tidak hanya perihal agama, tetapi juga pemimpin dalam komunitas.
Di dalam praktik Islam tradisional, kiai kampung disorot dalam hal tingkah laku. Kehidupan kiai di desa maupun kampung menjadi daya tarik guna menemukan keunikan dalam merekonstruksi Islam yang sebenarnya cepat dipahami dan diterima oleh masyarakat. Artinya, bagaimana kiai kampung melakukan pendekatan atau interaksi kepada masyarakat merupakan pilihan yang tepat guna menjelaskan bagaimana Islam lokal hadir.
Perspektif Sosio-Religi Muslim Lokal di Ngawi
Kondisi masyarakat di Ngawi identik dengan komunitas mataraman yang sebagian besar adalah eks Partai Komunis Indonesia (PKI). Di dalam aspek budaya masyarakat, mereka mempertahankan tradisi nenek moyang, seperti “bersih desa” dengan diikuti tarian dan minuman beralkohol, persalinan yang “diwarnai” dengan permainan kartu yang mengarah pada perjudian. Hal semacam itu mengidentifikasikan sebagai “komunitas” yang marjinal atau tradisional, sehingga membutuhkan komunikasi yang intens dengan pendekatan persuasive antara pemuka agama dan masyarakat. Peran tokoh agama dapat menghilangkan stigmatisasi kelompok marjinal dengan pendekatan keharmonisan masyarakat merupakan upaya membangun akhlak dengan landasan spiritual.
Perilaku seperti perjudian, perzinahan, mencuri, meminum alcohol masih “mewarnai” kehidupan masyarakat. Pengetahuan Islam masih sebatas membaca Al-Qur’an, dan itu pun jauh dari “sempurna”. Masjid sebagai tempat ibadah hanya didominasi oleh para lansia, sedangkan para remaja dan anak-anak masih belum menjalankan kewajiban agamanya dengan sebagaimana mestinya. Karang Taruna atau generasi muda sebagai agen perubahan hanya terbatas pada kegiatan sosial, misalnya acara pernikahan. Sosio-relogius masyarakat desa menjelaskan bahwa ajaran agama adalah formalitas dan tradisi lokal Islam yang mencoba mencapai keseimbangan antara agama dan budaya.
Kiai Kampung dan Perkembangan Islam Lokal Sehari-hari
Baca Juga : Hansen : Cumlaude Dengan Analisis Kuantitatif Tentang Bank Syariah
Di dalam penelitian yang dilakukan dengan survei dan teknik random sampling dari tiga desa yakni Gemarang, Gelung dan Ngrambe menunjukkan bahwa secara umum kiai kampung memiliki latar belakang yang hampir sama baik dalam aspek pendidikan, ekonomi, politik, maupun sosial budaya. Selain itu, kiai kampung tidak memiliki garis keturunan dari kelompok ulama besar. Namun, kiai desa berpotensi untuk berinovasi mandiri dengan kerja keras guna mengupayakan pembangunan dalam masyrakat.
Di dalam aspek politik, kiai kampung mengajarkan mengenai siapa yang layak dan dapat dipercaya untuk memimpin masyarakat. Namun, kiai tidak mengintervensi ranah politik, hanya memberikan dukungan dengan bentuk doa bagi siapapun yang mengunjunginya. Di dalam aspek budaya, kiai menyediakan ruang yang luas bagi masyarkat untuk berkreasi dengan tradisi yang ada.
Konstruksi Otoritas Sosial-Keagamaan Kiai Kampung
Kiai kampung memiliki peran yang berbeda dengan kiai pesantren. Kiai kampung menghadapi masyarakat dengan tipologi Islam sinkretis yang berhubungan dengan budaya lokal. Kiai kampung memiliki otoritas dalam menentukan ta’mir masjid, pengurus masjid, dan guru Al-Qur’an secara aklamasi karena tidak ingin ada perdebatan. Selain itu, karakter masyarakat dipengaruhi oleh kiai kampung melalui kewenangan untuk mengubah tradisi desa. Konsep otoritas kiai kampung telah memberikan kontribusi pada perkembangan Islam lokal di Indonesia dengan menerima beragam karakter orang. Kiai kampung bertransdormasi dari kepemimpinan pada aspek agama menjadi pencari solusi bagi permasalahan di desa.
Teoritisasi Otoritas Kiai Kampung
Secara formal maupun informal, kiai telah menjadi simbol dan identitas agama yang membangun Islam lokal. Otoritas kiai dalam konstruksi Islam lokal kelompok masyarakat “menemukan” interpretasi konstruksi sosial. Konstruksi Islam lokal berupa internalisasi nilai-nilai lokalitas multikultural dengan mengajarkan arti kebanggaan. Makna yang disampaikan oleh kiai adalah transformasi nilai sebagai wacana pengetahuan, nilai transaksi atau fase melakukan, dan nilai interaksi yang disertai dengan implementasi.
Eksternalisasi konstruksi Islam lokal membentuk keberagaman dan pembentukan identitas desa. Identitas memperkuat keberadaan masyarakat desa yang “dibentuk” kiai dan selanjutnya diperkuat dengan kebijaksanaannya. Kiai menciptakan produk atau konsep Islam lokal secara terus menerus.
Nilai objektivitas Islam lokal memberi warna baru untuk saling mengerti dan menemukan bahwa kiai sangat bijak dalam membangun Islam lokal. Misalnya, tidak melakukan deskriminasi kepada siapapun termasuk memberikan kebebasan kepada kelompok yang dianggap “marginal”.
Kesimpulan
Islam lokal merupakan salah satu varian Islam yang dikembangkan oleh kiai kampung secara otoritatif. Peran dan otoritas kiai dapat menembus berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, dan sosial budaya. Islam lokal mengakomodasi keinginan masyarakat secara bidang ekonomi, politik dan sosial budaya. Selain itu, peran otoritatif kiai dalam membangun Islam lokal mengajarkan masyarakat mengenai ketaatan kepada pemimpin yang menguasai ilmu agama. Kiai memiliki keunggulan moral dan keteladanan bagi masyarakat sebagai pemimpin yang karismatik. Otoritas kiai kampung merupakan bagian dari gerakan dalam kegiatan keagamaan, membangun spiritualitas dan perkembangan sosial.

