Abu Fida : Trik Penyebaran Paham Kelompok Ekstremisme
InformasiPenyebarluasan paham ektremisme dan radikalisme secara kasat mata terus menyasar bumi pertiwi. Penyebarluasan tersebut tak pernah luput dari target dan sasaran. Kaum faham ekstremisme dan radikalisme berhasil menyeret target dan sasaran masuk ke dalam sangkarnya dan sulit keluar untuk menjadi kelompok yang memporak-porandakan umat Islam dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Hal tersebut salah satunya yang telah menimpa salah seorang yang berasal dari Surabaya, ia bernama Saifuddin Umar alias Abu Fida. Abu Fida merupakan salah seorang wiraswasta yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan program Doktor S3 jurusan Studi Islam di UINSA Surabaya.
Sebelumnya Abu Fida telah mengenyam pendidikan di berbagai tempat dan negara hingga akhirnya terperangkap dalam lingkaran pendidikan ekstremisme dan radikalisme. Pada tahun 1978 dirinya menempuh pendidikan di SD Sidotopo Wetan Surabaya. Kemudian Abu Fida melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP dan SMA di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur dan lulus di tahun 1984.
Setelah lulus dari Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo pada tahun 1984, Abu Fida ditugaskan oleh pondok Gontor untuk mengabdi di salah satu pondok, yaitu Pondok Pesantren Islam Ngruki Jawa Tengah selama satu tahun. Saat pengabdian ini, dirinya mulai menerjunkan diri dan aktif mengikuti gerakan Islam, yaitu DI dan NII.
Pada tahun 1985, dirinya melanjutkan pendidikan S1 di kampus IAIN Surabaya yang saat ini menjadi UINSA Surabaya Fakultas Adab dan Humaniora selama 2 semester. Setelah berhenti dari IAIN Surabaya, terbang ke luar negeri untuk menuntut ilmu ke Negara Sosialis-Komunis, yaitu Ma'had Luhgoh Muhajirin Damaskus Syiria dan selesai di tahun 1986. Berlanjut Abu Fida menyebrang ke negara sebelah untuk melanjutkan studinya mulai dari tahun 1986 sampai 1988 menimba ilmu di Negara Kapitalis, yaitu Kulliyatul Mujtama Islami Fakultas Tarbiyah Islamiyah Zarqa Jordania.
Tak sampai disitu, ketertarikan Abu Fida untuk menuntut ilmu terus berkelanjutan hingga pada akhirnya sampailah di sebuah negara Pakistan dan Afghanistan. Mulai dari tahun 1988 sampai 1990, dirinya belajar secara langsung dari guru yang dikaguminya, yakni Syekh Abdullah Azzam di Peshawar Pakistan dan Syekh Usamah bin Ladin Front Afghanistan. Kala itu situasi dan kondisi negara tersebut sedang terjadi invasi dengan Rusia.
Sementara pada tahun 1990 sampai 1996, Abu Fida mengenyam pendidikan di Universitas Umm AL-quroo Fakultas Dakwah dan Ushuluddin jurusan Aqidah Islamiyah Mekkah Saudi Arabia. Salah satu dosennya yaitu Syekh Muhammad Qutub dan Syekh Safar Hawali. Terakhir ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Muhammadiyah Surabaya jurusan Pendidikan Agama Islam.
Abu Fida juga aktif di beberapa gerakan Islam. Awal mula dari tempat pengabdiannya, Pondok Pesantren Islam Ngruki Jawa Tengah, dirinya bergabung dalam DI dan NII di tahun 1985. Pada tahun 1993 aktif di Jamaah Islamiyah. Sedang pada tahun 2004 ditangkap densus 88 atas dugaan teroris dengan menyembunyikan informasi pelaku teroris Noordin dan Dr Azhari dan tahun 2008 aktif di Jamaah Anshoruttauhid. Pada tahun 2014 kembali ditangkap densus 88 karena ikut mendeklarasikan ISIS di Solo Jawa Tengah. Dirinya mendapat tuntutan dari jaksa selam 4 tahun dan divonis oleh hakim 3 tahun. Tahun 2017 Abu Fida bebas dari LP Kelas II A Magelang Jawa Tengah.
Baca Juga : Boikot, Kolonialisme dan Sikap Perlawanan
Buku, Teman, dan Lingkungan
Terpaparnya Abu Fida dengan paham ekstremisme berawal dari membaca buku dan dilengkapi dengan lingkungan pertemanan yang terjalin. Dirinya senang membaca buku sejak mengabdi di Pondok Pesantren Islam Ngruki Jawa Tengah. Adapun buku-buku yang banyak dibaca olehnya saat mengabdi di Pondok Pesantren Islam Ngruki adalah buku tentang Al Maududi, Hasan Al-Banna, Muhammad Bin Wahab, Al-Ma'alim Fii Thoriq karya Sayyid Qutub. Hal ini sebagaimana disampaikan Abu Fida bahwa semua buku tersebut yang dibacanya telah membuatnya terpapar paham esktremisme dan radikalisme.
"Akhirnya dari bacaan buku itu, saya ingin mengimplementasikan yang ideal. Yang ideal ini dimana, saya cari. Akhirnya di tahun 1988 saya ke Peshawar Pakistan, lalu saya diterima oleh Syekh Abdullah Azzam waktu itu beliau Doktor Ushul Fiqh Lulusan Universitas Al-Azhar. Ketika itu ada invasi Rusia. Kemudian ada fatwa Syekh Abdullah Azzam, Ibnu Taimiyah, dan itu semua mewajibkan jihad. Akhirnya saya ke Front Afghanistan," ungkapnya.
Di saat invasi Rusia, saya satu Front dengan Usamah bin Ladin di Afghanistan. Usamah bin Ladin sebagai komandan saya kala itu. Syekh Usamah bin Ladin orangnya Loman. Karena Loman banyak disenangi orang. Saya ke Afghanistan, saya lihat banyak pertempuran, yaitu pertempuran melawan Rusia, saya membawa senjata 47 tiap hari," tambahnya.
Namun apalah daya takdir berkata lain, suatu ketika Abu Fida mendapat surat yang berasal dari Indonesia melalui warga Palestina. Ternyata surat tersebut yang ditulis oleh ibunya yang telah mencarinya selama 2 tahun dan tidak pernah ketemu. Di samping itu, dirinya juga mendapat panggilan berkali-kali dari Universitas Umm Al-quroo untuk keputusan keberlanjutan belajarnya. Hal ini seperti yang disampaikan Abu Fida bahwa dirinya dilanda dilema antara memilih ikut berperang melawan Rusia atau kembali belajar di Madinah Universitas Umm Al-quroo.
"Akhirnya saya istikharah dan memutuskan untuk memilih belajar di Madinah, yaitu Universitas Umm Al-quroo," tuturnya.
Setelah sekian lama, perjalanan Abu Fida pun berakhir di tembok sel. Abu Fida ditangkap oleh densus 88. Berawal dari sana, Abu Fida menyadari bahwa paham yang dianutnya adalah salah. Kemudian dirinya kembali ke pangkuan ibu bumi pertiwi. Seperti yang disampaikan Abu Fida sadar sejak dirinya mendapat perlakuan dari salah seorang teman yang juga teroris saat di penjara. Tak hanya itu, disempurnakan dengan banyak membaca buku selama di penjara.
Baca Juga : Kompolan Pengajian dalam Masyarakat Bangkalan: Antara Tradisi, Sakralitas, dan Perekat Sosial
"Saya mendapat buku dari orang yang membesuk saya. Saya kemudian melihat dan merenungkan. Kemudian saya sadar bahwa selama ini yang saya pahami adalah lamunan. Masa saya dikatakan kafir hanya karena saya orang Jawa oleh teman saya yang juga teroris dan dia (teman) dari Sulawesi. Ada juga yang mengkafirkan dirinya sendiri dengan konsekuensi menceraikan isterinya," jelasnya.
"Karena orang teroris dan radikalisme memang kurang agamanya. Jadi karena kurang agamanya mengandalkan emosi. Kalo sudah emosi yang berbicara maka kekerasan yang terjadi," tambahnya.
Tak hanya dari membaca, terpaparnya Abu Fida dilengkapi dengan lingkungan pertemanan yang terjalin. Demikian disampaikan Abu Fida bahwa saat seseorang telah masuk dalam lingkaran pertemanan kelompok ekstremis maka akan sulit keluar dari lingkaran tersebut.
"Maka kenapa ada istilah manusia itu anaknya lingkungan. Seperti katak dalam tempurung. Seakan-akan semua benar dan yang lain salah. Saya rasakan itu. Walaupun di pondok saya itu diajarkan untuk moderasi," paparnya.
Tafsiran Ayat yang Salah
Lebih daripada itu, saat Abu Fida telah terperangkap dalam lingkaran esktremis, maka bukan tak mustahil untuk keliru dalam menafsirkan sebuah ayat. Kata Abu Fida salah satu ayat yang dipegang teguh olehnya, yaitu Surat Al-Maidah ayat 43 yang berbunyi wa man lam yahkum bima anzala Allah faulaika hum al-kafirun.
"Masa karena itu (Surat Al-Maidah 43) pemerintah Indonesia jadi kafir. Kemudian saya diskusikan. Kemudian Alhamdulillah ada jalan keluarnya," ucapnya.
Demikian dengan ayat yang menjelaskan tentang jihad, Abu Fida memiliki pemikiran bahwa jihad wajib dilakukan. Sementara jihad disini dimaknai dengan berperang. Abu Fida pun mengatkan bahwa jika tidak berperang maka akan masuk neraka.
"Karena lingkungan itu, saya akhrinya ikut perang. Gak ada pembanding. Gak ada diskusi. Jadi pada saat itu saya masih berusia 20 tahun. Dan saya yaudah tawakkal aja. Jadi karena pertemanan itu semuanya tentang jihad itu bermakna perang bahkan tidak ada maknanya bahwa jihad itu bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Namun setelah saya sadar harus ada pertengahan, harus ada keseimbangan antara tekstual dan kontekstual. Kalo tekstual memang jihad bermakna perang, namun secara kontekstual adalah bersungguh-sungguh," pungkasnya.
Semua data dan keterangan di atas dihimpun dari acara Seminar Nasional bertajuk Moderasi Beragama di Tengah Geliat Islam Radikal via aplikasi meeting online Zoom, (1806). Acara tersebut diselenggarakan oleh Nur Syam Centre yang bertujuan untuk membuka wawasan mahasiswa akan geliat Islam Radikal yang terjadi di Indonesia beserta solusi menghadapinya. Dimana dalam acara tersebut turut mengundang dua narasumber yang berkompeten dalam isu tersebut, yaitu Prof Dr H Nur Syam dan Saifuddin Umar alias Abu Fida yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan program Doktor S3 jurusan Studi Islam di UINSA Surabaya.

