Comfort Zone Ancam Psikis Hingga Karir Seseorang
InformasiMerasa berada di Comfort Zone?. Tentu setiap orang pernah mengalami situasi dan kondisi tersebut, yaitu zona nyaman atau yang familiar di telinga adalah Comfort Zone. Situasi dan kondisi ini bukan justru aman dan baik untuk perkembangan individu seseorang. Melainkan, Comfort Zone sangat berpengaruh negatif pada perkembangan individu seseorang dalam berbagai aspek, yaitu aspek psikologis, kognitif, dan karir.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ai Nurhasanah Mahasiswi Program Magister Kajian Islam dan Psikologi Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa situasi dan kondisi Comfort Zone mempunyai pengaruh dalam aspek psikologis, kognitif, dan karir seseorang. Dalam aspek psikologis dapat dilihat ciri-cirinya, yaitu takut, tidak siap, ragu, dan pesimis.
"Bisa dari aspek psikologis, ia akan merasa enggan bahkan takut dan tidak siap jika dihadapkan dengan situasi baru, serta masih ragu untuk mengambil setiap kesempatan yang ada. Biasanya memang orang tersebut kurang percaya diri, takut gagal, dan pesimis," ucapnya dalam forum Ngaji Online Kajian Islam dan Psikologi Universitas Indonesia yang bertema Konseling Karir Dalam Perspektif Super's Theory, Donald E. Super, Jum'at (12/03/2021).
Lebih lanjut, Ai juga menyampaikan bahwa Comfort Zone juga berpengaruh pada aspek perkembangan kognitif seseorang. Hal itu dapat dilihat tanda-tanda yang muncul pada sikap dan perilaku seseorang tersebut, yaitu cenderung menolak informasi baru. Sebab, seseorang tersebut lebih mempertahankan apa yang diketahui sebelumnya.
"Dia nggak mau cari tau sesuatu yang baru," ujarnya.
Selain itu, Comfort Zone juga berpengaruh pada aspek perkembangan karir seseorang. Kata Ai, Comfort Zone demikian berpengaruh pada perkembangan karir seseorang. Misalnya, seseorang tersebut cenderung stagnan. Sebab, menurut Ai, seseorang yang berada di situasi dan kondisi Comfort Zone enggan untuk mau mencoba hal-hal baru yang bisa memberi dampak lebih baik untuk dirinya sendiri.
"Ya ciri-cirinya orang berada di Comfort Zone, yaitu lebih memelihara diri dengan situasi saat ini, tidak mau bergerak, berinovasi atau melakukan hal-hal lain yang bisa lebih bermanfaat," tegasnya.
Adapun situasi dan kondisi yang seperti ini, yaitu terjerat dalam Comfort Zone kerap terjadi pada usia produktif. Demikian yang disampaikan oleh Ai, ia menuturkan bahwa situasi dan kondisi Comfort Zone secara umum kerap terjadi pada saat usia produktif. Kategori usia produktif yaitu dari usia 15-64 tahun. "Sebelum masuk masa pensiun," kata Ai.
Baca Juga : Metode Dakwah Era Modern
Mengantisipasi terperangkapnya diri dalam situasi dan kondisi yang bernama Comfort Zone, seseorang dapat melakukan hal-hal positif yang dapat mendorong dan memacu semangat untuk terus bergerak dan berkarya. Seperti halnya disampaikan Ai, seseorang harus memiliki suatu hal, baik dari dalam diri maupun luar diri yang bisa membantu dirinya berubah dan terus bergerak.
"Misalnya, ikut seminar motivasi, nonton acara-acara inspiratif, dan baca-baca hal yang positif," tuturnya.
Penanaman Nilai Kreatif dan Semangat
Tak hanya itu, Ai mengatakan bahwa suatu hal yang tak kalah penting dalam pengembangan diri seseorang, yaitu penanaman nilai-nilai kreatif dan semangat yang dilakukan oleh orang tua dan guru. Khususnya pada awal pertumbuhan konsep diri, yaitu di usia anak mulai dari 4-14 tahun. Agar anak tak mudah terperangkap dalam Comfort Zone.
"Itu bisa jadi motivasi diri untuk mendorong si orang tersebut supaya bisa terus berkontribusi, terus berkarya, dan menebar kebermanfaatan," jelasnya.
Mengakhiri penyampainnya, Ai mengatakan, untuk dapat mendorong semangat terus berkarya dan bergerak memang sejatinya tak cukup hanya dilakukan dari individu seseorang tersebut. Melainkan, juga perlu dorongan yang berasal dari luar diri seseorang.
"Seseorang juga tetap membutuhkan dorongan dari luar dirinya yang dapat menyadarkan seseorang tersebut. Biar Awareness (kesadaran) muncul lebih dulu. Kalau udah sadar, dia nanti bisa mengembangkan diri. Jadi tetap harus ada stimulusnya gitu," pungkasnya.
Dikutip dari slide presentasi yang ditampilkan oleh Ai menurut Super's Career Theory dijelaskan, perkembangan karir seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu meliputi pengembangan diri secara terus-menerus, perilaku menuju karir yang ingin dicapai, buku yang dibaca tercermin pada pandangan dan apa yang dilakukan, dan menonjolnya konsep diri seseorang tersebut. (Nin)

