Crab Mentality: Ketika Keberhasilan Orang Lain Terasa Mengancam
InformasiEva Putriya Hasanah
Pernah mendengar cerita tentang kumpulan kepiting dalam ember? Kalau satu kepiting coba manjat keluar, yang lain akan menariknya turun. Bukan karena dia jahat, tapi karena dia nggak pengin yang lain lebih dulu bebas. Fenomena ini dikenal sebagai mentalitas kepiting.
Sayangnya, cerita itu bukan hanya tentang kepiting. Tapi kita tentang manusia.
Istilah mentalitas kepiting pertama kali populer dari pengamatan sederhana: jika ada seekor kepiting dalam ember, dia bisa mengumpulkan keluar. Tapi jika ada banyak kepiting di dalam ember yang sama, mereka akan saling menarik satu sama lain ke bawah—hingga tak satu pun bisa keluar. Fenomena ini kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku manusia yang suka menjatuhkan orang lain demi merasa “aman” bersama-sama di level yang sama.
Mungkin terdengar ekstrem, tapi coba deh ingat-ingat…
Pernah nggak sih, kamu pernah mengalami atau menyaksikan seseorang yang baru saja mendapat kesempatan, tapi langsung ragu? Misalnya:
“Ah dia mah naik jabatan karena deket sama atasan.”
“Paling juga tidak bertahan, hanya gaya-gayaan doang.”
Baca Juga : Kepergian Sang Guru: Dr. KH. Abdul Mujib Adnan, M.Ag
“Udahlah, ngapain sekolah tinggi-tinggi, ntar juga balik ngurus dapur.”
Ini bukan cuma masalah dengki. Ini tentang pola pikir yang sudah sangat umum di sekitar kita, bahkan sering tanpa sadar kita praktikkan sendiri: meremehkan keberhasilan orang lain agar kita tidak merasa tertinggal terlalu jauh.
Mentalitas ini berbahaya karena tidak hanya menghalangi orang untuk tumbuh, tapi juga bisa menular dan membuat satu lingkungan penuh dengan rasa tidak aman. Di kantor, di kampus, bahkan di komunitas keagamaan sekalipun, mentalitas kepiting bisa muncul dalam berbagai bentuk. Termasuk dalam hubungan yang tidak seimbang seperti antara dosen dan murid, atasan dan bawahan, bahkan antara pengasuh dan santri.
Yang paling disukai, sering kali komentar yang mendarat bukan dari orang asing, tapi dari orang yang dekat. Entah itu teman sekolah, kolega satu tim, bahkan saudara sendiri. Dan yang jadi korban sering kali merasa bersalah karena terlalu “menonjol.” Akhirnya memilih untuk diam, merendah, bahkan mundur dari kesempatan yang sebenarnya sudah di depan mata.
Mentalitas kepiting bukan sekadar soal iri. Ia hidup dari budaya yang melihat keberhasilan sebagai sesuatu yang terbatas—bahwa kalau orang lain naik, berarti jatah kita berkurang. Padahal tidak begitu cara kerja hidup. Sukses itu bukan kue ulang tahun yang kalau satu orang dapat potongan besar, sisanya bukan bagian.
Yang bahayanya lagi, mentalitas kepiting bukan hanya datang dari orang lain—tapi juga bisa berasal dari dalam diri sendiri. Pernah nggak, kamu menahan diri buat daftar beasiswa karena takut dicap “ambisius”? Atau sengaja gak posting pencapaianmu karena takut dikira pamer? Kita belajar untuk mengecilkan diri sendiri agar orang lain tetap nyaman. Kita ikut diam di dasar ember, padahal tahu bisa naik kalau mau.
Sayangnya, lingkungan yang penuh dengan pola pikir seperti ini bisa menciptakan lingkaran setan. Yang satu merasa tidak aman, lalu menarik yang lain agar setara. Yang lain merasa ikut terancam, lalu mulai diremehkan lagi. Begitu terus, sampai semua orang merasa gagal bersama-sama, dan tidak ada yang benar-benar tumbuh.
Tapi ini bukan cerita tanpa harapan. Kita bisa keluar dari siklus ini dengan satu langkah sederhana: mulai sadar. Sadar kalau keberhasilan orang lain bukan ancaman, tapi bukti bahwa keberhasilan itu mungkin. Sadar bahwa komentar menyakitkan lebih sering mencerminkan kekurangan pemberinya daripada kekuranganmu. Dan sadar bahwa kamu berhak tumbuh, bersinar, dan mengambil ruang—meski ada yang tidak suka melihatmu naik.
Jangan biarkan suara sumbang membuat ragu pada dirimu sendiri. Kamu boleh bermimpi besar. Kamu boleh ambisius. Dan kamu tidak harus mengecilkan dirimu agar orang lain tetap nyaman.
Karena hidup ini bukan tentang siapa yang berhasil duluan. Tapi siapa yang mau saling dorong, bukan saling tarik. Dan percaya deh, dunia akan menjadi tempat yang lebih mendukung kalau kita semua berhenti bersikap seperti kepiting di ember.

