Mencermati Teori Pengembangan Masyarakat Islam (Bagian Ketiga)
OpiniSesuai dengan pelacakan Meta AI, maka tidak ada teori dan penemu tunggal atas teori Community Development (comdev). Saya setuju ini. Memang Meta AI itu hebat. Dari ratusan juta data dalam Big Data, dalam waktu beberapa detik dapat dikabulkan permintaan siapapun. Era ini merupakan era yang sangat memanjakan bagi orang yang searching apa saja. Bahkan permintaan yang rasanya tidak masuk akal dapat dijawab, dan jika tidak didapatkan data yang komplit Meta AI menyatakan ada “kekurangan” informasi tentang hal tersebut.
Sebagai ranting ilmu pengetahuan di dalam Islamic Studies, dari cabang ilmu dakwah, sesungguhnya teori PMI merupakan teori yang dihadirkan dari kajian melalui pendekatan integrative. Kita semua tentu sudah memahami tentang integrasi ilmu dalam berbagai mazhabnya. Ada mazhab Jakarta, Yogyakarta, Malang dan Surabaya. Nama boleh berbeda tetapi substansinya sama. Ada mazhab integrasi ilmu UIN Syahid Jakarta, Mazhab Jaring laba-laba UIN Suka Yogyakarta, ada mazhab pohon ilmu UIN Maliki Malang dan Twin Towers UINSA Surabaya.
Berdasarkan realitas empiris, maka ada perbedaan sedikit tentang jenis pendekatannya, yaitu pendekatan interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner yang diikuti oleh UIN Jakarta, UIN Yogyakarta dan UIN Malang, sedangkan UIN Surabaya menggunakan empat pendekatan, yaitu interdisipliner, crossdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Hanya beda-beda sedikit saja. (Nur Syam, Integrasi Ilmu Madzhab Indonesia, Interdisipliner, Crossdisipliner, Multidisipliner dan Transdisipliner, 2024).
Sebagai ilmu yang integrative, sasaran kajian PMI dapat didekati dengan berbagai macam teori yang ada di dalam rumpun ilmu. Sampai hari ini kita menyepakati bahwa rumpun ilmu di Indonesia sesuai dengan UU No 12 Tahun 2012, maka terdapat rumpun ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu social, Ilmu sains dan teknologi, ilmu terapan dan ilmu formal. Dengan demikian, ada sejumlah teori yang dapat dijadikan sebagai perspektif atau pendekatan di dalam pengembangan teori PMI. Misalnya teori ilmu agama, teori sosiologi, teori antropologi, teori manajemen, teori psikologi, teori komunikasi, teori ekonomi dan bahkan teori sains dan teknologi. Bisa jadi ada satu teori yang berbasis pada antar bidang atau lintas bidang dan bisa juga ada dua atau lebih teori yang dijadikan pendekatan tetapi berbeda rumpun dan ada banyak teori yang menghasilkan teori baru yang komprehensif.
Dari teori sosiologi misalnya dapat digunakan teori solidaritas social Durkhiem, atau teori kepemimpinan legal formal Weber atau teori fenomenologi Marley Ponti, atau teori struktural fungsional Parsons, teori konflik otoritas Dahrendorf atau teori kritis dari berbagai madzhab. Dari teori-teori antropologi dapat digunakan teori perubahan budaya Taylor, atau teori fungsional Malinowsky, teori kognitif Franz Boas, atau teori interpretif Geertz. Dari teori Pengembangan SDM, misalnya dapat digunakan teori Albert Bandura tentang pembelajaran sosial, atau teori pengembangan organisasi Kurt Lewin, atau teori Need for Achievement (N. Ach) David Mc-Cleland, atau teori pengembangan karir oleh Donald Super. Dari perspektif teori Psikologi, maka dapat digunakan teori Henri Tajfel tentang teori identitas sosial, atau teori pembelajaran sosial oleh Albert Bandura. Lalu dari perspektif manajemen pelayanan publik oleh Osborne, teori pelayanan berbasis nilai oleh Gronroose, dan teori lainnya. Kemudian teori dari perspektif ilmu komunikasi misalnya teori Konstruksi social komunikasi oleh James Carry, teori adopsi inovasi oleh Karl Rogers, teori studi budaya oleh Stuart Hall, dan sebagainya.
Teori-teori ini dapat dijadikan sebagai pisau analisis atas fenomena pengembangan Masyarakat Islam. Misalnya tentang pemberdayaan ekonomi kreatif pada masyarakat pesisir, maka dapat digunakan teori pengembangan SDM sebagaimana dikemukakan oleh David Mc-Cleland. Di antara yang digunakan adalah berbagai Pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan kapasitas SDM dalam pengembangan ekonomi kreatif pada komunitas pesisir. Lalu, fenomena-fenomena social pengembangan Masyarakat Islam dalam fokus pelayanan pengembangan kapasitas komunitas untuk para generasi muda, maka dapat digunakan teori Albert Bandura tentang teori belajar sosial.
Berdasarkan atas pemikiran atas kajian-kajian interdisipliner, maka sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), level 8 dan 9, akan dapat dilakukan melalui program pascasarjana strata dua atau program magister dan strata tiga atau program doktor. Kajian yang dilakukan oleh strata satu atau program sarjana saya kira sudah tepat, sebab yang dilakukan adalah melakukan pendampingan atas program kebersamaan dalam pengembangan masyarakat.
Sesungguhnya banyak karya tulis akhir mahasiswa program strata satu yang terkait dengan kerja pemberdayaan dalam berbagai variasinya. Sungguh diperlukan adalah bagaimana menjadikan laporan kerja pendampingan tersebut dapat diangkat ke permukaan dengan memanfaatkan jejaring pengembangan masyarakat, baik pada level pemerintah maupun organisasi non pemerintah.
Sebagai contoh, misalnya bagaimana memanfaatkan limbah kopi untuk pupuk, atau memanfaatkan bunga telang untuk minuman sehat, atau memanfaatkan asset yang berupa lahan kosong untuk tanaman toga dan pemanfaatan limbah botol plastic untuk kerajinan tangan. Sesungguhnya ada banyak karya mahasiswa yang bisa dijadikan sebagai kekayaan intelektual yang relative memadai.
Wallahu a’lam bi al shawab.

