Densus 88 Anti Teror Mengantisipasi Gerakan Radikalisme Di Madura
InformasiOleh: Muh. Yusrol Fahmi
Acara yang diselenggarakan oleh Densus 88 Anti Teror bekerja sama dengan Kasi Penais dan Bimbingan masyarakat pada Kankemenag Kabupaten Pamekasan. Acara dibuka oleh Plt. Kakankemenag Kabupaten Pamekasan, Hartono, dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, para ulama, pimpinan organisasi keagamaan dan takmir masjid. Acara diselenggarakan di aula Kantor Kemenag Kabupaten Pamekasan, 14/03/2023, pukul 09 sampai 12.00 WIB. Acara ini menghadirkan dua narasumber, yaitu AKBP Moh. Dhofir Kanit I Densus 88, dan Prof. Dr. Nur Syam, MSi, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Prof. Nur Syam dikenal sebagai aktivis moderasi beragama dan pendiri nursyamcentre.com, yang bervisi “menggelorakan moderasi beragama untuk Indonesia hebat”.
AKBP Dhofir di dalam ceramahnya memulai dengan memutar video anak kecil yang ingin menjadi syahid atau ingin mati syahid. Di dalam suaranya yang benar-benar anak kecil tersebut dinyatakan bahwa mati syahid itu perintah agama untuk memerangi orang kafir. Selain itu juga diungkapkan data-data yang akurat tentang semakin bervariasinya pengikut terorisme. Tidak hanya orang tua tetapi juga perempuan dan para remaja.
Dinyatakan lebih lanjut bahwa Madura ini menjadi sasaran Gerakan Islam garis keras. Di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan bahkan Sumenep ternyata sudah ada bibit yang cepat berkembang dalam Islam garis keras. Ada seorang kyai yang NU tulen, tetapi di ruang tamunya terdapat bendera HTI, dan FPI.
Sebagai pemateri kedua, Prof. Nur Syam di dalam paparannya menyatakan: “Pada masa lalu, jika orang Madura ditanya apa agamanya, maka jawabannya: “NU”. Jadi NU sebagai ekspresi keberagamaannya. NU adalah ekspresi keberagamaan, sehingga ketika menyebut Islam, maka yang menjadi lambangnya adalah NU. Jadi NU telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari orang Madura. Tetapi Perubahan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Baik dalam skala kecil maupun besar. Baik dalam level atas maupun bawah. Di antara perubahan social tersebut adalah mengenai paham keagamaan. Di beberapa wilayah di Madura, sudah dikenal sebagai tempat bagi berkembangnya Islam salafi. konsep Salafisme Nahdhiyin dilabelkan kepada orang-orang yang masih mengakui NU sebagai jam’iyah diniyah tetapi berpaham salafi, atau yang juga kemudian dikenal sebagai sayap konservatisme NU. Akhir-akhir ini, dunia media social juga menjadi viral terkait dengan dakwah yang dilakukan oleh Hanan Attaki di Pamekasan.
Baca Juga : Maqashid al-Suwar: Surah al-Nisa' (Bagian Kedua)
Ini merupakan contoh jika Madura sudah terpapar Islam yang beginian, sambung Prof. Nur Syam. Hanan Attaki diundang oleh para penggemarnya dan pengikutnya di Pamekasan, tepatnya di Masjid Al Muttaqien Desa Laden, Kecamatan Pamekasan. Pengajian ini memantik masalah bagi warga masyarakat di desa dimaksud. Pengajian yang dilakukan di masjid ini dianggap bisa memecah belah masyarakat yang selama ini kondusif dalam keharmonisan.
Hal ini dikarenakan, pada Kalangan Nahdhiyin, Hanan Attaki dikenal sebagai seorang dai yang memiliki pandangan berbeda dalam memahami teks di dalam Islam. Dia dikenal sebagai dai yang menganjurkan diterapkannya khilafah transnasional. Videonya masih bisa didengarkan tentang pandangannya tersebut.
Berdasarkan data, Prof. Nur Syam memaparkan: “Achmad Fauzi Kepala Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Manding Sumenep ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror dan diduga sebagai bagian dari jaringan teroris. Dia ditangkap oleh Densus 88 Anti terror pada 28 Oktober 2022. Ternyata indikasi keterlibatannya dapat dikenali sehingga Densus 88 Anti Teror menangkapnya. Selain itu ada beberapa orang yang diduga terlibat di dalam gerakan terorisme di Sumenep. Mereka ditengarai terlibat di dalam kegiatan-kegiatan pengajian yang dilakukan oleh kelompok atau jaringan terorisme yang mulai terdapat di Sumenep, di Madura diindikasikan ada ceramah-ceramah yang isinya berupa anti negara, anti dasar negara, anti bentuk negara dan gerakan lain yang seide dan semisi dengan gerakan tersebut semakin kuat cakupannya.
Prof. Nur Syam menekankan: “ yang sungguh mengkhawatirkan adalah di kala yang berjejaring dengan gerakan seperti ini adalah anak-anak muda potensial yang seharusnya menjadi penyangga NKRI dan Pancasila. sudah selayaknya bahwa masyarakat, organisasi keagamaan, dan organisasi lain harus terlibat dalam membantu kerja Densus 88 Anti terror atau BNPT dalam kerangka menjaga bangsa ini dari gerakan yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dinyatakan dengan tegas, bahwa Pemerintah dan masyarakat memang sedang melakukan upaya untuk mengeliminasi gerakan khilafah di negeri ini. Di antara upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan Gerakan Moderasi Beragama (GMB), sehingga jika terdapat dai yang mengusung tema khilafah atau sejenisnya tentu akan dilakukan pencegahan. Termasuk juga dai-dai yang sering mengumbar pernyataan yang menganggap pengamalan beragama kelompok lainnya sebagai amalan orang kafir, bidh’ah dan lainnya.
Oleh karena itu, Prof. Nur Syam menganjurkan bahwa dakwah harus mempertimbangkan, pertama, dakwah tentu harus mempertimbangkan akan tradisi di dalam pengamalan beragama. Kedua, dakwah selayaknya tidak dilakukan untuk melakukan perlawanan atas kepentingan negara. Dakwah yang mengusung tema-tema khilafah, jihad dan thaghut yang berlawanan dengan ideologi bangsa yang di dalamnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam seharusnya juga tidak dilakukan. Ketiga, dakwah seharusnya justru untuk membangun kebersamaan, harmoni atau kerukunan masyarakat. Jika dirasakan bahwa dakwah tersebut akan membuat keresahan masyarakat, maka dakwah tersebut seharusnya tidak dilakukan. Dakwah yang sebenarnya adalah membangun religiositas yang semakin baik dan bukan untuk membuat kekacauan.
Pesan beliau yang terakhir di dalam ceramah ini adalah: Mari disadari bahwa negeri ini sudah menetapkan bahwa bentuk negara Indonesia sudah jelas, yaitu NKRI dan tidak diperlukan bentuk negara baru. Konsekuensinya sangat besar yaitu perpecahan sesama warga bangsa dan bukan sekedar disharmoni .

