Terminal Bungurasih: Mengenang Naik Bus Antar Kota
OpiniSaya tidak naik kendaraan umum, termasuk bus antar kota, kira-kira sudah selama 20 tahun lebih. Semenjak tahun 2008 saya sudah tidak lagi menjejakkan kaki ke terminal manapun. Inilah penyakitnya pejabat. Kala sudah menjabat maka tidak lagi mau hidup seperti sedia kala. Padahal naik bus antar kota adalah bagian dari hidup. Bus antar kota itu pula yang sesungguhnya menjadi awal mula dari kesuksesan.
Saat saya mengambil program S2 dan S3 di Universitas Airlangga, Surabaya dan saya menjadi dosen di UIN Sunan Ampel, maka saya selalu naik bus dari Tuban ke Surabaya dan kemudian dari Terminal Tambak Oso Wilangun ke IAIN naik Bus Kota yang penuh sesak. Bahkan terkadang harus berdiri di Bus Kota itu. Bahkan tahun 1990-an bus antar kota adalah nafas kehidupan. Saya terbiasa perjalanan ke Jakarta, ke Yogyakarta dan lain-lain dengan bus antar kota.
Saya tentu teringat setiap jam 3.30 WIB saya sudah bergerak dari rumah ke kota Tuban dan kemudian jam 04.00 ke Surabaya untuk mengejar ikut kuliah jam 7.00 WIB di Program doctor Ilmu Sosial di Universitas Airlangga. Jadi bus antar kota, bus kota dan angkota bahkan angkodes itu adalah transportasi yang mengantarkan kesuksesan saya selama itu. Bahkan kala saya sudah menjabat sebagai Sekretaris Kopertais Wilayah IV yang menggawangi PTA se Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, saya masih sering naik bus kota dan bus antar kota. Memang ada mobil dinas untuk Sekretaris Kopertais, tetapi jarang-jarang saja saya pakai ke Tuban. Hanya untuk kepentingan khusus saja saya nyopir sendiri.
Kala saya menjadi Pembantu Rektor (sekarang Wakil Rektor) bidang Administrasi umum, maka saya mulai tidak lagi menggunakan bus antar kota untuk menjadi sarana transportasi untuk ke Tuban. Sudah punya sopir sendiri dan mobil dinas sendiri. Semenjak itulah sesungguhnya saya sudah tidak lagi menjadikan bus umum sebagai transportasi dari dan ke Surabaya. Apalagi kala terpilih menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel, tahun 2008, maka praktis dunia bus sudah ditinggalkan. Kala wira-wiri ke manapun maka ada mobil dinas, ada sopir dan segala keperluan yang terkait dengan perjalanan. Termasuk kala pindah tugas ke Jakarta, sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam lalu ke Sekretaris Jenderal Kementerian Agama. Kemanapun pergi, maka segala keperluan perjalanan sudah disiapkan termasuk ajudan yang menemani perjalanan. Semua disiapkan dan semua okey. Jadi tinggal berangkat atau kembali ke Jakarta.
Memang ada rasa kangen untuk mengulang masa lalu. Kenapa saya tiba-tiba ingin naik bus, bahkan bus Jakarta-Surabaya yang di masa lalu biasa saya lakukan, sebelum mengenal naik pesawat terbang. Ada dorongan untuk kembali mengulang masa lalu dengan romantisme naik dan turun bus. Saya teringat harus lari-lari mengejar bus yang sudah terlewat dan kemudian dengan tergesa-gesa naik ke bus. Terutama di dekat alun-alun Tuban yang bus hanya boleh berhenti sejenak. Terutama bus dari Semarang ke Surabaya. Hanya bus Tuban-Surabaya yang boleh ngetem di situ. Padahal untuk cepat sampai ke Surabaya lebih baik naik bus Semarang-Surabaya.
Pada Sabtu, 18 Maret 2023 itulah keinginan saya untuk kembali naik bus itu terpenuhi. Saya ke rumah di Semampir, Merakurak, sementara itu istri saya, Indah, sudah di Tuban beberapa hari yang lalu. Dan karena sendirian maka saya memilih naik bus. Bukan hanya sekadar murah meriah, tetapi yang jelas saya bisa merasakan kembali naik bus antar kota. Pagi-pagi, jam 7.00 WIB, saya diantar oleh putri saya, Shiefti, ke terminal Bungurasih. Evi mewanti-wanti saya: “ayah itu sudah tidak muda lagi. Dompet dan hp taruh di dalam tas tenteng. Tasnya ditaruh di depan, biar tidak hilang barang-barangnya. Ayah hati-hati."
Rasanya seperti orang baru kala datang ke terminal. Akhirnya saya harus bertanya ke petugas informasi ke mana arah menuju bus Semarang. Maka ditunjukkan Lorong 21 untuk bus jurusan ke Semarang dengan bus yang berfasilitas AC. Bus Sinar Mandiri. Terminal Bungurasih sudah berubah. Saya lalu teringat di masa lalu kala berebut masuk bus, dan tiba-tiba didorong orang, dan HP second yang saya beli seminggu sebelumnya, merk Nokia, raib. Hati dongkol banget. Tetapi itulah realitas terminal Bungur yang memang penuh dengan pencopet dan para gelandangan.
Sekarang sudah sangat berbeda. Lorong-lorang tertata rapi. Kita tinggal mau ke mana dan lorong berapa. Semuanya sudah ditata dengan baik dengan kejelasan arah tujuannya. Tidak ada lagi keributan dan keriuhan kala naik ke dalam bus. Penumpang dengan nyaman masuk ke bus antar kota. Memang ada pengamen, ada orang jualan jajanan, tetapi tetap dalam keteraturan. Saya juga membeli onde-onde. Saya tidak bisa menahan nafsu kalau sudah ketemu onde-onde. Semua jajanan seharga Rp10.000 tiga. Nikmat juga makan jajanan di dalam bus antar kota. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak saya lakukan.
Pada pukul 9.00 WIB kendaran bergerak keluar dari terminal menuju ke jalan raya menuju tol antar kota. Sejenak berhenti di pintu keluar terminal. Di situ lalu ada pengamen, dua orang, satu memainkan gitar dan satu memainkan ketimpung. Nyaman juga mendengarkan lagunya Ariel Peterpan yang sering kita dengar di You tube. Kalau tidak salah lagunya berjudul “Aku dan Bintang”. Lagu yang biasanya saya dengar di You tube di rumah, tetapi kini saya dengar dari pengamen.
Yang sungguh menarik karena sopirnya berkopyah hitam. Kayaknya dia orang Islam ahlu sunnah wal jamaah. Pasti bukan Islam yang lain. Jika menggunakan konsep out world appearance, maka pakaian itu melambangkan apa pemahaman dan perilaku keberagamaanya. Saya yakin sebab gaya berkopyahnya pun bisa menjadi penanda bahwa dia adalah orang Islam ahlu sunnah wal jamaah. Banyak sopir bus yang menggunakan topi tetapi yang satu ini menurut saya agak berbeda. Memakai kopyah hitam.
Mungkin hanya satu catatan saya, bahwa terminal ini kurang bersih. Di sana-sini masih ada sampah berceceran, dan juga cat-catnya sudah kusam. Mungkin lama tidak terjamah oleh renovasi, sekurang-kurangnya pengecatan. Bahkan di jalan masuk dan keluar terminal hanya ada rumput yang tidak terawat. Padahal memungkinkan dijadikan taman indah karena sudah ada sarananya. Inilah yang membedakan dengan fasilitas umum di Singapura sebagai kota terbersih di dunia. Semuanya tertata dan teratur sebagai fasilitas umum.
Tidak lama, kira-kira dua jam saya sampai di Tuban. Saya berhenti di tempat yang biasa saya turun. Di patung Tuban yang sangat terkenal. “Patung-patung”, begitulah suara kenek yang mendampingi sopir yang Islam ahlu sunnah wal jamaah tersebut.
Saya turun dan sudah dijemput oleh kerabat saya, Bakir, pejabat di UTSG. Dan saya sampai di rumah Desa Semampir, Merakurak Tuban. Yang membahagiakan bertemu dengan satu-satunya orang tua saya, Emak Hajah Turmiatun. Alhamdulillah beliau sehat dan masih cantik, meskipun usianya sudah di atas 80 tahun.
Wallahu a’lam bi al shawab.

