Ghosting Dalam Hubungan, Dua Hal Ini Penyebabnya
InformasiKata Ghosting mendadak menjadi perbincangan publik belakangan ini. Bahkan tak sedikit dari anak muda pun turut menjadikan kata ‘ghosting’ sebagai kosa kata tambahan dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini bermula dari merebaknya isu hubungan asmara putra Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yaitu Kaesang Pangarep dengan kekasihnya yaitu Felicia Tissue. Kaesang dikabarkan putus kontak dengan kekasihnya tersebut tanpa ada kejelasan dan tanpa ada kabar sedikit pun. Hingga sikap dan perilaku Kaesang tersebut dilabeli ‘Ghosting.’
Ghosting merupakan suatu hal yang bentuknya tak berwujud. Namun, dapat dirasakan oleh si korban Ghosting. Demikian Fuji Astutik, M.Psi Psikolog yang juga Dosen Psikologi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengatakan, Ghosting adalah suatu keadaan yang menimpa sepasang kekasih dalam hubungan asmara. Dimana salah seorang pasangan mendadak hilang jejak tanpa memberi kabar dan kejelasan.
"Ghosting itu ya dalam suatu hubungan, salah satunya tiba-tiba menghilang tanpa ada kejelasan," ujarnya dalam forum diskusi bertema Ghosting Dan Cara Mengatasinya Secara Psikologi yang diadakan oleh Tugu Malang secara live melalui akun Instagramnya,(17/03/2021).
Ia juga menyampaikan bahwa Ghosting berbeda dengan Pemberi Harapan Palsu atau yang kerap disebut PHP. PHP adalah sebuah pemberian harapan yang dilakukan oleh seorang pasang kekasih kepada pasangannya. Hanya saja harapan tersebut tak mampu dipenuhi oleh sang kekasih.
"Diberi harapan. Harapannya tidak dipenuhi. Tapi diberi harapan lain. Akhirnya tidak mampu memenuhi," ucapnya.
Dalam tinjaun psikologi, seseorang mengalami beberapa macam luka yang meliputi yakni luka fisik, luka psikologis, dan luka batin. Sedang, Ghosting termasuk dalam luka batin. Hal ini sebagaimana disampaikan Fuji bahwa Ghosting juga dapat disebut sebagai tindakan memukul psikis seseorang atau yang disebut memukul secara psikologis yang mengakibatkan luka berkepanjangan.
"Namun, dilihat dari macam-macam luka, maka Ghosting termasuk dalam luka batin," celetuknya.
Komunikasi yang Kurang Baik
Baca Juga : Agama dan Politik Kekuasaan: Pak Jokowi dan Doa Politik
Terjadinya Ghosting dalam suatu hubungan disebabkan karena beberapa faktor dan keadaan yang melatarbelakangi. Seperti halnya disampaikan Fuji, ia menyampaikan bahwa pelaku melakukan Ghosting, salah satunya dikarenakan jalinan komunikasi yang kurang baik. Sementara, korban Ghosting kerap terjadi dikarenakan salah seorang tersebut kerap menaruh harapan lebih pada sang kekasih.
"Hingga terjadilah ketidakseimbangan. Sementara kalo dari sisi pelaku, pelaku melakukan Ghosting kustru tak merasa bahwa dirinya telah melakukan Ghosting. Hal ini dipengaruhi karena dirinya merasa tak bersalah. Akhirnya mundur pelan-pelan," jelasnya.
Ditinjau secara psikologi, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghadapi masalah. Seperti yang disampaikan Fuji, ada dua tipe orang dalam menghadapi masalah, yaitu tipe pertama, Approach yakni tipe orang saat ditimpa masalah kerap menyelesaikannya dengan mendekat. Sedang, tipe kedua, Avoid yakni tipe orang yang menghindar saat dihadapkan dengan masalah.
"Ghosting ini merupakan salah satu tipe orang yang kerap menghadapi masalah dengan menghindar atau Avoid," ucapnya.
Belum Finish Dengan Diri Sendiri
Ghosting sangat rentan menimpa seseorang yang tengah dalam keadaan luka batin ataupun psikologis yang tak kunjung sembuh. Demikian disampaikan Fuji, tipe-tipe orang yang lukanya belum sembuh akan rentan mengalami Ghosting.
"Misalnya menjadi pelaku selamanya atau korban selamanya. Jika menjadi korban selamanya. Itu artinya orang tersebut belum finish dengan dirinya sendiri. Belum belajar dari pengalaman yang terjadi sebelumnya. Selain itu, orang yang tak mampu damai dengan dirinya sendiri rentan menjadi korban ghosting. Sebab, orang tersebut kerap kali menaruh harapan dan ekspektasi lebih pada pasangan." ucapnya.
"Kalo mengutip Berkeley, apa yang kamu pikirkan. Menjadi perilaku. Menjadi kebiasaan. Dan menjadi takdir," tegasnya.
Menurut Fuji, terdapat beberapa tahapan demi tahapan yang dapat dilakukan untuk proses pemulihan korban Ghosting yakni mulai dari menelusuri latar belakang seseorang, melakukan konseling hingga perbaikan kognisi.
"Kita perlu cari tahu korban tersebut trauma apa nggak?. Selain itu dilakukan pemeriksaan psikologis. Apakah korban merasa tidak berharga dirinya setelah pasangannya ghosting?. Sehingga setelah diketahui semuanya baru bisa dilakukan perbaikan kognisi, rekonstruksi pola pikir, dan psikoterapi pada korban," pungkasnya.

