Greta Thunberg: Krisis Iklim dan Palestina Tidak Bisa Dipisahkan
InformasiEva Putriya Hasanah
Aktivis lingkungan internasional asal Swedia, Greta Thunberg, kembali menarik perhatian publik dengan pernyataannya tentang keterkaitan isu keadilan iklim dengan situasi di Palestina. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa perjuangan melawan krisis iklim tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kemanusiaan, termasuk membela hak-hak rakyat Palestina.
Greta mengaku dia masih ada pihak yang beranggapan peduli terhadap Palestina.
"Orang-orang terus bertanya kepada saya apa hubungan antara keadilan iklim dan Palestina, dan mengapa Anda peduli dengan Palestina? Saya tidak mengerti bagaimana orang-orang tidak bisa melihat hubungan itu. Dalam hal apa Palestina dan keadilan iklim tidak terhubung? Mengapa saya tidak boleh peduli dengan Palestina? Saya manusia. Saya punya nilai-nilai dasar, akal sehat," ujar Greta.
Krisis Iklim dan Krisis Kemanusiaan
Menurut Greta, krisis iklim bukan hanya tentang menyelamatkan pohon atau spesies langka, tetapi pada dasarnya berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan manusia. Itulah alasannya ia memandang kondisi Palestina sebagai bagian yang tidak bisa terancam dari isu keadilan iklim global.
“Saya bukan aktivis iklim karena saya ingin menyelamatkan pohon atau katak… Saya aktivis iklim karena saya peduli terhadap kesejahteraan manusia dan planet,” jelasnya.
Baca Juga : Hubungan Antara Ketersediaan Pangan dan Keamanan Nasional
Ia menyoroti bagaimana perang dan penduduk di Palestina telah menyebabkan kerusakan ekologi yang masif. Mulai dari ekosistem lahan pertanian, degradasi lingkungan, hingga emisi besar akibat perang, yang semuanya disebut Greta sebagai bentuk “perang ekologis”.
“Dengan menghancurkan semua kondisi yang mendukung dan menopang kehidupan, misalnya dengan menghancurkan lahan pertanian, dan hanya ekosida murni, adalah salah satu cara perang ekologi untuk merampas sumber daya kehidupan Palestina,” katanya.
Ekologi dalam Bayang-bayang Konflik Palestina
Konflik konflik di Palestina memang tidak hanya berdampak pada aspek politik dan sosial, tetapi juga lingkungan hidup. Sejumlah penelitian mencatat adanya kerusakan lahan pertanian, pencemaran udara bersih, penggundulan lahan, serta peningkatan limbah dan dampak polusi aktivitas militer. Dalam perspektif ekologi politik, kerusakan ini bukan sekedar dampak sampingan, tetapi sering digunakan sebagai strategi untuk membahayakan kelangsungan hidup masyarakat sipil.
Bagi Greta, kondisi ini menampilkan bagaimana isu iklim dan konflik bersenjata saling terkait. Keadilan iklim tidak hanya berbicara tentang pengurangan emisi global, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat di wilayah konflik tidak memberikan haknya untuk hidup layak di lingkungan yang sehat.
Gaza dan Panggilan Moral
Greta juga menampilkan tragedi kemanusiaan di Gaza yang menampilkan penderitaan masyarakat sipil akibat perang. Baginya, jika dunia bisa membiarkan hal itu terjadi tanpa rasa kemanusiaan, maka sulit berharap dunia yang sama mau bersatu menghadapi ancaman kerusakan ekologis.
“Bahkan jika kita begitu egois melihat gambar-gambar dari Gaza, orang-orang yang mencari bagian tubuh anggota keluarga mereka yang hilang di antara penghidupan, jika itu tidak menghancurkan hati kita dan memotivasi kita untuk bertindak, bagaimana kita bisa mengharapkan dunia yang membiarkan hal ini terjadi untuk bertindak mencegah kerusakan ekologi dan iklim?” ucapnya.
Greta menekankan bahwa kepedulian terhadap planet harus sejalan dengan kepedulian terhadap manusia. Krisis iklim, menurutnya, tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis atau lingkungan semata, tetapi juga dengan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Gerakan Global yang Terhubung
Pernyataan Greta ini sejalan dengan pandangan sejumlah aktivis lingkungan dan hak asasi manusia yang melihat adanya keterkaitan antara perjuangan iklim, kolonialisme, dan konflik bersenjata. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivis di berbagai negara menyoroti bahwa perampasan lahan, eksploitasi sumber daya, dan militerisasi wilayah sering kali beriringan dengan krisis ekologi.
Dengan demikian, dukungan Greta pada Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan bagian dari visi yang lebih luas: membangun dunia yang adil, baik secara ekologis maupun kemanusiaan.

